Riset: Menyiksa Warga Palestina Merupakan Kenikmatan Bagi Para Prajurit

Mon Oct 22, 2007 11:33 pm (PST)

(dari milis ppindia):

Riset: Menyiksa Warga Palestina Merupakan Kenikmatan Bagi Para Prajurit
Israel Senin, 22 Okt 07 10:53 WIB

Para tentara Israel ternyata memang sangat menikmati melakukan penyiksaan
terhadap warga Palestina, baik laki-laki maupun perempuan. Penyiksaan itu
mereka lakukan hanya untuk melepaskan energi mereka yang berlebih.
Hal ini terungkap dari hasil riset yang dilakukan Nufar Yishai-Karin, pakar
psikologi klinis di Universitas Hebrew. Dalam risetnya, ia melakukan
wawancara dengan 18 tentara dan tiga pegawai sipil Israel, yang bertugas di
basis militer Israel di Rafah, Jalur Ghaza. Dari para narasumbernya itu, ia
mendapatkan pengakuan bahwa penyiksaan brutal terhadap warga Palestina
merupakan aktivitas rutin para tentara Israel.

“Pada satu titik atau suatu saat dalam masa tugas mereka, mayoritas tentara
yang diwawancarai mengaku senang melakukan kekerasan, ” kata Nufar
Yishai-Karin pada The Observer, edisi hari Minggu (21/10).
Setelah pensiun dari kemiliteran Israel, Yishai-Karin menghabiskan waktu
tujuh tahun untuk meneliti perilaku kejam para prajurit Israel, sejak pecah
gerakan intifada tahun 1980-an dan 1990-an.

Beberapa prajurit, pada Yishai-Karin mengungkapkan betapa mereka menikmati
kekuasaan yang tak terbatas saat melakukan penyiksaan terhadap warga
Palestina. “Ini seperti candu. Jika saya tidak pergi ke Rafah dan jika di
sana tidak ada keributan sekali saja dalam seminggu, saya jadi gila, ” kata
seorang prajurit.

Buat sejumlah prajurit Israel, memukul warga Palestina membuat diri mereka
menjadi seperti orang penting. “Anda akan merasa bahwa Andalah yang memegang
hukum. Andalah yang memutuskan, Anda adalah tuhannya, ” aku seorang prajurit
lainnya.

Tentara yang lain, mengakui bahwa mereka bebas melakukan tindakan apapun
terhadap warga Palestina tanpa ada larangan. Seorang prajurit mencontohkan
ketika tentara Israel menembak begitu saja seorang warga Palestina yang
sedang melintas di jalan.

“Kamis sedang dalam kendaraan pengangkut senjata, ketika laki-laki Palestina
yang berusia sekitar 25 tahun, melintas di jalan. Laki-laki itu, tidak
melempar batu, tidak melakukan apapun, ketika ‘bang’ tentara Israel menembah
begitu saja, tanpa alasan ke perut laki-laki itu hingga ia tergeletak di
trotoar, dan kami berlalu begitu saja, tanpa menengok ke belakang lagi, “
tutur prajurit tadi.
Lain lagi pengakuan seorang prajurit yang mengatakan bahwa bukan persoalan
baginya menyiksa perempuan warga Palestina. Menurutnya, ia pernah memukuli
seorang perempuan Palestina, gara-gara perempuan itu melemparnya dengan
sendal.

“Saya tendang dia bagian ini (sambil menunjuk ke arah selangkangan) , saya
patahkan, dia jadi tidak bisa punya anak, ” tuturnya tanpa rasa bersalah.

Dari riset yang dilakukannya, Yishai-Karin menemukan fakta bahwa para
prajurit Israel melakukan penyiksaan dan kekejaman terhadap warga Palestina,
sejak minggu-minggu pertama mereka dilatih sebagai tentara.

Para tentara yang ditanyainya mengaku bahwa para komandan mereka mendorong
mereka untuk bertindak brutal terhadap warga Palestina yang tidak berdaya.
Para prajurit itu menceritakan bagaimana sejumlah komandan baru, di hari
pertama bertugas memukuli seorang anak lelaki Palestina berusia empat tahun.

“Kami melakukan patroli pertama dengan seorang komandan. Saat itu jam enam
pagi, Rafah di bawah status jam malam. Ada empat orang anak sedang main
pasir. Mereka sedang membuat istana dari pasir, ” kisah seorang prajurit
Israel.

Ia melanjutkan, “Tiba-tiba, komandan menarik seorang anak, dia mematahkan
pergelangan tangak dan kaki anak itu, serta menginjak perutnya sebanyak tiga
kali. Kemudian kemudian itu pergi begitu saja. “

Hasil penelitian Yishai-Karin yang dipublikasikan sejumlah media massa di
Israel, membuat syok warga Israel yang selami ini meyakini bahwa tentara
mereka mendapatkan pendidikan etika terbaik dibandingkan tentara-tentara
negara lainnya di dunia.(ln/iol)

<haryo_wicaksono@sigma.co.id>