Subject: Jumlah Muallaf Jerman Meningkat Pesat

Subject: Jumlah Muallaf Jerman Meningkat Pesat

dari majalah Al Falah Juni 2007, terbit di surabaya indonesia (yayasan YSDF,
yayasan dana sosial Alfalah)

Referensi asli berbahasa jerman, termasuk videonya, bisa dilihat di:

http://www.3sat. de/3sat.php? http://www. 3sat.de/vivo/ 106816/index. html

http://www.abendbla tt.de/daten/ 2007/01/29/ 678751.html

Jumlah Muallaf Jerman Meningkat Pesat

Kai Lühr kini telah menjadi seorang muslim taat. Dokter asli Jerman
berusia 46 tahun ini bersama isterinya, Catherine Lühr, merupakan dua
di antara ribuan orang di Jerman yang baru memeluk Islam. Selain itu,
ada pula Nils von Bergner, seorang pengacara berumur 36 tahun yang
tinggal di kota Hamburg, Jerman, yang juga telah menemukan Islam
sebagai jalan hidupnya.

Kedua orang ini mewakili masyarakat Jerman
dari kalangan menengah ke atas yang menemukan kebenaran Islam. Mereka
menjalankan Islam sebaik-baiknya, termasuk sholat lima waktu, meskipun
dengan menggelar sajadah di ruangan kerja mereka. Kedua orang ini
sempat menjadi buah bibir media massa cetak maupun televisi yang
mengulas fenomena yang tak terduga ini di Jerman, di mana Islam tidak
jarang digambarkan oleh media massa sebagai teroris, fundamentalis
serta beragam gambaran buruk lainnya.

Sebagaimana diberitakan harian Hamburger Abendblatt terbitan 29
Januari 2007, di seluruh Jerman dalam rentang waktu Juli 2005 – Juni
2006 terdapat sekitar 4000 orang yang masuk Islam. Sebanyak 17.200
warga Jerman, yang masuk Islam setelah sebelumnya menganut Nasrani,
saat ini tinggal di Jerman. Demikian hasil penelitian yang dilakukan
lembaga “Das Islam-Archiv” atas permintaan kementrian dalam negeri
pemerintah federal Jerman.

Islam: masuk akal dan memiliki arahan yang jelas

Fakta bahwa para muallaf datang dari kalangan berpendidikan dan
intelektual seperti dokter Kai Lühr dan pengacara Nils von Bergner
mengisyaratkan satu hal: Islam adalah agama yang dapat diterima akal.

Demikianlah yang dituturkan Kai Lühr sebagaimana disiarkan stasiun
televisi 3Sat: “Islam adalah agama pertama, yang menurut saya memiliki
penjelasan yang pasti dan masuk akal tentang masalah ketuhanan.”
Ia menambahkan, “Islam bermakna penyerahan diri kepada satu Tuhan. Dan
Muslim bermakna menghamba kepada Tuhan yang Esa ini.”

Lain halnya dengan Nils von Bergner, satu dari lebih dari 350 warga
Hamburg yang masuk Islam di tahun 2005. Dia punya cerita lain tentang
perjalanannya menuju Islam, sebagaimana kisahnya kepada stasiun
televisi NDR yang disiarkan 26 Maret 2007.

Ia mengaku sebagai orang
yang senantiasa mengimani Tuhan, dan beribadah kepadaNya. “Namun di
satu sisi saya tidak merasa bahagia, saya selalu memiliki perasaan
bahwa saya membalas kebaikan Tuhan terlalu sedikit,” katanya saat
mengisahkan masa lalu perjalanannya menuju Islam. “Dan itulah alasan
kenapa saya pernah bertutur, bahwa jika sudah memeluk Islam, saya
benar-benar ingin lima kali sehari mengingat dan memanjatkan doa dan
mendapatkan kesempatan untuk berterimakasih kepada Tuhan.”

Sebenarnya bisa saja ia tetap beragama Kristen dan melakukan ibadah.
Namun ternyata tidaklah demikian. Ia melanjutkan kisahnya, “Ketika
seseorang mempelajari Al Quran dan berkata, saya meyakininya sebagai
Firman Tuhan, maka, setidaknya menurut pandangan saya, konsekuensi
logisnya berarti: Saya menerima Islam. Jadi bagi saya aneh untuk
berkata: Saya percaya bahwa Al Quran itu asli, tapi saya tetap memeluk
Kristen. Ini menurut saya tidak benar.”

Aturan dan arahan yang jelas dalam Islam menjadi salah satu daya tarik
tersendiri bagi pemeluk Nasrani Jerman. Hal ini diamini oleh Nils.
“Ajaran dasar sopan santun dan akhlaq dalam Islam dan Kristen adalah
sama. Agama saya sekarang sekedar lebih lengkap. Kini saya memiliki
perasaan hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan”, tuturnya kepada
harian Hamburger Abendblatt yang juga memaparkan niatan Nils berniat
untuk melaksanakan ibadah Haji ke Mekkah di suatu hari nanti. (ah,
koresponden Majalah Al Falah di Eropa)

____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
Haben Spinnen Ohren? Finden Sie es heraus – mit dem MSN Suche Superquiz via
http://www.msn- superquiz. de Jetzt mitmachen und gewinnen!

<haryo_wicaksono@sigma.co.id>

Mengapa Islam Mengharamkan Babi (Terjemahan)

Mengapa Islam Mengharamkan Babi (Terjemahan)

Berikut ini tulisan mengenai pengharaman darah dan babi dalam Islam,
diulas dari sudut pandang logika dan ilmu kesehatan. Semoga bermanfaat.
Disadur ke Bahasa Indonesia dari jurnalnya idan, yang diambil dari
mhaniff.

Bob: Tolong beritahu saya, mengapa seorang Muslim sangat mementingkan
mengenai kata-kata “Halal” dan “Haram” apa arti dari kata-kata tersebut?
Yunus: Apa-apa yang diperbolehkan diistilahkan sebagai Halal, dan apa-apa
yang tak diperbolehkan diistilahkan sebagai Haram, dan Al-Qur’an lah yang
menggambarkan perbedaan antara keduanya.

Bob: Dapatkah anda memberikan contoh?

Yunus: Ya, Islam telah melarang segala macam darah. Anda akan sependapat
bahwa analisis kimia dari darah menunjukkan adanya kandungan yang tinggi
dari uric acid (asam urat?), suatu senyawa kimia yang bisa berbahaya bagi
kesehatan manusia.

Bob: Anda benar mengenai sifat beracun dari uric acid, dalam tubuh
manusia, senyawa ini dikeluarkan sebagai kotoran, dan dalam kenyataannya
kita
diberitahu bahwa 98% dari uric acid dalam tubuh, dikeluarkan dari dalam
darah oleh Ginjal, dan dibuang keluar tubuh melalui air seni.

Yunus: Sekarang saya rasa anda akan menghargai metode prosedur khusus
dalam penyembelihan hewan dalam Islam.

Bob: Apa maksud anda?

Yunus: Begini… seorang penyembelih, selagi menyebut nama dari Yang Maha
Kuasa, membuat irisan memotong urat nadi leher hewan, sembari membiarkan
urat-urat dan organ-organ lainnya utuh.

Bob: Oh begitu… Dan hal ini menyebabkan kematian hewan karena kehabisan
darah dari tubuh, bukannya karena cedera pada organ vitalnya.

Yunus: Ya, sebab jika organ-organ, misalnya jantung, hati, atau otak
dirusak, hewan tersebut dapat meninggal seketika dan darahnya akan
menggumpal dalam urat-uratnya dan akhirnya mencemari daging. Hal tersebut
mengakibatkan daging hewan akan tercemar oleh uric acid, sehingga
menjadikannya beracun; hanya pada masa kini lah, para ahli makanan baru
menyadari akan hal ini.

Bob: Selanjutnya, selagi masih dalam topik makanan; Mengapa para Muslim
melarang pengkonsumsian daging babi, atau ham, atau makanan lainnya yang
terkait dengan babi?

Yunus: Sebenarnya, diluar dari larangan Al-Qur’an dalam pengkonsumsian
babi, bacon; pada kenyataannya dalam Bible juga, pada Leviticus/ Immamat
bab 11, ayat 7 dan Ulangan 14:8, mengenai babi, dikatakan, “Dari daging
mereka (dari “swine”, nama lain buat “babi”) janganlah kalian makan, dan
dari bangkai mereka, janganlah kalian sentuh; mereka itu kotor buatmu.”

Lebih lanjut lagi, apakah anda tahu kalau babi tidak dapat disembelih di
leher karena mereka tidak memiliki leher; sesuai dengan anatomi
alamiahnya? Muslim beranggapan kalau babi memang harus disembelih dan
layak
bagi
konsumsi manusia, tentu Sang Pencipta akan merancang hewan ini dengan
memiliki leher.
Namun di luar itu semua, saya yakin anda tahu betul mengenai efek-efek
berbahaya dari komsumsi babi, dalam bentuk apapun, baik itu pork chops,
ham, atau bacon.

Bob: Ilmu kedokteran mengetahui bahwa ada resiko besar atas banyak macam
penyakit. Babi diketahui sebagai inang dari banyak macam parasit dan
penyakit berbahaya.

Yunus: Ya, dan di luar itu semua, sebagaimana kita membicarakan mengenai
kandungan uric acid dalam darah, sangat penting untuk diperhatikan bahwa
sistem biochemistry babi mengeluarkan hanya 2% dari seluruh kandungan
uric acidnya, sedangkan 98% sisanya tersimpan dalam tubuhnya.

Mohon diteruskan kepada semua rekan Muslim dan Non-Muslim… Ini dapat
menjawab sebagian pertanyaan mereka, khususnya kala non-Muslim bertanya
mengapa ummat Islam tidak boleh mengkonsumsi babi.

Sumber: Ibrahim Ali Ahmad
(Isi diluar tanggung jawab penyadur)

============================================================================

=======

Why the Muslim can’t eat pork

This was taken from Haniff’s journal… and i wanna share it in my
network…
Some explaination about Why the Muslim can’t eat Pork or any pig or
swine based meat….

Bob: Tell me why is it that a Muslim is very particular about the words
Halal and Haram; what do they mean?

Yunus: That which is permissible is termed Halal and that which is not
permissible is termed Haram and it is the Quran which draws the
distinction between the two.

Bob: Can you give me an example?

Yunus: Yes, Islam has prohibited blood of any type. You will agree that
a chemical analysis of blood shows that it contains an abundance of uric
acid, a chemical substance which can be injurious to human health.

Bob: You’re right about the toxic nature of uric acid, in the human
being it is excreted as a waste product and in fact we are told that 98%
of
the body’s uric acid is extracted from the blood by the kidneys and
removed
through urination.

Yunus: Now I think that you’ll appreciate the special prescribed method
of animal slaughter in Islam.

Bob: What do you mean?

Yunus: You see, the wielder of the knife, whilst taking the name of the
‘Almighty’, makes an incision through the jugular veins, leaving all
other veins and organs intact.

Bob: I see, this causes the death of the animal by a total loss of blood
from the body, rather than an injury to any vital organ.

Yunus: Yes, were the organs, example the heart, the liver, or the brain
crippled or damaged, the animal could die immediately and its blood
would congeal in its veins and would eventually permeate the flesh. This
implies that the animal flesh would be permeated and contaminated with
uric
acid
and therefore very poisonous; only today did our dietitians realize
such a thing.

Bob: Again, while on the topic of food; Why do Muslims condemn the
eating of pork or ham or any foods related to pigs or swine.

Yunus: Actually, apart from the Quran prohibiting the consumption of
pork, bacon(pig flesh); in fact the Bible too in Leviticus chapter 11,
verse
8, regarding swine it says, “of their flesh (of the swine, another name
for
pig) shall you not eat, and of their carcass you shall not touch; they
are unclean to you.”

Further, did you know that a pig cannot be slaughtered at the neck for
it does not have a neck; that is according to its natural anatomy. A
Muslim
reasons that if the pig was to be slaughtered and fit for human
consumption
the Creator would have provided it with a neck.
Nonetheless, all that aside, I am sure you are well informed about the
harmful effects of the consumption of pork, in any form, be it pork
chops,ham,bacon.

Bob: The medical science finds that there is a risk for various
diseaseas the pig is found to be a host for many parasites and potential
diseases.

Yunus: Yes, even apart from that, as we talked about uric acid content
in the blood, it is important to note that the pig’s biochemistry excretes
only 2% of its total uric acid content, the remaining 98% remains as an
integral part of the body.

Please forward to all your Muslim and Non- muslim friends.. it may
answer some of their questions especially when the non-Muslim ask why a
Muslim

don’t eat pork

Source: Ibrahim Ali Ahmad