Audit Ramadhan

From: akhi Fachim On Behalf of Fachim

Message: Audit Ramadhan

Sumber : Amri Knowledge Entrepreneur

Audit Ramadhan
Alhamdulillah, salah satu fungsi
bulan Ramadhan adalah bulan audit diri,
dan fungsi audit adalah untuk mengetahui
apa saja yang sudah dikerjakan, apa saja
yang belum dikerjakan dan apa saja yang
harus diperbaiki.

Ada enam hal yang bisa kita audit dan
perbaiki di bulan ramadhan ini.
Kesempatan ini kita akan mengaudit
dengan pendekatan doa Rabbana atinna
fidunya hasanah wafil akhirati khasanah
wakina adhabannar yaitu Ya Allah
berilah hambamu kebaikan didunia dan
kebaikan di akhirat serta jauhkanlah
hamba-Mu ini dari api neraka.

Beberapa ulama menyebutkan bahwa dunia
yang baik itu indikatornya ada enam
yaitu: Punya istri atau suami yang
shaleh, anak-anak shaleh dan shalehah,
badan sehat, rizki halal, tetangga baik,
dan ilmu yang bermanfaat. Mari kita
audit kehidupan kita selama setahun di
bulan Ramadhan ini:

PERTAMA, punya istri atau suami yang
baik; Ada empat kwadran yang bisa kita
lihat dalam posisi ini yaitu (1) Kwadran
pertama adalah suami sangat shaleh dan
istri sangat shalehah, dalam Al-Quran
bisa kita lihat contohnya yaitu keluarga
Imran dan keluarga Rasulullah saw; (2)
Kwadran kedua adalah suami sangat shaleh
dan istri tidak shaleh, dalam Al-Quran
bisa kita lihat contohnya yaitu keluarga
Nabi Nuh as dan keluarga Nabi Lut as;
(3) Kwadran ketiga adalah suami sangat
tidak shaleh dan bahkan ngaku tuhan dan
istri sangat shalehah, dalam Al-Quran
bisa kita lihat yaitu keluarga Firaun
dengan istri sangat shalehan yaitu Siti
Asyiah. Dan wanita ini merupakan salah
satu dari tiga wanita yang dikagumi oleh
Rasulullah SAW selain Siti Khatijah dan
Siti Fatimah dan (4) Kwadran keempat
adalah suami tidak shaleh dan istri juga
tidak shalehah, dalam Al-Quran juga bisa
kita lihat yaitu keluarga Abu Lahab.

KEDUA, punya anak-anak yang shaleh.
Kalau ini yang perlu dipetakan adalah
(1) Orang tua sangat baik dan anak
sangat baik ini adalah rumahku surgaku
(2) Orang tua sangat baik dan anak-anak
sangat tidak baik, seningga orang tua
tidak bangga anak (3) Orang tua sangat
kurang baik dan anak-anak sangat baik,
sehingga orang tua tidak dikagumi oleh
anak-anaknnya. (4) Orang tua sangat
tidak baik dan anak-anak juga sangat
tidak baik, ini adalah keluarga rumahku
nerakaku.

KETIGA, punya badan sehat, Rasulullah
saw selama hidupnya sangat sehat. Beliau
dari lahir sampai beliau wafat hanya
sekali sakit berat yaitu ketika beliau
akan meninggal. Sedangkan kita dari
lahir sampai mau meninggal sakit terus
dan baru sembuh sebentar kemudian
meninggal. Walaupun ini bukan meneliti
tentang Rasulullah saw, tapi ada
penelitian yang sangat menarik bahwa
orang yang rajin tahajud jauh lebih
sehat dibanding yang jarang atau tidak
pernah tahajud, dan orang yang
tahajudnya ikhlas jauh lebih sehat
dibanding yang tidak ikhlas. Misalnya
tahajud hanya karena ada kepetingan
tertentu. Kalau dilihat dari penelitan
ini, dikaitkan dengan aktivitas
Rasulullah saw, memang beliau tidak
pernah meninggalkan tahajud dan sangat
ikhlas menghadapi kehidupannya. Jadi
kalau kita sering sakit-sakitan, salah
satu penyebabnya dalah jarang tahajud,
kalau ramadhan namanya tarawih dan
kurang ikhlas dalam menjalani hidup ini.

KEEMPAT, punya rizki yang halal, semoga
kita termasuk orang yang punya rizki
halal. Pertanyaannya adalah rizki halal
yang selama ini kita dapat sudah pada
posisi yang mana? Apakah mendapat rizki
halal karena prestatif, mendapat rizki
halal karena belas kasihan atau mendapat
mendapat rizki halal karena sebel yaitu
mendapat rizki halal dengan cara
menyebabkan orang lain sebel.

Kelima, punya tetangga baik. Ketika kita
berkeinginan untuk punya tetangga yang
baik, maka kita juga harus bertanya,
apakah kita termasuk tetangga yang baik
bagi orang tetangga dan orang lain.
Sebab Rasulullah mengingatkan bukan
termasuk orang beriman kalau dirinya
kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.
Sering-seringlah memberi walaupun hanya
kikil kambing. Kalau membuat sayur
perbanyak kuahnya dan lain sebagainya.

Keenam, punya ilmu bermanfaat, ilmu yang
bermanfaat adalah ilmu yang bisa
mengikuti perkembangan zaman. Oleh
karena itu, Ramadhan harus kita jadikan
ajang kompetitif keilmuan agar kita
tidak ditertawakan zaman dan akhirnya
ditinggalkan zaman.

Sahabat CyberMQ

Semoga menyambut bulan Ramadhan ini,
kita bisa mengaudit keenam indikator
secara jujur dan benar. Sehingga kita
akan tahu peta kehidupan kita untuk
beraktivitas secara benar dan prestatif
setelah Ramadhan nanti; Pertanyannya
adalah (1) Apakah kita sudah menjadi
suami atau istri yang baik dan bagi yang
belum berkeluarga apakah sudah
bersungguh-sungguh menyiapkan diri untuk
menjadi calon suami dan istri yang baik;
(2) Apakah kita sudah mempunyai
anak-anak yang baik dan apakah kita juga
sudah bersungguh-sungguh untuk menjadi
anak-anak yang baik bagi orang tua kita;
(3) Apakah kita sudah mempunyai badan
yang sehat, kemudian aktivitas apa saja
yang harus dilakukan agar badan kita
sehat dan tidak menjadi beban banyak
orang; (4) Apakah kita sudah punya rizki
yang halal, syukur kalau banyak agar
bisa membayarkan hutang orang-orang yang
terlilit hutang, memberi bea siswa
kepada banyak orang dan membantu
keuangan bagi yang memerlukan; (5)
Apakah kita sudah punya tetangga dan
teman yang baik. Begitu juga apakah kita
termasuk menjadi tetangga dan teman yang
baik bagi orang lain. (6) Apakah kita
sudah mempunyai ilmu yang bermanfaat,
sehingga punya kemampuan untuk mengikuti
perkembangan zaman, agar tidak tergilas
oleh zaman

Berani hadapi tantangan kejujuran untuk
mengaudit diri dan bersungguh-sungguh
untuk memperbaiki keenam indikator itu.
Semoga kita mendapat dunia yang baik,
akherat baik dan jauh dari api neraka.
Berani hadapi tantangan auditing di
bulan ramadhan ini??? Bagaimana pendapat
sahabat!!!

CyberMQ is a group in Daarut Tauhid Inc.

haryo_wicaksono@sigma.co.id

FATWA ASY-SYAIKH AL-ALBANI TENTANG DUA HARI RAYA

FATWA ASY-SYAIKH AL-ALBANI TENTANG DUA HARI RAYA
BERSAMA PEMERINTAH

“Puasa itu adalah di hari kalian (umat Islam)
berpuasa, berbuka adalah pada saat kalian berbuka, dan
berkurban/ Iedul Adha di hari kalian berkurban.” [HR.
at-Tirmidzi no. 697, dishohihkan oleh asy-
Syaikh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shohihah no.
224]

FIQIH HADITS :

At-Tirmidzi berkata : “dan sebagian ahli ilmu
menafsirkan hadits ini, mereka berkata : makna hadits
ini adalah berpuasa dan berbuka adalah bersama jama’ah
dan mayoritas orang (Ummat Islam).”

Ash-Shon’ani berkata dalam Subulus Salam (2/27) :
“Pada hadits ini ada dalil bahwa yang teranggap dalam
menetapkan hari raya adalah kebersamaan manusia. Dan
bahwasanya seorang yang menyendiri dalam mengetahui
masuknya hari raya dengan melihat hilal tetap wajib
mengikuti kebanyakan manusia. Hukum ini harus dia
ikuti, apakah dalam waktu shalat, ber’iedul Fithri
atau pun berkurban”.

Ibnul Qayyim menyebutkan makna hadits ini dalam
Tahdzibus Sunan (3/214): “Dikatakan bahwa pada hadits
ini terdapat bantahan atas orang yang berkata:
“Sesungguhnya barangsiapa yang melihat munculnya bulan
dengan mengukur tempat-tempat terbitnya (cara hisab),
boleh baginya berpuasa dan beriedul Fithri sendiri,
tidak seperti orang yang tidak mengetahuinya” .
Dikatakan bahwa seorang yang melihat munculnya hilal
sendirian, tetapi hakim tidak menerima persaksiannya,
maka dia tidak boleh berpuasa sebagaimana manusia pun
belum berpuasa”.

Al-Imam Abul Hasan As-Sindi berkata dalam kitabnya
Hasyiyah ‘ala Sunan Ibni Majah setelah menyebutkan
hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan at-Tirmidzi :
“Yang jelas, makna hadits ini adalah bahwasanya
perkara-perkara semacam ini (menentukan awal Ramadhan,
Iedul Fithri dan Iedul Adha, pent) keputusannya
bukanlah di tangan individu. Tidak ada hak bagi mereka
untuk melakukannya sendiri-sendiri. Bahkan
permasalahan semacam ini dikembalikan kepada penguasa/
pemerintah dan mayoritas umat Islam. Dalam hal ini,
setiap individu pun wajib untuk mengikuti penguasa dan
mayoritas umat Islam.
Maka jika ada seseorang yang melihat hilal namun
penguasa menolak persaksiannya, sudah sepatutnya untuk
tidak dianggap persaksian tersebut dan wajib baginya
untuk mengikuti mayoritas umat Islam dalam
permasalahan itu.”

Aku (al-Albani) katakan : “Makna inilah yang terambil
dari hadits tersebut. Diperkuat makna ini dengan
hujjah Aisyah terhadap Masruq yang melarang puasa pada
hari Arafah karena khawatir pada saat itu hari
nahr/berkurban (yakni, sudah ‘iedul Adha, pent), lalu
‘Aisyah menerangkan kepadanya bahwa pendapatnya tidak
dianggap dan wajib atasnya untuk mengikuti jama’ah.
Aisyah berkata :

“Nahr adalah hari manusia menyembelih kurban dan Iedul
Fithri adalah hari manusia berbuka.”[1]

Aku (al-Albani) katakan : Inilah yang sesuai dengan
syariat (Islam) yang toleran, yang diantara misinya
adalah mempersatukan umat manusia, menyatukan barisan
mereka serta menjauhkan mereka dari
segala pendapat pribadi yang memicu perpecahan.
Syariat ini tidak mengakui pendapat pribadi –meski
menurut yang bersangkutan benar dalam ibadah yang
bersifat kebersamaan seperti; shaum, Ied, dan shalat
berjamaah. Tidakkah engkau melihat bahwa sebagian
shahabat radhiallahu ‘anhum shalat bermakmum di
belakang shahabat lainnya, padahal sebagian mereka ada
yang berpendapat bahwa menyentuh wanita, menyentuh
kemaluan, dan keluarnya darah dari tubuh termasuk
pembatal
wudhu, sementara yang lainnya tidak berpendapat
demikian?! Sebagian mereka ada yang shalat secara
sempurna dalam safar dan diantara mereka pula ada yang
mengqasharnya. Namun perbedaan itu tidaklah
menghalangi mereka untuk melakukan shalat berjamaah di
belakang seorang imam dan tetap berkeyakinan bahwa
shalat tersebut sah. Hal itu karena adanya pengetahuan
mereka bahwa bercerai-berai dalam urusan agama lebih
buruk daripada sekedar berbeda pendapat. Bahkan
sebagian mereka mendahulukan pendapat penguasa
daripada pendapat pribadinya pada saat berkumpulnya
manusia seperti di Mina. Hal itu semata-mata untuk
menghindari kesudahan buruk (terjadinya perpecahan)
bila dia tetap mempertahankan pendapatnya. Sebagaimana
diriwayatkan
oleh Al-Imam Abu Dawud (1/307), bahwasanya Khalifah
`Utsman bin `Affan radhiallahu ‘anhu shalat di Mina 4
rakaat. Maka shahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu
‘anhu mengingkarinya seraya
berkata: “Aku dulu shalat bersama Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, Abu Bakr, `Umar dan di awal
pemerintahan `Utsman 2 rakaat, dan setelah itu `Utsman
shalat 4 rakaat. Kemudian terjadilah perbedaan
diantara kalian, dan harapanku dari 4 rakaat shalat
itu yang diterima adalah yang 2 rakaat darinya.”
Namun ketika di Mina, shahabat Abdullah bin Mas’ud
justru shalat 4 rakaat. Maka dikatakanlah kepada
beliau: “Engkau telah mengingkari `Utsman atas
shalatnya yang 4 rakaat, kemudian engkau
shalat 4 rakaat pula?!” Abdullah bin Mas’ud berkata:
“Perselisihan itu jelek.” Sanadnya shahih.
Diriwayatkan pula oleh Al-Imam Ahmad (5/155) seperti
riwayat di atas dari shahabat Abu Dzar
radhiallahu ‘anhum ajma’in.

Hendaknya hadits dan atsar ini benar-benar dijadikan
bahan renungan oleh orang-orang yang selalu
berpecah-belah dalam urusan shalat mereka serta tidak
mau bermakmum kepada sebagian imam masjid, khususnya
shalat witir di bulan Ramadhan dengan dalih bahwa
keadaan para imam itu beda dengan madzhab mereka!
Demikian pula orang-orang yang bershaum dan berbuka
sendiri, baik mendahului mayoritas kaum muslimin atau
pun mengakhirkannya dengan dalih mengerti ilmu falaq,
tanpa peduli harus berseberangan dengan kebanyakan
kaum muslimin. Hendaknya mereka semua mau merenungkan
ilmu yang telah kami sampaikan ini. Dan semoga ini
bisa menjadi obat bagi kebodohan dan kesombongan yang
ada pada diri mereka. Dengan harapan agar mereka
selalu dalam
satu barisan bersama saudara-saudara mereka kaum
muslimin, karena tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala
bersama Al-Jama’ah.”

[Terjemahan dari fiqih hadits no. 224 dalam
as-Silsilah ash-Shohihah oleh asy-Syaikh Muhammad
Nashiruddin al-Albani -rahimahullah- , http://tholib.
wordpress. com]

[1] Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dari jalan Abu
Hanifah, Ia berkata:
Menyampaikan kepadaku Ali bin Aqmar, dari Masruq,
bahwa ia mendatangi rumah Aisyah pada hari Arafah
(dalam keadaan tidak berpuasa –pent.).
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Berilah Masruq
minuman dan perbanyaklah halwa untuknya!” Masruq
berkata: “Tidaklah menghalangiku untuk berpuasa pada
hari ini, kecuali aku khawatir hari ini adalah hari
raya nahr (iedul Adha). Maka Aisyah pun berkata:”Hari
raya Nahr adalah hari manusia menyembelih, dan iedul
Fithri adalah hari ketika manusia berbuka (yakni tidak
lagi berpuasa).”
[Syaikh al-Albani berkata : 'sanad ini jayyid', lihat
ash-Shohihah no. 224, pent]
———— ——— ——— ——— ———
——— ——— ——— —–
Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Mr Luthfi Sulandjana <ridoluth78@yahoo.com>

GENERAL AUDIT UMUR KITA

GENERAL AUDIT UMUR KITA

 

Berikut sedikit ringkasan hasil general audit atas umur kita, tinggal pilih opini masing2, bisa unqulified,adverse atau bahkan disclaimer.

Waktu yang terlupa menabur bencana



Rata-rata manusia meninggal dunia antara usia 60 thn-70thn (mayoritas)
Pukul rata manusia meninggal
± 65 th


“Baligh:
Start untuk seseorang di perhitungkan amal baik atau buruknya selama hidup di dunia”
Laki-laki Baligh
± 15 tahun
Wanita Baligh 
± 12 tahun

Usia
Yang tersisa untuk kita beribadah kepada-Nya kita pukul rata dengan rumus :
MATI-BALIGH=
sisa USIA……………..65-15= 50 tahun

 
12 jam siang hari

12 jam malam hari

24 jam satuhari satumalam

Waktu kita tidur ± 8 jam/hari

Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai tidur 18250 hari x 8 jam= 146000 jam=16 tahun7 bulan…………di bulatkan jadi 17 tahun

Logikanya:
Alangkah sayangnya waktu 17 tahun habis di gunakan untuk tidur, padahal kita akan tertidur  dari dunia untuk selamanya………………………

Catatan
: Yang lebih bermasalah lagi bagi mereka yang tumor alias tukang molor bisa jadi 12 jam/hari =25 tahun habis tertidur!!! Hati-hati dengan penyakit “TUMOR”

Waktu aktivitas kita di siang hari
± 12 jam
Dalam 50 tahun waktu yang habis dipakai aktivitas:18250 hari x12 jam=219000 jam=25 tahun


Aktivitas disiang hari:
Ada yang bekerja, atau bercinta, ada yang belajar atau mengajar, ada yang sekolah atau kuliah, ada yang makan sambil jalan-jalan, ada pula yang gambling sambil maling…dan masih banyak lagi aktivitas lainnya yang tak pernah bisa disamaratakan satu dengan yang lain……..

Waktu aktivitas santai atau rilexsasi
± 4 jam
Dalam 50 tahun waktu yang dipakai rileksasi 18250 hari x 4 jam= 73000 jam = 8 tahun


Realisasi rileksasi:
biasanya nonton tv sambil minum kopi, ada pula yang belajar mati-matian/bikin contekan habis-habisan buat ujian, atau mungkin dihabiskan termenung di buai khayalan……

17 tahun + 25 tahun + 8 tahun = 50 tahun   Plus plos/Balance



Tidur……Ngelembur…Nganggur


Lalu kapan Ibadahnya??????


Padahal manusia diciptakan-Nya  tiada lain dan tiada bukan untuk semua dan segalanya hanyalah beribadah kepada-Nya, karena satu hal yang pasti kita akan kembali ke alam hakiki ILLAHI!!!!!!!!!!!!!!!!!


“ Maut datang menjemput tak pernah bersahut

Malaikat datang menuntut untuk merenggut



Manusia tak kuasa untuk berbicara



Tuhan Maha Kuasa atas Syurga dan Neraka”



Memang benar!!!!!
kuliah itu ibadah, kalau niat kuliahnya  untuk ibadah, lawong kita mah kuliah mau nyari ijazah, bakal nanti bekerja agar mudah mencari nafkah……………………

Memang benar!!!!!!!!!
Bekerja cari nafkah itu ibadah, tapi bekerja yang bagaimana? Orang kita bekerja sikut sana sikut sini, banting tulang banting orang, tujuan utamanya cari uang buat beli barang-barang biar dipandang orang-orang…..



“jarang orang menolak untuk di puji dan di puja tatkala mereka berjaya “


Pernah kita membaca bismillah saat hendak berangkat kuliah tapi sayang hanya sekedar pernah……………


Pernah kita berniat mulia saat hendak mencari nafkah, tapi semuanya terlupa ketika melihat gemerlapnya dunia…….


Lalu kapan ibadahnya??????????????


Oh mungkin saat sholat yang 5 waktu itu dianggap cukup
………..!
Karena kita pikir; sholat begitu besar pahalanya, sholat amalan yang dihisab paling pertama, sholat jalan untuk membuka pintu syurga………

Kenapa kita harus cukup kalau ibadah kita hanyalah sholat kita!!!!!!


Berapa sholat kita dalam 50 tahun??????


1x sholat =
± 10 menit …..5x sholat ± 1 jam
Dalam waktu 50 tahun waktu yang terpakai sholat=18250 hari x I jam =18250 jam= 2 tahun


Kesimpulan:


waktu yang kita manfaatkan dalam 50 tahun di dunia cuma 2 tahun untuk sholat…………   2 tahun dari 50 tahun kesempatan kita….itupun belum tentu sholat kita bermakna berpahala dan di terima..Dan sekiranya sholat kita selama 2 tahun berpahala rasa-rasanya tidak sebanding dengan perbuatan dosa-dosa kita selama 50 tahun; dalam ucap kata kita yang selalu dusta, baik yang terasa maupun yang di sengaja, dalam ucap kata kita yang selalu cerca terhadap orangtua, dalam harta kaya kita yang selalu kikir terhadap orang faqir, dalam setiap laku langkah kita yang selalu bergelimang dosa…………………………


Logika dari logikanya:


Bukan satu yang tidak mungkin kita umat di akhir jaman akan berhamburan di neraka untuk mendapatkan balasan kelalaian……………………
Terlalu banyak waktu yang terbuang percuma selama manusia hidup di dunia dan semuanya itu akan menjadi bencana…………………….


Solusi:


Tiada kata terlambat walaupun waktu bergulir cepat, isilah dengan sesuatu apa yang bermanfaat!!!!!!!

Ingat Akhirat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

“H Mirza Amin” <mirza@dayinmitra.co.id>

MOTIVASI ISLAMI

Assalamu’alaikum

Sering kali dalam perjalanan bisnis kita menemukan hambatan dan
rintangan yang membuat kita putus asa. Bahayanya, sekali kita putus
asa, maka keberhasilan tidak akan pernah kita capai. Oleh karena itu
kita harus mempersiapkan diri agar tidak putus asa. Apa bisa? Silahkan
baca artikel lengkapnya:

http://www.motivasi-islami.com/agar-tidak-putus-asa/

Mudah-mudahan bermanfaat

Wassalam

Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di Amerika.

Kisah Nyata Seorang Pemuda Arab Yang Menimba Ilmu Di
Amerika.

Rabu,22 Februari 2006

Ada seorang pemuda arab yang baru saja me-nyelesaikan
bangku kuliahnya
di Amerika. Pemuda ini adalah salah seorang yang
diberi nikmat
oleh Allah berupa pendidikan agama Islam bahkan
ia mampu
mendalaminya.

Selain belajar, ia juga seorang juru dakwah Islam.
Ketika berada di
Amerika , ia berkenalan dengan salah seorang Nasrani.
Hubungan mereka
semakin akrab, dengan harapan semoga Allah SWT
memberinya hidayah masuk
Islam.

Pada suatu hari mereka berdua berjalan-jalan di sebuah
perkampungan di
Amerika dan melintas di dekat sebuah gereja yang
terdapat di kampung
tersebut. Temannya itu meminta agar ia turut masuk ke
dalam gereja.
Semula ia berkeberatan. Namun karena ia terus mendesak
akhirnya
pemuda itupun memenuhi permintaannya lalu ikut masuk
ke dalam gereja dan
duduk di salah satu bangku dengan hening, sebagaimana
kebiasaan
mereka. Ketika pendeta masuk, mereka serentak berdiri
untuk
memberikan penghor-matan lantas kembali duduk.

Di saat itu si pendeta agak terbelalak ketika meli-hat
kepada para
hadirin dan berkata, “Di tengah kita ada seorang
muslim. Aku harap
ia keluar dari sini.” Pemuda arab itu tidak bergeming
dari tempatnya.
Pendeta tersebut mengucapkan perkataan itu
berkali-kali, namun ia tetap
tidak bergeming dari tempatnya. Hingga akhirnya
pendeta itu berkata,
“Aku minta ia keluar dari sini dan aku menjamin
keselamatannya. “
Barulah pemuda ini beranjak keluar.

Di ambang pintu ia bertanya kepada sang pen-deta,
“Bagaimana anda tahu
bahwa saya seorang mus-lim.” Pendeta itu menjawab,
“Dari tanda yang
terdapat di wajahmu.” Kemudian ia beranjak hendak
keluar. Namun sang
pendeta ingin memanfaatkan keberadaan pemuda ini,
yaitu dengan
mengajukan beberapa pertanyaan, tujuannya untuk
memojokkan pemuda
tersebut dan sekaligus mengokohkan markasnya.
Pemuda muslim itupun
menerima tantangan debat tersebut.

Sang pendeta berkata, “Aku akan mengajukan kepada anda
22 pertanyaan dan
anda harus menja-wabnya dengan tepat.” Si pemuda
tersenyum dan berkata,
“Silahkan!”

Sang pendeta pun mulai bertanya,
1. Sebutkan satu yang tiada duanya,
2. dua yang tiada tiganya,
3. tiga yang tiada empatnya,
4. empat yang tiada limanya,
5. limayang tiada enamnya,
6. enam yang tiada tujuhnya,
7. tujuh yang tiada delapannya,
8. delapan yang tiada sembilannya,
9. sembilan yang tiada sepuluhnya,
10. sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh,
11. sebelas yang tiada dua belasnya,
12. dua belas yang tiada tiga belasnya,
13. tiga belas yang tiada em-pat belasnya.
14. Sebutkan sesuatu yang dapat bernafas namun tidak
mempunyai ruh!
15. Apa yang dimaksud dengan kuburan berjalan membawa
isinya?
16. Siapakah yang berdusta namun masuk ke dalam
surga?
17. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah namun Dia
tidak
menyukainya?
18. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dengan
tanpa ayah dan ibu!
19. Siapakah yang tercipta dari api, siapakah yang
diadzab dengan api
dan
siapakah yang terpelihara dari api?
20. Siapakah yang tercipta dari batu, siapakah yg
diadzab dengan batu
dan
siapakah yang terpelihara dari batu?
21. Sebutkan sesuatu yang diciptakan Allah dan
dianggap besar!
22. Pohon apakah yang mempu-nyai 12 ranting, setiap
ranting mempunyai
30
daun, setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah
naungan dan dua
di bawah
sinaran matahari?”
Mendengar pertanyaan tersebut pemuda itu tersenyum
dengan senyuman
mengandung keyakinan kepada Allah.

Setelah membaca basmalah ia berkata,

1. Satu yang tiada duanya ialah Allah SWT.
2. Dua yang tiada tiganya ialah malam dan siang. Allah
SWT berfirman,
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua
tanda (kebesaran
kami).”
(Al-Isra’: 12).
3. Tiga yang tiada empatnya adalah kekhilafan yang
dilakukan Nabi Musa
ketika
Khidir menenggelamkan sampan, membunuh seorang
anak kecil dan
ketika
me-negakkan kembali dinding yang hampir roboh.
4. Empat yang tiada limanya adalah Taurat, Injil,
Zabur dan al-Qur’an.
5. Limayang tiada enamnya ialah shalat limawaktu.
6. Enam yang tiada tujuhnya ialah jumlah hari ke-tika
Allah SWT
menciptakan
makhluk.
7. Tujuh yang tiada delapannya ialah langit yang tujuh
lapis. Allah
SWT
berfirman, “Yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis.
Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Rabb
Yang Maha Pemurah

sesuatu yang tidak seimbang.” (Al-Mulk: 3).
8. Delapan yang tiada sembilannya ialah malaikat
pemikul Arsy
ar-Rahman.
Allah SWT berfirman,”Dan malaikat-malaikat berada
di
penjuru-penjuru langit.
Dan pada hari itu delapan orang malaikat
menjunjung ‘Arsy Rabbmu
di atas
kepala) mereka.” (Al-Haqah: 17).
9. Sembilan yang tiada sepuluhnya adalah mu’jizat yang
diberikan kepada
Nabi
Musa : tongkat, tangan yang bercahaya, angin
topan, musim
paceklik, katak,
darah, kutu dan belalang dan ****
10. Sesuatu yang tidak lebih dari sepuluh ialah
kebaikan.
Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang berbuat
kebaikan maka
untuknya
sepuluh kali lipat.” (Al-An’am: 160).
11. Sebelas yang tiada dua belasnya ialah jumlah
saudara-saudaraYusu f
12. Dua belas yang tiada tiga belasnya ialah mu’jizat
Nabi Musa yang
terdapat
dalam firman Allah, “Dan (ingatlah) ketika
Musa memohon air
untuk
kaumnya, lalu Kami berfirman, ‘Pukullah batu
itu dengan
tongkatmu.’ Lalu
memancarlah daripadanya dua belas mata air.”
(Al-Baqarah: 60).
13. Tiga belas yang tiada empat belasnya ialah jumlah
saudara Yusuf
ditambah
dengan ayah dan ibunya.
14. Adapun sesuatu yang bernafas namun tidak mempunyai
ruh adalah waktu

Shubuh.
Allah SWT ber-firman, “Dan waktu subuh apabila
fajarnya mulai
menying-sing. “
(At-Takwir: 18).
15. Kuburan yang membawa isinya adalah ikan yang
menelan Nabi YunusAS.
16. Mereka yang berdusta namun masuk ke dalam surga
adalah
saudara-saudara
Yusuf , yakni ketika mereka berkata kepada
ayahnya, “Wahai
ayah kami,
sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami
tinggalkan
Yusuf di
dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan
serigala.” Setelah
kedustaan
terungkap, Yusuf berkata kepada mereka,” tak
ada cercaaan
ter-hadap
kalian.” Dan ayah mereka Ya’qub berkata, “Aku
akan memohonkan
ampun
bagimu kepada Rabbku. Sesungguhnya Dia-lah Yang
Maha Pengampun
lagi
Maha Penyayang.”
17. Sesuatu yang diciptakan Allah namun tidak Dia
sukai adalah suara
keledai.
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya sejelek-jelek
suara adalah
suara
keledai.” (Luqman: 19).
18. Makhluk yang diciptakan Allah tanpa bapak dan ibu
adalah Nabi Adam,

malaikat, unta Nabi Shalih dan kambing Nabi
Ibrahim.
19. Makhluk yang diciptakan dari api adalah Iblis,
yang diadzab dengan
api ialah
Abu Jahal dan yang terpelihara dari api adalah
Nabi Ibrahim.
Allah SWT
berfirman, “Wahai api dinginlah dan selamatkan
Ibrahim.”
(AlAnbiya’: )
20. Makhluk yang terbuat dari batu adalah unta Nabi
Shalih, yang
diadzab dengan
batu adalah tentara bergajah dan yang
terpelihara dari batu
adalah Ash-habul
Kahfi (penghuni gua).
21. Sesuatu yang diciptakan Allah dan dianggap perkara
besar adalah
tipu daya
wanita, sebagaimana firman Allah SWT,
“Sesungguhnya tipu daya
kaum
wanita itu sangatlah besar.” (Yusuf: 28).
22. Adapun pohon yang memiliki 12 ranting setiap
ranting mempunyai 30
daun,
setiap daun mempunyai 5 buah, 3 di bawah
teduhan dan dua di
bawah sinaran
matahari maknanya: Pohon adalah tahun, ranting
adalah bulan,
daun adalah
hari dan buahnya adalah shalat yang
limawaktu, tiga
dikerjakan di malam
hari dan dua di siang hari.

Pendeta dan para hadirin merasa takjub mende-ngar
jawaban pemuda
muslim tersebut. Kemudian ia pamit dan beranjak hendak
pergi. Namun
ia mengurungkan niatnya dan meminta kepada pendeta
agar menjawab
satu pertanyaan saja. Permintaan ini disetujui oleh
sang pendeta.

Pemuda ini berkata, “Apakah kunci surga itu?”

Mendengar pertanyaan itu lidah sang pendeta menjadi
kelu, hatinya
diselimuti keraguan dan rona wajahnya pun berubah. Ia
berusaha
menyembunyikan kekhawatirannya, namun hasilnya nihil.

Orang-orang yang hadir di gereja itu terus mendesaknya
agar menjawab
pertanyaan tersebut, namun ia berusaha mengelak.

Mereka berkata, “Anda telah melontarkan 22
pertanyaan kepadanya dan
semuanya ia jawab, sementara ia hanya memberimu
satu pertanyaan
namun anda tidak mampu menjawabnya! “

Pendeta tersebut berkata,
“Sungguh aku mengetahui jawaban dari pertanyaan
tersebut, namun aku
takut kalian marah.

” Mereka menjawab, “Kami akan jamin keselamatan
anda.”

Sang pendeta pun berkata,
“Jawabannya ialah: Asyhadu an La Ilaha Illallah wa
Asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah.”

Lantas sang pendeta dan orang-orang yang hadir di
gereja itu memeluk
agama Islam.
Sungguh Allah telah menganugrahkan kebaikan dan
menjaga mereka dengan
Islam melalui tangan seorang pemuda muslim yang
bertakwa.

* Penulis tidak menyebutkan yang kesembilan (pent.)
** Kisah nyata ini di ambil dari Mausu’ah al-Qishash
al-Waqi’ah melalui
internet, www.gesah.net <http://www.gesah. net/>

Kaum yang berpikir (termasuk para pendeta) sedianya
telah mengetahui
bahwa Islam adalah agama yang diturunkan kepada Nabi
Muhammad SAW dan
akan menjaga manusia dalam kesejahteraan baik di
dunia dan di akherat..
Apa yang menyebabkan hati-hati para pendeta itu masih
tertutup bahkan
cenderung mereka sendiri yang menutup rapat jiwanya..

Semoga Allah SWT memberikan Hidayah kepada mereka yang
mau berpikir..
amien

Mr Luthfi Sulandjana <ridoluth78@yahoo.com>

RENUNGAN

—–

Assalamu’alaikum,

Apa yang terjadi jika pada saat kita meninggal nanti….Alloh
memalingkan wajahNya….dan berkata, ” Bukankah kau juga palingkan
wajahmu kepadaKu semasa kau masih hidup.”

“Sesungguhnya ampunanKu lebih besar dari dosa-dosamu tetapi engkau tiada
mengetahuinya. Maka nikmat mana dari Tuhanmu yang kau ingkari?”

Wassalamu’alaikum,

Renungan

Suatu hari, Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya lalu beliau
bertanya (Teka Teki ) :

Imam Ghazali = ” Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini
?
Murid 1 = ” Orang tua “
Murid 2 = ” Guru “
Murid 3 = ” Teman “
Murid 4 = ” Kaum kerabat “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat
dengan kita ialah MATI . Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang
bernyawa pasti akan mati ( Surah Ali-Imran :185).

Imam Ghazali = ” Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Negeri Cina “
Murid 2 = ” Bulan “
Murid 3 = ” Matahari “
Murid 4 = ” Bintang-bintang “
Iman Ghazali = ” Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar
adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kenderaan kita, tetap kita
tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus
menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan
perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.

Iman Ghazali = ” Apa yang paling besar didunia ini ?”
Murid 1 = ” Gunung “
Murid 2 = ” Matahari “
Murid 3 = ” Bumi “
Imam Ghazali = ” Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah
HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu
kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”

IMAM GHAZALI” Apa yang paling berat didunia? “
Murid 1 = ” Baja “
Murid 2 = ” Besi “
Murid 3 = ” Gajah “
Imam Ghazali = ” Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG
AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan
malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi
khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya
berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia
masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”

Imam Ghazali = ” Apa yang paling ringan di dunia ini ?”
Murid 1 = ” Kapas”
Murid 2 = ” Angin “
Murid 3 = ” Debu “
Murid 4 = ” Daun-daun”
Imam Ghazali = ” Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan
sekali didunia ini adalah MENINGGALKAN SOLAT . Gara-gara pekerjaan kita
atau urusan dunia, kita tinggalkan solat “

Imam Ghazali = ” Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab = ” Pedang “
Imam Ghazali = ” Itu benar, tapi yang paling tajam sekali didunia ini
adalah LIDAH MANUSIA. Kerana melalui lidah, manusia dengan mudahnya
menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri “

“sampaikanlah walau satu ayat”..

Pengakuan Iblis

Pengakuan Iblis

Ibnu Arabi dalam Syajarotul Kaun

Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal , dari Ibnu Abbas ra yang berkisah,
“Kami bersama Rasulullah saw di rumah salah seorang sahabat Anshar, di
mana saat itu kami tengah berada di antara jama’ah. Lalu terdengar suara
orang memanggil dari luar, ‘Wahai para penghuni rumah, apakah kalian
mengizinkan aku untuk masuk, karena kalian membutuhkan aku.’ Rasulullah
saw bertanya kepada para jama’ah, ‘Apakah kalian tahu, siapa yang
memanggil dari luar itu?’ Mereka menjawab, ’Tentu Allah dan Rasul-Nya
lebih tahu.’ Lalu Rasulullah menjelaskan, ‘Itu adalah iblis yang
terkutuk-semoga Allah melaknatnya.’ Kemudian ‘Umar ra meminta izin kepada
Rasulullah saw sambil berkata, ‘Ya Rasulullah, apakah engkau mengizinkan
aku untuk membunuhnya?’ Beliau menjawab, ‘Bersabarlah wahai ‘Umar, apakah
engkau tidak tahu bahwa ia termasuk makhluk yang tertunda kematiannya
sampai batas waktu yang telah ditentukan (hari kiamat)? Akan tetapi
sekarang kalian diperbolehkan untuk membukakan pintu baginya. Sebab ia
telah diperintahkan untuk datang ke sini, maka pahamilah apa yang ia
ucapkan dan dengarkan apa yang akan ia ceritakan kepada kalian.’”

Ibnu Abbas berkata, “Kemudian pintu dibuka, lalu ia masuk ke tengah-tengah
kami. Ternyata ia berwujud seperti orang tua bangka yang buta sebelah
mata. Janggutnya tujuh helai dan panjangnya seperti rambut kuda. Kedua
kelopak matanya terbelah ke arah atas (bukan ke samping). Sedangkan
kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, dan gigi taringnya
memanjang keluar seperti taring babi. Sementara kedua bibirnya seperti
bibir kerbau. Ia datang sambil memberi salam, ‘Assalamu’alaika ya Muhammad
saw, Assalamu’alaikum ya jamaa’atal muslimin.’ Nabi menjawab,’Assalamu
lillah ya la’iin (Keselamatan hanya milik Allah wahai makhluk yang
terkutuk). Aku dengar engkau mempunyai maksud tertentu kepada kami. Apakah
keperluan itu wahai iblis?’ ‘Wahai Muhammad , Aku datang ke sini bukan
karena kemauanku sendiri, melainkan karena terpaksa,’ tutur iblis. ‘Apa
yang membuatmu terpaksa harus datang ke sini wahai makhluk yang terkutuk?’
tanya Rasulullah saw. Iblis menjawab, ‘Telah datang kepadaku seorang
malaikat yang diutus oleh Allah swt Yang Maha Agung. Utusan itu berkata
kepadaku, ”Sesungguhnya Allah memerintahkan engkau untuk datang kepada
Muhammad sementara engkau adalah makhluk yang rendah dan hina. Engkau
harus memberi tahu kepadanya, bagaimana engkau menggoda dan menipu anak
cucu Adam as. Lalu engkau harus menjawab segala apa yang ditanyakan
Muhammad dengan jujur.

Maka demi Kebesaran dan Keagungan Allah , jika engkau menjawabnya dengan
bohong, sekalipun hanya sekali, sungguh Allah akan menjadikan engkau, debu
yang akan terhempas oleh angin kencang, dan musuh-musuhmu akan merasa
senang.’ Wahai Muhammad , maka sekarang Aku datang kepadamu sebagaimana
yang diperintahkan kepadaku. Maka tanyakanlah apa saja yang engkau
inginkan. Kalau sampai Aku tidak menjawabnya dengan jujur, maka
musuh-musuhku akan merasa senang atas musibah yang akan Aku terima.
Sementara tidak ada beban yang lebih berat bagiku daripada senangnya
musuh-musuhku atas musibah yang menimpa diriku.’ Rasulullah mulai melempar
pertanyaan kepada iblis, ‘Jika engkau menjawab dengan jujur, maka
ceritakanlah kepadaku, siapa orang yang paling engkau benci?’ Iblis
menjawab dengan jujur, ‘Engkau, wahai Muhammad saw, adalah orang yang
paling aku benci, berikutnya adalah orang-orang yang mengikuti agamamu.’
‘Lalu siapa lagi yang paling engkau benci ?’ tanya Rasulullah saw.
‘Seorang pemuda yang bertakwa di mana ia mencurahkan dirinya hanya untuk
Allah swt,’ jawabnya. ‘Siapa lagi?’ tanya Rasulullah saw. Orang alim yang
wara’ (menjaga diri dari subhat) lagi sabar,’ jawab iblis. ‘Siapa lagi?’
tanya Rasulullah. ‘Orang yang senantiasa melanggengkan kesucian dari tiga
kotoran (hadats besar, kecil, dan najis-red),’ tutur iblis. ‘Siapa lagi?’
tanya Rasulullah.

Orang fakir yang senantiasa bersabar, yang tidak pernah menuturkan
kefakirannya kepada siapa pun juga dan juga tidak pernah mengeluh atas
penderitaan yang dia alami,’ jawab iblis. ‘Lalu siapa lagi wahai iblis?’
tanya Rasulullah. ‘Orang kaya yang bersyukur,’ tutur iblis. ‘Bagaimana
kondisimu apabila umatku menjalankan shalat?’ tanya Rasulullah. ‘Wahai
Muhammad , Aku langsung merasa gelisah dan gemetar,’ jawab iblis.
‘Mengapa, wahai makhluk yang terkutuk?’ tanya Rasulullah. Sesungguhnya
apabila seorang hamba bersujud kepada Allah sekali, maka Allah akan
mengangkatnya satu derajat. Dan apabila mereka berpuasa, maka Aku terikat
sampai mereka berbuka kembali. Apabila mereka menunaikan manasik haji,
maka Aku menjadi gila. Apabila mereka membaca al-Qur’an, maka Aku akan
meleleh seperti timah yang dipanaskan dengan api. Apabila mereka
bersedekah, maka seakan-akan orang yang bersedekah tersebut mengambil
kapak lalu memotongku menjadi dua,’ jawab iblis.

Kemudian Rasulullah meneruskan pertanyaannya, ’Wahai makhluk terkutuk,
siapa teman dudukmu?’ ‘Orang yang suka makan riba,’ jawab iblis. ‘Lalu
siapa teman dekatmu?’ tanya Rasulullah. ‘Orang-orang yang berzina,’
jawabnya. ‘Siapa teman tidurmu?’ tanya Rasulullah. ‘Orang yang mabuk,’
jawabnya. ‘Siapa tamumu?’ tanya Rasulullah . ‘para pencuri,’ jawabnya.
‘Siapa utusanmu?’ tanya Rasulullah . Tukang sihir,’ jawabnya. ‘Apa yang
menyenangkan pandangan matamu?’ tanya Rasulullah . Orang yang bersumpah
dengan talak,’ jawab iblis. ‘Siapa kekasihmu?’ tanya Rasulullah. Orang
yang meninggalkan shalat jum’at,’ jawabnya. ‘Apa yang menjadikan tubuhmu
meleleh?’ tanya Rasulullah. ‘Tobatnya orang yang bertobat,’ jawabnya. ‘Apa
yang menjadikan tubuhmu panas?’ tanya Rasulullah. ‘Banyaknya istighfar
kepada Allah baik di waktu siang maupun malam,’ jawabnya. ‘Apa yang
membuatmu merasa malu dan hina?’ tanya Rasulullah. ‘Sedekah secara
rahasia,’ jawabnya. ‘Apa yang mengendalikan kepalamu?’ tanya Rasulullah.
‘Memperbanyak sholat berjama’ah,’ tuturnya. ‘Siapa yang paling membuatmu
bahagia?’ tanya Rasulullah . ‘Orang yang sengaja meninggalkan sholat,’
tuturnya. Demikianlah penuturan iblis kepada Rasulullah e yang harus kita
pahami dan cermati bersama.

Wa min Allah at taufiq
posted by mevlanasufi at 8:53 AM

Menggandakan Nafkah hingga 700 Kali Lipat!

Menggandakan Nafkah hingga 700 Kali Lipat!Semua manusia ingin beruntung. Apalagi bagi manusia
yang kerap kali merasa hidupnya kurang beruntung.
Memang Allah Swt tidak selalu memberikan rahmat-Nya
kepada hamba dalam bentuk rezeki. Sebab Dia Maha Tahu
bahwa rezeki belum tentu menjadi faktor yang baik bagi
kehidupan seorang hamba.
Namun ada beberapa ayat dalam Al Qur’an yang
mengajarkan kepada manusia untuk bisa mendapatkan
rezeki berlipat-ganda dan peruntungan dunia. Sebuah
kalkulasi fantastis dan absolut. Fantastis karena
mendatangkan hasil berlipat, absolut sebab dijanjikan
oleh Allah Tuhan Yang Maha Pasti.
Allah Swt menjanjikan dalam kitab-Nya bahwa setiap
kebaikan akan berbuah 10 kali hasil.
ãóä ÌóÇÁ ÈöÇáúÍóÓóäóÉö Ýóáóåõ ÚóÔúÑõ ÃóãúËóÇáöåóÇ
“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya
(pahala) sepuluh kali lipat amalnya.” (QS. 6:160)
Seorang sufi bernama Imam Hasan Al Bashri amat
meyakini janji Allah ini. Alkisah, beliau suatu hari
kedatangan 6 orang tamu. Sebagai seorang muslim,
memuliakan tamu adalah hal yang diperintahkan agama.
Imam menerima tamu dengan wajah sumringah. Semua tamu
yang hadir ia persilahkan masuk dan duduk di kursi
yang tersedia di ruang depan rumah. Usai semua tamu
masuk ke dalam rumah, Imam Hasan pergi ke dapur. Saat
itu, hanya ia dan seorang budaknya yang ada di rumah.
Imam Hasan bertanya kepada budaknya, “Makanan apa yang
ada di rumah ini hingga bisa dihidangkan untuk
tamu-tamuku?” Sang budak, membuka lemari makanan dan
tiada yang ia temui selain sepotong roti saja. Ia
sampaikan kepada Imam Hasan hal tersebut.
Sedikit berkerut kulit dahi Imam terlihat, pertanda
beliau berpikir serius bagaimana cara menghidangkan
sepotong roti itu untuk enam orang tamunya. Sejurus
kemudian, Imam berkata setelah mengambil sikap, “Sudah
begini saja…, bawalah roti itu dan cari orang yang
dapat menerimanya sebagai sedekah! Namun jangan lupa
hidangkan dulu minuman untuk para tamuku!”
Maka pergilah sang budak untuk bersedekah, setelah ia
menyuguhkan minuman kepada para tamu Imam Hasan
terlebih dahulu.
Maka para tamu pun hanya mendapatkan suguhan air putih
dari rumah Imam Hasan. Imam Hasan merasa gak enak hati
kepada para tamunya.Tapi dia yakin, bahwa Allah Swt
akan membalas amalnya minimal 10 kali lipat.
Biduk asa seolah menjumpai tambatannya. Saat Imam
Hasan kedatangan seorang tamu lagi yang datang dengan
membawa sebuah nampan. Imam Hasan bangkit dan bergegas
menghampirinya.
“Assalamu’alaikum, wahai Imam!” seru orang yang baru
saja datang. “Wa’alaikum salam warahmatullah…” Imam
membalas. “Apa yang kau bawa?” imam bertanya kepada
orang tersebut. “Ini imam, aku membawakan 6 potong
roti untuk engkau!” kata orang tersebut dengan senyum
terkembang.
“Mungkin ini bukan untukku!” Imam Hasan menukas.
“Mengapa engkau berkata demikian?” sang tamu bertanya
keheranan. “Kalau benar ini untukku, pasti jumlahnya
sepuluh!” Imam berkata yakin karena ia tahu bahwa
Allah akan memberi 10 roti sebagai balasan dari
sepotong roti yang telah ia sedekahkan.
Sang tamu merasa aneh. Ia coba untuk memanjangkan
leher dan menyapukan pandangan ke dalam rumah Imam
Hasan. Sesudah itu ia mengerti bahwa imam sedang
kedatangan banyak tamu.
Orang itu pun kembali ke rumah. Lalu ia tambahkan lagi
4 potong roti sehingga menjadi 10 jumlahnya. Kemudian
ia angkat nampan yang ia bawa, kemudian ia ayunkan
langkah menuju rumah Imam Hasan Al Bashri.
Sesampainya di rumah imam, sang tamu kembali
mengucapkan salam lalu disambut dan dibalas oleh Imam
Hasan. Beliau lalu membuka penutup nampan, kemudian
berujar, “Nah… inilah yang dijanjikan Allah padaku!”
Allah akan membalas setiap kebaikan yang dilakukan
oleh seorang hamba minimal 10 kali lipat. Bilangan
balasan itu bisa terus berganda dan tumbuh semakin
besar. Tergantung pada keikhlasan sang hamba, dan
takaran rezeki yang Allah berikan kepadanya. Bahkan
bilangan itu suatu saat bisa mencapai 700 kali lipat.
Allah Swt berfirman:
ãøóËóáõ ÇáøóÐöíäó íõäÝöÞõæäó ÃóãúæóÇáóåõãú Ýöí ÓóÈöíáö
Çááøåö ßóãóËóáö ÍóÈøóÉò ÃóäÈóÊóÊú ÓóÈúÚó ÓóäóÇÈöáó Ýöí
ßõáøö ÓõäÈõáóÉò ãøöÆóÉõ ÍóÈøóÉò æóÇááøåõ íõÖóÇÚöÝõ
áöãóä íóÔóÇÁ æóÇááøåõ æóÇÓöÚñ Úóáöíãñ
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh)
orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah
adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan
tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah
melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha
Mengetahui.” (QS. 2:261)
1 butir benih menjadi 700 biji. Itulah janji Allah
Ta’ala. Tiada yang mustahil bagi Allah untuk membalas
derma hamba-Nya bahkan hingga 700 kali lipat.
Secara gampang, manusia yang menyangsikan janji Allah
Swt ini dapat melihat bukti pada pohon pepaya yang
banyak kita kenal di tanah air. Pepaya ditanam seperti
kebanyakan pohon lain. Ia ditanam dengan memasukan
biji ke dalam tanah.
Bila Allah Swt berkehendak, maka dari biji tersebut
akan tumbuhlah pohon. Pohon akan tumbuh besar dan
berkembang. Kemudian setelah tinggi, ia akan memiliki
beberapa cabang. Setelah tiba waktunya, ia pun akan
berbuah. Setiap pohon pepaya memiliki jumlah cabang
dan buah yang beragam. Setelah berbuah, manusia akan
mendapati bahwa dari masing-masing buah saja akan
terdapat ratusan biji pepaya di dalamnya. Mungkin
saja, dari biji atau benih pepaya yang satu, akan
menghasilkan beribu biji yang kemudian bisa dapat
menumbuhkan pepaya kembali. Allah Maha Luas
karunia-Nya lagi Maha Mengetahui (QS. 2:261)
Berderma satu, dibalas 700 kali lipat!
Di Cipete Jakarta Selatan. Di sebuah sekolah dasar di
sana, seorang pria penjual gorengan bernama Udin
(bukan nama asli) berjualan. Lonceng turun main,
kira-kira akan berbunyi sepuluh menit lagi. Ia tengah
memotong beberapa singkong untuk digoreng.
Singkong seperti kita tahu, berbentuk tabung dan
berkerucut pada ujungnya. Biasanya sebuah singkong
akan dipotong lima bagian. 4 bagian digoreng untuk
dijual, sementara bagian ujung atau pentilnya
disisihkan untuk dibuang. Hari itu, Udin menggoreng
kira-kira 5 buah singkong, dan pentil singkong yang
tersisa pun berjumlah 5 karenanya.
Lonceng istirahat berbunyi, para siswa pun berhamburan
ke luar kelas untuk jajan dan istirahat. Seorang anak
kurus sambil menggigit jari berdiri di ujung gerobak
Udin. Anak ini tidak membeli gorengan seperti siswa
lainnya, juga tidak berbicara sepatah katapun.
Naluri Udin berkata bahwa anak ini tidak punya uang
untuk jajan. Hati kecil menyuruhnya agar 5 pentil
singkong yang ada diberikan saja kepada anak itu. Maka
diambillah beberapa pentil itu. Ia masukkan ke dalam
adonan tepung, kemudian digorenglah. Setelah matang,
Udin menaruhnya di atas kertas lalu disodorkannya
kepada anak itu.
Si anak senang bukan main. Senyumnya mengembang. Udin
turut bahagia melihatnya. Belakangan, Udin tahu bahwa
anak tersebut adalah seorang yatim yang baru saja
kehilangan bapak.
Kejadian pagi itu terus berulang. Udin memberikan
beberapa pentil singkongnya kepada anak yatim itu.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun
hingga anak itu lulus dari Sekolah Dasar. Udin tidak
merasa berat, sebab apa yang ia berikan kepada anak
yatim itu, tiada lain adalah barang yang tiada
berharga bagi siapapun. Dalam pengalamannya berjualan,
tidak ada seorang pun yang mencari pentil singkong
untuk dibeli. Bahkan bila dijual sekalipun dalam
jumlah banyak, pastilah tidak akan laku.
Udin tak berkeberatan memberikan pentil singkongnya
kepada anak itu. Bahkan untuk setiap hari!
Allah Swt akan membalas kebaikan seorang hamba bila ia
membantu saudaranya bahkan hingga 700 kali lipat!
Lebih dari 30 tahun berselang setelah anak yatim itu
lulus. Saat itu, Udin masih mengerjakan rutinitasnya
setiap hari; yaitu berjualan gorengan di sekolah dasar
yang sama. Maka berhentilah sebuah mobil mewah nan
mengkilap tepat di depan gerobak Udin.
Seorang pemuda tampan turun dari mobil. Ia mengenakan
setelan dan dasi yang bermerk. Rambutnya di sisir rapi
dan mengkilat ditimpa sinar matahari.
Melihat calon pembeli dengan mobil bagus, Udin sigap
membuka pembicaraan, “Mau beli gorengan, Den…?!”
Pemuda itu tersenyum dan berkata, “Masa akang lupa
sama saya?” Pertanyaan itu membuat Udin berpikir
singkat, namun ia tidak menemukan jawaban. Udin lalu
bertanya polos, “Memangnya…, Aden ini siapa ya?”
Masih tersenyum, pemuda itu mengatakan, “Saya ini
adalah anak pentil singkong, Kang!” Mendengar itu,
Udin berucap tasbih. Rasa gembira terbit di hatinya
melihat kesuksesan anak ini. Anak pentil singkong yang
dulu kerap berdiri di pinggir gerobaknya.
“Masya Allah…. sudah sukses sekarang ya, Den?!”
Udin bertanya sekali lagi. “Alhamdulillah, Kang!”
jawab si Aden.
Udin lalu menggamit lengan si Aden, diajaknya masuk ke
balik gerobak. Udin menyorongkan sebuah kursi kecil
untuk duduk. Maka duduklah pemuda itu, sementara Udin
meneruskan pekerjaannya…. menggoreng singkong, tempe
dan lain-lain.
Sambil Udin bekerja, pembicaraan mengenai kenangan
lama terulang kembali. Keduanya merajut rasa syukur
kepada Allah Swt Yang telah melimpahkan anugerah tiada
terkira. Pembicaraan tersebut terus berlanjut hingga
berujung pada sebuah kalimat yang diucapkan sang
pemuda.
“Akang… saya ke sini mau berterima kasih!” kata si
pemuda. “Atas apa, Den?!” jawab Udin. “Berterima kasih
atas kebaikan kang Udin kepada saya. Dulu kalau gak
dikasih pentil singkong sama Akang, saya gak bakal
bisa belajar dengan tenang. Kalau belajar gak tenang,
saya gak bakal pintar. Kalau gak pintar, saya gak
bakal bisa lulus sekolah dan sukses seperti
sekarang…. saya ke sini mau berterima kasih ke kang
Udin!” kalimat yang baru diucapkan oleh pemuda begitu
tersusun dan membanggakan hati Udin. Namun Udin masih
berkelit sambil berujar, “Den… sudah gak usah
dipikirkan. Apa yang saya kasih ke Aden berupa pentil
singkong itu kan gak berharga! Ngapain pake terima
kasih segala. Lagian, kalo saya jual gak bakal ada
yang mau…!” Udin mencoba merendah dan menolak
pamrih.
Pemuda masih mengejar dengan satu pertanyaan lagi, dan
ini membuat Udin menjadi bergidik. “Akang…, saya dan
istri berniat haji tahun ini. Saya ingin Kang Udin dan
istri mau menemani kami. Mau kan, Kang?”
Gemuruh rasa terjadi di dada Udin. Tidak pernah
terbayang baginya akan ada seorang hamba Allah yang
mengajaknya untuk menunaikan rukun Islam kelima. Udin
pun mengiyakan, dan pemuda itu pun pergi meninggalkan
Udin.
Udin dan istrinya berangkat haji. Seluruh biaya dan
uang jajan keduanya ditanggung oleh si pemuda.
Barangkali lebih dari Rp 60 juta yang dibayarkan
olehnya. Udin dan istri lalu berangkat ke Baitullah,
menunaikan semua ritual dan kewajiban dalam ibadah
haji. Hingga ia dan istri kembali ke tanah air lagi
dengan selamat.
Sesampainya di tanah air, banyak kerabat, saudara dan
tetangga datang bersilaturahmi. Udin membagikan
oleh-oleh berupa air zamzam, kurma dan banyak lagi.
Banyak orang senang menerima hadiah tersebut. Mereka
pun banyak menanyakan pengalaman Udin dan istri selama
berhaji.
Udin menjawab semua pertanyaan orang yang datang
sebisanya. Hingga saat ada seseorang yang bertanya
tentang bagaimana caranya kang Udin dapat berhaji
bersama istri padahal usahanya hanya sekedar menjual
gorengan.
Rupanya… banyak yang belum tahu dengan cara apa Udin
berangkat haji. Dan memang, ia merahasiakan hal itu
selama ini. Udin pun menjawab seadanya, “Dulu…, saya
sedekah pentil singkong kepada seorang anak yatim, eh
gak taunya dengan sedekah itu saya dan istri berangkat
haji. Kalo tahu begini, coba dulu saya sedekah
singkong beneran sama tuh anak…!”
Udin mencoba berkelakar dengan jawabannya, dan hal itu
membuat hadirin tertawa terbahak mendengarnya. Dalam
hati, Udin bersyukur kepada Allah Swt Yang Sungguh
menepati janji kepada dirinya. Sungguh Allah Swt Maha
Kuasa untuk membalas amal seorang hamba, bahkan hingga
700 kali lipat atau lebih dari itu.

Ust. Bobby Herwibowo -

Manfaat Kurma Saat Ramadan

Manfaat Kurma Saat Ramadan


Fatichatun Nadhiroh – DetikSurabaya

<!––>Surabaya – Menyantap buah kurma pada saat berbuka puasa di bulan Ramadan, bukan sekadar untuk menjaga tradisi. Ternyata kurma mengandung mineral yang dibutuhkan oleh tubuh, seperti zat besi, magnesium, dan kalium. Zat besi sangat penting untuk mencegah anemia gizi besi atau lesu darah.

“Bagi umat Islam, berbuka puasa dengan kurma sesuai anjuran Nabi Muhammad SAW. Barangsiapa yang mempunyai kurma ketika berpuasa, hendaklah berbuka dengan kurma,” kata Direktur RSU Haji Surabaya, Prof dr dr Rochmad Romdhoni SpPD(K) SpKJ(K), Rabu (18/9/2007).

Diaa menambahkan, pilihan kurma sebagai makanan pembuka yang sehat di bulan puasa ternyata bukanlah tanpa dasar. Zat-zat gizi yang terdapat dalam buah ini bisa mencegah lemas dan malas saat berpuasa.

Selain nilai energi dan vitamin yang sangat tinggi, kandungan gula kurma sebagian besar merupakan gula-gula monosakarida, sehingga mudah dicerna oleh tubuh. Gula-gula itu antara lain berupa glukosa dan fruktosa.

“Bahkan mampu meningkatkan kebasahan lambung yang terlalu asam setelah 13-14 jam tidak memperoleh makanan dan minuman,” tambahnya.

“Bila dibandingkan dengan nasi yang penyerapan dalam tubuh membutuhkan waktu berjam-jam, penyerapan gula kurma di dalam tubuh cukup cepat. Yakni, sekitar 45-60 menit. Itu sebabnya kurma merupakan makanan yang sangat baik untuk berbuka puasa karena dapat menyuplai asupan energi secara cepat,” jelasnya.

Dalam kurma juga terdapat asam salisilat yang biasanya digunakan sebagai bahan baku aspirin. Asam salisilat bersifat mencegah pembekuan darah, antiinflamasi (radang), dan menghilangkan rasa ngilu maupun nyeri.

Selain itu, kurma dapat mengendalikan hipertensi dengan mengatur kadar prostaglandin yang turut berperan dalam proses tekanan darah.

Namun, penderita diabetes melitus tidak boleh terlalu banyak mengonsumsi kurma. Kandungan gula monoskarida yang cukup tinggi dapat meningkatkan kadar gula darah secara cepat.

Dalam jangka panjang, konsumsi makanan yang mengandung salisilat tinggi seperti kurma diharapkan memberikan fungsi yang kurang lebih sama dengan aspirin terhadap pencegahan stroke dan serangan jantung.

Kurma juga mengandung asam nikotinat dan hormon potuchsin. Hormon tersebut berperan untuk mencegah perdarahan rahim melalui efek penciutan pembuluh darah. Kurma mempunyai manfaat lain, yaitu mengurangi ketegangan mental, histeria, dan insomnia. (fat/fat)

“H Mirza Amin” <mirza@dayinmitra.co.id>

TIBA TIBA MUSIM TAAT TIBA

kiriman ke sebuah milis dari seorang teman/saudara.. mungkin buat
perenungan kita semua…

Tiba-tiba Ramadhan telah tiba kembali
Tiba-tiba banyak hati yang terbuka
Tiba-tiba banyak orang yang sadar….
Kalau dirinya seorang Muslim ……….
Kalau dirinya banyak dosa ………… …
Kalau dirinya tanpa pegangan …………

Tiba-tiba masjid jadi lautan manusia
Tiba-tiba orang-orang banyak berdoa
Tiba-tiba yang datang ke masjid adalah orang asing
Tiba-tiba mereka menjelma menjadi sosok yang lain dari hari-hari biasa

Tiba-tiba banyak orang berjilbab
Tiba-tiba banyak orang mengaji
Tiba-tiba banyak orang bermurah hati
Tapi, tiba-tiba… ……… ……… ……..

Tiba saat akhir Ramadhan ………… .
Tiba usai akhir Ramadhan yang penuh berkah
Tiba-tiba banyak orang jadi bunglon, kulit berubah warna
Jamannya adalah sumbunya …………
Ia rela diperbudak dunia ………… ……
Masya Allah ………… ……… ………

Jilbab hanya topeng belaka
Mengaji hanya trend katanya
Bermurah hati hanya ria motifnya
Apalagi ke masjid ………… …..
Mumpung musim katanya ………… ……..
Masya Allah ………… ……… ……

Ya, Allah……. Aku berlindung kepada Mu
Jangan aku termasuk orang yang tiba-tiba taat ………
Jadikanlah amal ibadahku di bulan Ramadhan ……….
Membuat hidupku lebih baik dari tahun yang lalu
Dan jangan jadikan puasaku hanya sekedar menahan lapar dahaga
Sementara maknanya tidak kudapati ………… ……… ..

Ya, Allah ……. Semoga aku mampu menjalani training Akbar Mu
Ya, Allah……. . Semoga aku dapat naik tingkat pada training
berikutnya
Sehingga dari waktu ke waktu hidupku tambah berarti …………
……..
Dan aku pun siap,
jika tiba-tiba kau menjemputku ………… ……… ……

haryo_wicaksono@sigma.co.id

« Older entries