Karena Standar Kita Rendah, Saudaraku…

Karena Standar Kita Rendah, Saudaraku…

30 Okt 07 05:31 WIB

Kirim teman

Oleh Akmal

Umat yang malang ini kini diuji dengan berbagai nabi palsu yang muncul nyaris berbarengan. Seperti mengikuti komando yang tak terlihat, mereka berdatangan dari segala arah. Virus megalomania berjangkitan di mana-mana. Ada yang mengaku mendapat wahyu setelah bertapa di Gunung Bunder, ada pula yang mengaku-ngaku sebagia titisan Maryam atau Jibril (klaimnya memang selalu berubah seiring waktu). Ada yang mengaku menjalankan syariat yang sebenarnya dengan mengecat rambutnya pirang dan berpakaian hitam, sehingga mereka – seperti pengakuan imamnya sendiri – berwajah seram dan bagaikan singa.

Tidak perlu menyesali kedatangan para nabi palsu yang hidup dengan membohongi diri sendiri. Sejak dulu manusia jenis ini sudah ada. Matanya tertutup, pergaulannya sangat sempit, sehingga ia merasa dirinya hebat sendirian, sementara yang lain tidak. Mereka tidak tahu kenyataan, karena mereka ciptakan dunia independen dalam dirinya sendiri. Ketika Rasulullah saw. Masih hidup pun ada orang yang berusaha menandingi surah Al-‘Ashr dengan sebuah syair bodoh tentang Gajah. Sepeninggal Rasulullah saw., tepatnya pada era pemerintahan Khalifah Abu Bakar ra., muncul pula nabi palsu yang membawa sebuah syair tentang kodok. Agaknya tantangan Al-Qur’an untuk menciptakan ayat-ayat yang mampu menandinginya memang terlalu berat bagi manusia.

Semuanya bermuara pada pendidikan. Secara formal maupun non-formal, pendidikan agama di negeri ini memang masih sangat menyedihkan. Kita nyaris tidak mendapatkan apa-apa dari pengajaran di sekolah. Waktu SD dulu, saya pernah mendebat guru agama yang mendefinisikan Islam sebagai singkatan dari ‘Isya, Subuh, Lohor, ‘Ashar dan Maghrib. Ketika itu saya protes karena nama Islam berasal dari bahasa Arab, dan setahu saya, dalam bahasa Arab tidak ada kata “Lohor”, yang ada hanyalah “Zhuhur”. Kalau memang nama agama ini berasal dari singkatan nama shalat lima waktu, maka namanya tidak akan menjadi “Islam”, melainkan “Iszam”. Kalau mau argumen yang lebih cerdas lagi, silakan merujuk pada salah satu hadits arba’in dari An-Nawawi yang penjabarannya sudah dikenal oleh setiap anak SD yang beragama Islam yang paling bodoh sekalipun. Hadits itu menjelaskan rukun Islam yang terdiri dari lima hal yang sudah amat kita kenal. Yang namanya rukun tentu tak boleh ditinggalkan sama sekali. Karena itu, shalat lima waktu yang wajib itu hanya satu dari lima rukun Islam. Kebodohan guru agama saya dulu itu ‘dikompensasi’ dengan nilai tujuh di dalam rapor, dan saya belum pernah menerima nilai di bawah sembilan untuk pelajaran yang sama di waktu lain. Bahkan guru agama pun tak mampu mengendalikan egonya dengan baik. Ilmu macam apa yang akan diwariskan kepada murid-muridnya?

Standar kita memang terlalu rendah. Terlalu sedikit kita mempelajari Al-Qur’an, Al-Hadits dan Sirah Nabawiyah, sehingga kita justru merasa asing dengan agama ini. Fakta bahwa para nabi palsu akhir-akhir ini sedang ‘naik daun’ adalah suatu petunjuk bahwa begitu banyak orang yang tidak memahami agamanya sendiri.

Dalam Islam, kita mengenal banyak tingkatan manusia. Ada kafir, munafiq, fasiq, Muslim, dan sebagainya. Di antara umat Islam pun ada berbagai tingkatannya. Ada yang ahli bid’ah, ada yang rajin maksiat, ada yang pembohong, ada yang malas ibadah, ada pula orang-orang saleh. Di atas orang-orang saleh itu adalah para utusan Allah, yaitu para Nabi dan Rasul. Di antara para Nabi dan Rasul, kita mengenal manusia yang kualifikasinya paling tinggi, yaitu Rasulullah saw., sang Nabi penutup, sang Rasul akhir zaman.

Berdasarkan logika sederhana saja, kita akan menyadari bahwa seorang direktur atau manajer perusahaan hanya akan mengganti karyawannya dengan yang setara atau lebih baik, atau setidaknya masih dalam range kualifikasi yang sama. Tidak mungkin ada direktur yang mengganti karyawan dengan yang lebih buruk. Kalaupun terjadi, itu pastilah sebuah kekhilafan murni, bukan kesengajaan. Allah SWT, di sisi lain, tidak mengenal ketidaksengajaan. Karena itu, logikanya, Allah tidak akan mengganti seorang Nabi atau Rasul dengan seseorang yang tidak memenuhi standar kualifikasinya.

Dengan demikian, kalau masih ngotot ingin menjadi Nabi sesudah Rasulullah saw., maka setidaknya ada dua hal yang mesti diperhatikan: (1) kualifikasinya harus lebih tinggi dari manusia kebanyakan, karena seorang Nabi harus lebih baik daripada orang-orang saleh, dan (2) harus memiliki kualifikasi seorang Nabi, atau preferably yang lebih baik daripada yang digantikan (which is Rasulullah saw.).

Sekarang mari kita cek keterangan Al-Qur’an mengenai kualifikasi para Nabi.

Sebelum Allah menciptakan Nabi Adam as., Allah juga telah menciptakan para malaikat dan jin. Ketika itu, Allah menceritakan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia yang kemudian mendatangkan keheranan bagi para Malaikat. Jawaban Allah SWT yang singkat dan tegas membuat para malaikat memilih untuk tidak mempertanyakan masalah ini lebih jauh lagi: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang kamu tidak ketahui. ” Setelah Nabi Adam as. Diciptakan, Allah mengajarinya begitu banyak pengetahuan yang bahkan para Malaikat pun tidak mengetahuinya. Melihat luasnya pengetahuan Nabi Adam as., para malaikat pun takjub dan tidak menolak ketika disuruh bersujud kepadanya (Q. S. Al-Baqarah [2]: 30 – 34). Kalau mau menggantikan Nabi Adam as., maka harus mampu memiliki pengetahuan yang membuat para Malaikat takjub.

Nabi Nuh as. Adalah contoh seorang pendakwah tangguh. Beliau berbantah-bantahan dengan kaumnya sendiri yang durhaka kepada Allah. Begitu kuatnya usaha beliau, namun betapa keras kepalanya mereka dalam kekufuran. Nabi Nuh as. Tidak mengeluh sedikit pun, namun akhirnya Allah sendirilah yang mewahyukan padanya bahwa kaumnya tidak akan beriman padanya kecuali mereka yang sudah beriman saat itu. Dengan pengikut yang secuil itu, Nabi Nuh as. Dengan tabah terus berdakwah sekaligus memimpin para pengikutnya membangun sebuah perahu superkuat untuk menyelamatkan diri dari banjir besar yang menghabisi kaumnya, termasuk putranya sendiri (Q. S. Huud [11]: 25 – 83). Kalau mau menggantikan Nabi Nuh as., jangan pernah mengeluh dan harus punya track record yang hebat dalam berdakwah.

Nabi Ibrahim as. Hidupnya tidak pernah sepi dari cobaan. Beliau tidak lari dari tantangan. Menghadapi umatnya yang gemar menyembah berhala, Nabi Ibrahim as. Melakukan serangan yang langsung kepada pusatnya. Beliau hancurkan berhala-berhala itu, dan ditantangnya mereka secara terbuka (Q. S. Al-Anbiyaa’ [21]: 52 – 67). Nabi Ibrahim as. Kemudian berhadapan dengan seorang Raja, dan kekerasan hatinya tetap menjadi ciri khasnya. Terhadap raja yang merasa dirinya paling hebat, beliau ajukan tantangan: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!” (Q. S. Al-Baqarah [2]: 258). Atas ‘kenekadannya’, Nabi Ibrahim as. Diganjar hukuman dibakar hidup-hidup, namun Allah menyelamatkannya (Q. S. Al-Anbiyaa’ [21]: 68 – 70). Sampai akhir hayatnya, Nabi Ibrahim as. Dikenal karena keteguhan hatinya untuk tetap berada dalam jalan yang lurus. Beliau tidak menolak ketika harus meninggalkan isteri dan anaknya di lembah tandus tak berpenghuni (Q. S. Ibraahiim [14]: 37), tidak juga protes ketika disuruh menyembelih Nabi Isma’il as (Q. S. Ash-Shaaffaat [37]: 102 – 107). Kalau mau menjadi pengganti Nabi Ibrahim as., minimal harus memiliki keteguhan seperti beliau. Buktikanlah dengan menentang kesesatan di tengah-tengah masyarakat secara terbuka, menasihati penguasa yang zalim secara terang-terangan, dan tidak boleh menolak tugas seberat apa pun dari Allah SWT.

Kalau mau jadi pengganti Nabi Isma’il as., berarti masa mudanya harus dipenuhi dengan prestasi memakmurkan rumah-rumah Allah dan membaktikan diri pada-Nya saja. Kalau mau menggantikan Nabi Yusuf as., maka harus bisa menyelamatkan negeri sendiri dari krisis ekonomi. Kalau mau menjadi pengganti Nabi Musa as., maka harus mampu memimpin umat untuk menghindar dari marabahaya. Kalau punya hasrat menjadi pengganti Nabi Daud as., mestilah memiliki keperkasaan yang unggul.

Nanti sajalah mempersoalkan masalah legalitas ‘para nabi’ setelah Sang Nabi Penutup. Sekarang pandanglah orang-orang yang mengaku nabi itu, dan tanyakanlah pada hati terdalam: “Apa pantas mereka menyebut dirinya sendiri nabi? Apa yang mereka miliki sehingga mampu menggantikan para Nabi dan Rasul terdahulu?”

I rest my case.

Wassalaamu’alaikum wr. Wb.

“H Mirza Amin” <mirza@dayinmitra.co.id>

Karl Haushofer, Tokoh Yahudi Dibalik Tragedi Holocaust

 

Karl Haushofer, Tokoh Yahudi Dibalik Tragedi Holocaust

Jumat, 5 Jan 07 09:10 WIB
Kirim teman

Seorang Profesor Yahudi ternyata punya andil andil besar dalam kasus
pengejaran dan pembunuhan orang-orang Yahudi yang dilakukan Nazi-Jerman
dalam Perang Dunia II. Profesor Karl Haushofer namanya.

Karl Ernst Haushofer lahir di Munich, Bavaria (Jerman), pada 27 Agustus
1869. Dia terlahir dari keluarga Yahudi Jerman, dari pasangan Max
Haushofer, seorang ekonom, dan Frau Adele Haushofer. Lulus dari sekolah
atas, Karl muda mendaftar sebagai tentara Bavaria. Karir di dinas
ketentaraan, Karl menamatkan pendidikan di Lembaga Pendidikan Ketentaraan
Bavaria (Kriegschule), Akademi Artileri (Artillerieschule), dan Bavarian
War Academy (Kriegsakademie). Tahun 1896 Karl muda menikah dengan Martha
Mayer Doss, juga seorang Yahudi.

Haushofer meneruskan pendidikannya hingga menjadi perwira tinggi dan
berdinas di Angkatan Perang Kerajaan Jerman dan karirnya melejit hingga
menduduki jabatan sebagai Staff Corp di tahun 1899. Bahkan pada tahun
1903, Karl Haushofer diangkat menjadi tenaga pengajar di Bavarian
Kriegsakademie.

Tahun 1908, Haushofer dikirim ke Jepang guna mempelajari sistem
ketentaraan di negeri Matahari Terbit itu. Di Jepang, Haushofer juga
didaulat menjadi instruktur resimen artileri tentara Nippon. Dari Jepang,
Haushofer yang menguasai banyak bahasa asing selain Jerman, seperti
Inggris, Perancis, dan Rusia, ditugaskan melawat ke beberapa negara Timur
Jauh seperti Korea, India, Tibet, Cina, dan lain-lain.

Selama bertugas di Timur Jauh inilah, Haushofer yang memang telah lama
tertarik dengan ajaran-ajaran mistis dari Timur melanjutkan penelitiannya.
Dia juga menerjemahkan beberapa literatur Budhisme dan Hindu. Menurut
sejumlah peneliti, ketertarikan Haushofer terhadap ajaran mistis-esoteris
bukan tanpa sebab. Latar belakang keluarganya dipercaya memang telah
bersentuhan dengan hal-hal seperti ini. Haushofer merupakan salah satu
tokoh dari sebuah persaudaraan mistis pemuja setan (Kabbalah).

Dari perjalanannya keliling Timur Jauh inilah, Haushofer kemudian
memperkenalkan sebuah Teori Geo-Politik yang dinamakan “The Heartland
Theory” yang intinya berbunyi: “Siapa pun yang bisa menguasai Heartland
maka ia akan mampu menguasai World Island”.

Heartland (jantung bumi) merupakan sebutan bagi wilayah Asia Tengah, dan
World Island mengacu pada kawasan Timur Tengah. Kedua kawasan itu
merupakan kawasan kaya minyak bumi dan juga gas. Teori ini sesungguhnya
bukan otentik dari Haushofer, namun adaptasi dari Sir Alfrod McKinder
(1861-1947), seorang pakar geopolitik asal Inggris terkemuka abad ke-19.
Nicholas Spykman, seorang sarjana Amerika, menambahkan teori ini dengan
mengatakan, “Siapa pun yang bisa menguasai World Island, maka ia menguasai
dunia.” (Di Milenium ketiga, teori ini dianut oleh Gedung Putih sehingga
Bush berambisi menguasai Afghanistan, Irak, dan negeri-negeri sekitarnya).

Haushofer dikenal dekat dengan perwira-perwira Jerman, bahkan berkawan
akrab dengan dua tokoh Nazi, Adolf Hitler dan Sekretarisnya, Rudolf Hess.
Kepada Hitler, Haushofer menyodorkan teori geopolitik dan juga teori ras
unggul bangsa Arya. Buku karangan Hitler yang diasisteni Hess berjudul
“Mein Kampf” (Perjuanganku, 1926)—buku ini menjadi buku suci Partai
Nazi—dilatarbelakangi teori yang dikemukakan Haushofer. Menurut Haushofer,
agar bangsa Jerman bisa menjadi bangsa terkuat di dunia, maka ras Arya
harus memurnikan dirinya dan menyingkirkan semua orang Jerman yang bukan
berasal dari ras ini. Teori Charles Darwin—juga Yahudi—pun dikemukakan
oleh Haushofer sehingga Adolf Hitler menjadi semakin jatuh dalam
pengaruhnya.

Berkat pengaruh dari Haushofer inilah, ketika Nazi berkuasa, maka
dilakukan pemurnian ras Arya secara besar-besaran. Semua orang Jerman yang
bukan berasal dari ras ini dikejar-kejar dan dihancurkan, secara khusus
orang Yahudi yang memang banyak mendiami wilayah Jerman menjadi target
utama. Masa lalu Hitler yang memiliki hubungan yang buruk dengan orang
Yahudi menambah kebenciannya terhadap bangsa yang satu ini. Secara
diam-diam Haushofer memprovokasi Hitler agar terus mengejar dan mengusir
orang-orang Yahudi dari Jerman dan kawasan sekitarnya.

Mengapa seorang Haushofer yang juga Yahudi Jerman berbuat seperti ini?
Jawabannya bisa ditemukan dalam sebuah pertemuan rahasia 13 keluarga
berpengaruh Yahudi di Judenstaat, Frankfurt, Bavaria, di kediaman Sir
Mayer Amschell Rothschild pada tahun 1773. Saat itu Rotshchild melontarkan
dua rencananya. Pertama, menyusun 25 program penguasaan dunia yang
kemudian kita kenal sekarang sebagai Protokolat Zionis. Yang kedua,
Rotshchild menyebut nama Adam Weishaupt—seorang mantan Yesuit—untuk
mendirikan dan memimpin organisasi konspiratif modern bernama Illuminati.
Pertemuan Frankfurt ini menyepakati, mereka harus menemukan kembali harta
karun King Solomon yang mereka yakini terbenam dalam reruntuhan Haikal
Sulaiman yang ada di bawah Masjidil Aqsha di Yerusalem. Caranya adalah
dengan merebut Yerusalem dari tangan bangsa Palestina yang sudah ribuan
tahun mendiaminya.

Seorang tokoh Yahudi bernama Theodore Hertzl ditugaskan menemui Sultan
Abdul Hamid II yang kala itu menjadi Khalifah Turki Utsmaniyah agar mau
menyerahkan Tanah Palestina bagi bangsa Yahudi. Sultan menolak
mentah-mentah permintaan ini walau kemudian Hertzl mengiming-imingi Sultan
dengan harta berlimpah. Sultan tidak bergeming sedikit pun. “Selama
jantungku masih berdetak dan darahku masih mengalir, aku haramkan Tanah
Palestina bagi kalian wahai Yahudi, ” demikian jawaban dari Sultan.
Akibatnya Hertzl dan petinggi Yahudi geram dan membuat satu strategi untuk
meruntuhkan khilafah dengan memunculkan seorang Turki Muda bernama Mustafa
Kemal Attaturk. Sultan Abdul Hamid II pun tersingkir. Kekhalifahan Turki
Utsmani dibubarkan, dan Mustafa Kemal Attaturk menjadi pemimpin Turki dan
mensekulerkan negeri itu. Satu penghalang telah tumbang. Walau demikian
Yerusalem belum bisa diduduki.

Theodore Hertzl kemudian menyelenggarakan Kongres Internasional Zionisme
(1897) yang diselenggarakan di Basel, Swiss. Kongres ini menyepakati bahwa
seluruh Yahudi-Diaspora, istilah bagi orang-orang Yahudi yang masih
terserak di seluruh dunia, agar secepatnya melakukan imigrasi ke Promise
Land atau yang menurut mereka Kota Suci Yerusalem. Seruan Kongres
Internasional Zionis ini tidak ditanggapi dengan antusias. Banyak keluarga
Yahudi yang sudah mapan di Eropa dan Amerika enggan pindah ke Yerusalem.
Meraka menolak seruan itu walau para ketua Zionis memaksanya.

Akhirnya tidak ada jalan lain, imigrasi Yahudi ke Palestina harus melalui
jalan paksaan. Harus ada satu kondisi yang memaksa orang-orang
Yahudi-Diaspora agar mau pindah ke Palestina. Akhirnya Haushofer berhasil
dengan gemilang mendekati Hitler dan kemudian—tanpa disadari—ulah Nazi
mengejar-ngejar orang Yahudi mengakibatkan banyak orang Yahudi yang kabur
dari negerinya dan berbondong-bondong ke Palestina.

Seperti yang telah dikemukakan oleh Norman Finkeltstein dalam “The
Holocaust Industry” atau Frederich Toben, peristiwa Holocaust sesungguhnya
didalangi oleh kaum Zionis-Yahudi guna memaksa orang-orang Yahudi lainnya
agar mau pindah ke Palestina, lewat tangan Hitler. Bahkan Norman
Finkelstein yang juga berdarah Yahudi menentang cara-cara kotor Zionis
ini. Dalam bukunya, Finkelstein membongkar mitos holocaust dan menyebutnya
sebagai proyek pemerasan yang dilakukan Zionis terhadap negara-negara
Eropa dan juga dunia, dengan mengorbankan kaum Yahudi Eropa yang
sebenarnya enggan untuk ke Palestina.

Di akhir Perang Dunia II, Haushofer ditangkap oleh pasukan Sekutu. Pada
tanggal 13 Maret 1946, Haushofer dan isterinya melakukan bunuh diri di
Pähl, Jerman Barat. Mengikut jejak Adolf Hitler dan Eva Braun yang
melakukan bunuh diri saat Berlin jatuh ke tangan Sekutu setahun
sebelumnya.(Rz)

dari :
http://www.eramuslim.com/berita/tha/7105090933-karl-haushofer-tokoh-yahudi-dibal\
ik-tragedi-holocaust.htm

“Haryo” <haryo_wicaksono@sigma.co.id>

 

[Masjid An-ni'mah Japos] Tahukah anda

[Masjid An-ni'mah Japos] Tahukah anda
Tahukah anda, di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata
LAKI-LAKI sebanyak
24 dan kata-kata PEREMPUAN juga berjumlah yang sama
sebanyak 24 ?
Tahukah anda, di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata
DUNIA sebanyak 115
dan kata-kata AKHIRAT juga berjumlah yang sama
sebanyak 115 ?
Tahukah anda, di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata
MALAIKAT sebanyak 88
dan kata-kata SYAITHAN juga berjumlah yang sama
sebanyak 88 ?
Tahukah anda, di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata
HIDUP sebanyak 145
dan kata-kata MATI juga berjumlah yang sama sebanyak
145 ?
Tahukah anda, di dalam Al Qur’an terdapat kata-kata
LAUT sebanyak 32 dan
kata-kata DARATAN berjumlah sebanyak 13 ?
Dimana 32 + 13 = 45
Luas Lautan 32/45 x 100% = 71,11% dari permukaan bumi
dan Luas Daratan
13/45 x 100% = 28,89% dari permukaan bumi. Dan ini
terbukti…

Ini Original versionnya.. ……

The Very interesting findings of Dr. Tariq Al Swaidan
might grasp your
attention: Dr.Tarig Al Swaidan discovered some verses
in the Holy Qur’an
That mention one thing is equal to another, ! i.e. men
are equal to
women. Although this makes sense grammatically, the
astonishing fact is
that the number of times the word man appears in the
Holy Qur’an is 24
and number of times the word woman appears is also 24,
therefore not
only is this phrase correct in the grammatical sense
but also true
mathematically, i.e. 24 = 24. Upon further analysis of
various verses,
he discovered that this is consistent throughout the
whole Holy Qur’an
where it says one thing is like another. See below for
astonishing
result of the words mentioned number of times in
Arabic Holy Qur’an

~ Dunia (one name for life) 115. Aakhirat (one name
for the life
after this world) 115

~ Malaika (Angels) 88. Shayteen (Satan) 88

~ Life 145…. Death 145

~ Benefit 50. Corrupt 50

~ People 50. Messengers 50

~ Ebl ees (king of devils) 11. Seek refuge from Eblees
11

~ Museebah (calamity) 75. Thanks ! 75

~ Spending (Sadaqah) 73. Satisfaction 73

~ People who are mislead 17. Dead people 17

~ Muslimeen 41. J Jihad 41

~ Gold 8. E Easy life 8

~ Magic 60.F Fitnah (dissuasion, misleading) ! 60

~ Zakat (Taxes Muslims pay to the poor) 32. Barakah
(Increasing
or blessings of wealth) 32

~ Mind 49. Noor 49

~ Tongue 25. S Sermon 25

~ Desite 8. F Fear 8

~ Speaking publicly 18. P Publicising 18

~ Hardship 114 . Patience 114

~ Muhammed 4. S Sharee’ah ( Muhammed’s teachings) 4

~ Man 24. Woman 24

And amazingly enough have a look how many times the
following words
appear:
Salat 5, Month 12, Day 365,
Sea 32, Land 13.
Sea + land = 32 + 13 = 45.
Sea = 32/45*100q.= 71.11111111% Land = 13/45*100
=28.88888889% .
Sea + land = 100.00%.
Modern science has only recently
proven that the water covers 71.111% of the earth,
while the land covers 28.889%.
Is this a coincidence? Question is that Who taught
Prophet
Muhammed (PBUH) all this? Reply automatically comes in
mind that
ALMIGHTY ALLAH taught him. This as the Holy Qur’an
also tells us this.

Please pass this on to all your friends Aayah 87 of
Suraa (Chapter)
Al-Anbia ! para 17 :
LA ILAHA ILA ANTA SUBHANAKA INI KUNTU MINA ZALIMEEN

Mr Luthfi Sulandjana <ridoluth78@yahoo.com>

3 PERTANYAAN???

3 pertanyaan ???

Ada seorang pemuda yang lama sekolah di luar negeri, kembali ke tanah air.
Sesampainya di rumah ia meminta kepada orang tuanya untuk mencari seorang
guru agama, kiyai atau siapa saja yang bisa menjawab 3 pertanyaannya.
Akhirnya orang tua pemuda itu mendapatkan orang tersebut, seorang kiyai.

Pemuda : Anda siapa Dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?
Kiyai : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab
pertanyaan anda.

Pemuda : Anda yakin? Sedangkan Profesor dan ramai orang yang pintar tida
mampu menjawab pertanyaan saya.
Kiyai : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.

Pemuda : Saya ada 3 pertanyaan:
1.Kalau memang Tuhan itu ada,tunjukan wujud Tuhan kepada saya
2.Apakah yang dinamakan takdir
3.Kalau syaitan diciptakan dari api kenapa dimasukan ke neraka yang dibuat
dari api, tentu tidak menyakitkan buat syaitan. Sebab mereka memiliki
unsur yang sama. Apakah Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba kyai tersebut menampar pipi pemuda tadi dengan keras.

Pemuda : (sambil menahan sakit) Kenapa anda marah kepada saya?
Kiyai : Saya tidak marah…Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3
pertanyaan yang anda ajukan kepada saya.

Pemuda : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?

Pemuda : Tentu saja saya merasakan sakit.
Kiyai : Jadi anda percaya bahawa sakit itu ada?

Pemuda : Ya!
Kiyai : Tunjukan pada saya wujud sakit itu!

Pemuda : Saya tidak bisa.
Kiyai : Itulah jawaban pertanyaan pertama…kita semua merasakan
kewujudan Tuhan tanpa mampu melihat wujudnya.

Kiyai : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
Pemuda : Tidak.

Kiyai : Apakah pernah terfikir oleh anda akan menerima tamparan dari
saya hari ini?
Pemuda : Tidak.

Kiyai : Itulah yang dinamakan takdir.

Kiyai : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar
anda?
Pemuda : Kulit.

Kiyai : Terbuat dari apa pipi anda?
Pemuda : Kulit.

Kiyai : Bagaimana rasanya tamparan saya?
Pemuda : Sakit.

Kiyai : Walaupun syaitan dijadikan dari api dan neraka juga terbuat
dari api, jika Tuhan menghendaki maka neraka akan menjadi tempat yang
menyakitkan untuk syaitan.

Sekarang anda mempunyai dua pilihan:
1. Biarkan E-mail ini tetap dalam mailbox anda (..dan kena pula tamparan
dari ‘u know who’)
2. Forward E-mail ini kepada orang yang anda kenali dan Insya Allah
keredhaan Allah akan dianugerahkan kepada setiap orang yang anda kirimi.

“Haryo” <haryo_wicaksono@sigma.co.id>

 

Puasa Pada Saat Ada yang Berlebaran Duluan

Puasa Pada Saat Ada yang Berlebaran Duluan

Rabu, 10 Okt 07 06:29 WIB

Kirim teman

Assalamualaikum wr wb

Saya mau tanya semoga Pak Ustad berkenan menjawab pertanyaan yang mengganjal pikiran saya selama ini:

Benarkah haram hukumnya kalau kita tetap berpuasa ramadhan pada hari di mana ada satu kaum atau suatu negara telah menjalankan sholat ied duluan, seperti Muhammadiyah lebih awal dibanding pemerintah?

Terima kasih sebelumnyanya pak ustad,

wassalamualaikum wr wb

Taw

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh,

Bagi yang bertaqlid kepada mujtahid bahwa lebaran jatuh pada hari Jumat, maka dia wajib konsekuen bahwa hari itu adalah tanggal 1 Syawwal, sehingga haram baginya untuk melakukan puasa.

Namun bagi yang bertaqlid kepada mujtahid bahwa lebaran jatuh pada hari Sabtu, maka dia juga harus konsekuen bahwa hari Jumat itu masih tanggal 30 Ramadhan. Dan haram bagi untuk tidak puasa di dalam bulan Ramadhan yang diyakininya.

Haramnya berpuasa di hari raya sama dengan haramnya tidak puasa secara sengaja di bulan Ramadhan. Tinggal pilih saja, mau taqlid dengan hasil ijtihad yang mana, yang diputuskan oleh Muhammadiyah atau oleh negara yang didukung oleh nyaris semua kalangan?

Tanpa harus menyalahkan hasil ijtihadnya Muhammadiyah, bila seseorang mau bertaqlid kepada hasil ketetapan pemerintah yang sah, maka dia harus konsekuen untuk tetap puasa di hari Jumat. Karena dalam keyakinannya, hari Jumat itu masih termasuk bulan Ramadhan.

Dan bagi seorang muslim, berpuasa di bulan Ramadhan itu hukumnya wajib. Bila ditinggalkan secara sengaja, maka hukumnya selain dosa besar juga belum tentu diterima Allah SWT ketika mengqadha’nya. Sebagimana hadits berikut ini:

Siapa yang membatalkan puasa 1 hari di bulan Ramadhan tanpa rukhshah (keringanan) atau sakit, tidak akan tergantikan walaupun dengan puasa selamanya, meski dia berpuasa. (HR Tirmizy, Abu Daud, Ibnu Majah, An-Nasai)

Adapun ada orang lain yang telah meyakini bahwa hari Jumat sudah lebaran, tidak ada pengaruhnya dan tidak menjadi sebab harus tidak puasa. Sebab mereka yang lebaran hari Juamt telah bertaqlid kepada ulama mereka. Sedangkan yang berlebaran di hari Sabtu, bertaqlid kepada ulama yang lain lagi. Masing-masing silahkan menjalankan ibadah sesuai dengan hasil ijtihad yang diyakininya.

Adapun dalil “Berpuasalah kamu bersama orang yang puasa dan berbukalah kamu bersama orang yang berbuka“, tidak menjadi dalil atas keharusan tidak puasa di hari Jumat bagi yang meyakini lebaran jatuh di hari Sabtu.

Mengapa?

Karena dalil di atas tidak berlaku bila hanya ada sebagian orang yang sudah berbuka duluan, tetapi berlaku bila yang melakukannya mayoritas muslim bersama dengan pemerintahnya.

Nanti bagaimana kalau misalnya hari Rabu sudah ada yang berijtihad sudah lebaran, apakah umat Islam se-Indonesia harus tidak puasa sejak hari Rabu, Kamis dan Jumat? Berarti mereka secara sengaja tidak puasa di hari-hari Ramadhan. Bayangkan betapa besar dosanya.

Dalil di atas sebenarnya justru berlaku sebalinya dari apa yang disalah-pahami, bahwa seharusnya setiap muslim mengikuti ijtihad mayoritas muslimin dan pemerintahnya. Bukan sebaliknya, yang mayoritas harus ikut kepada yang minoritas.

Tetapi sekali lagi, urusan lebaran jatuh pada hari apa, adalah masalah ijtihadiyah dan khilafiyah. Mereka yang ijtihadnya benar, akan dapat 2 pahala dan yang salah tidak akan berdosa. Bahkan tetap akan dapat pahala meski cuma satu pahalanya saja. Yah, lumayan dari pada tidak sama sekali.

Sedangkan mereka yang bertaqlid karena memang bukan ahli ijtihad, tapi berakhlaq kurang terpuji, misalnya memaki-maki sambil mencela dan berkata kasar kepada saudaranya yang mungkin kebetulan tidak sama pilihan taqlidnya, itulah yang berdosa.

Semoga Allah SWT menjaga hati dan lisan kita dari bahaya saling melecehkan sesama hamba-Nya, Amien.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ahmad Sarwat, Lc

“H Mirza Amin” <mirza@dayinmitra.co.id>

Malam Lailatul Qadar

· Malam Lailatul Qadar

Keutamaannya sangat besar, karena malam ini menyaksikan turunnya Al
Quran Al Karim yang membimbing orang-orang yang berpegang dengannya
ke jalan kemuliaan dan mengangkatnya ke derajat yang mulia dan abadi.
Ummat Islam yang mengikuti sunnah Rasulnya tidak memasang tanda-tanda
tertentu dan tidak pula menancapkan anak-anak panah untuk
memperingati malam ini (malam Lailatul Qodar/Nuzul Qur’an, red), akan
tetapi mereka bangun di malam harinya dengan penuh iman dan mengharap
pahala dari Allah.

Inilah wahai saudaraku muslim, ayat-ayat Qur’aniyah dan hadits-hadits
Nabawiyyah yang shahih yang menjelaskan tentang malam tersebut.

1. Keutamaan Malam Lailatul Qadar
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan
mengetahui bahwasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah
berfirman :

[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an)
pada malam kemuliaan. [2] Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan
itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada
malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin
Tuhannya untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar. [QS Al Qadar: 1 - 5]

Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan nan penuh hikmah :

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan
sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada malam itu
dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (yaitu) urusan yang
besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-
rasul, [6] sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui.”[QS Ad Dukhoon: 3 - 6]

2. Waktunya

Diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa malam
tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan akhir
malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini
berbeda-beda, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus
diberi judul Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadar, membawakan perkatan
para ulama dalam masalah ini, lihatlah).

Imam Syafi’I berkata : “Menurut pemahamanku, wallahu a’lam, Nabi
Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab sesuai yang ditanyakan, ketika
ditanyakan kepada beliau : “Apakah kami mencarinya di malam hari?”,
beliau menjawab : “Carilah di malam tersebut.”. (Sebagaimana dinukil
al Baghawi dalam Syarhus Sunnah (6/388).

Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam Lailatul Qadr itu pada
malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits `Aisyah
Radiyallahu `anha, dia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wasallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan
beliau bersabda : (yang artinya) “Carilah malam Lailatur Qadar di
(malam ganjil) pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.”. (HR
Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)

Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu, janganlah sampai
terluput dari tujuh hari terakhir, karena riwayat Ibnu Umar (dia
berkata) Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang
artinya) : “Carilah di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka
jangan sampai terluput tujuh hari sisanya.” (HR Bukari 4/221 dan
Muslim 1165).

Ini menafsirkan sabdanya : (yang artinya) “Aku melihat mimpi kalian
telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh
hari yang terakhir.” (Lihat maraji’ diatas).

Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada karena perdebatan
para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit Radiyallahu `anhu, ia berkata
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar pada malam Lailatul
Qadar, ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda : “Aku keluar
untuk mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi
fulan dan fulan (dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi
diketahui kapan lailatul qadar terjadi), semoga ini lebih baik bagi
kalian, maka carilah pada malam 29,27,25 (dan dalam riwayat lain :
tujuh, sembilan, lima). (HR Bukhari 4/232).

Telah banyak hadits yang mengisyaratkan bahwa malam Lailatul Qadar
itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam
ganjil sepuluh hari terakhir. Hadits yang pertama sifatnya umum,
sedang hadits kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih
diutamakan daripada yang umum, dan telah banyak hadits yang lebih
menerangkan bahwa malam Lailatul Qadar itu ada pada tujuh hari
terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi kalau tidak mampu dan
lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, cocoklah hadits-hadits
tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak terpisahkan.

Kesimpulannya :

Jika seseorang muslim mencari malam Lailatul Qadar, carilah pada
malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27 dan 29. Kalau
lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka
carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29.
Wallahu a’lam.

Paling benarnya pendapat lailatul qadr adalah pada tanggal ganjil 10
hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini adalah
hadits Aisyah, Ia berkata :
“Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10 terakhir pada bulan Ramadhan
dan berkata : “Selidikilah malam lailatul qadr pada tanggal ganjil 10
terakhir bulan Ramadhan”.

3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar

Sesungguhnya malam yang diberkahi ini, barangsiapa yang diharamkan
untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh kebaikan
(baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi)
orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh karena itu,
dianjurkan bagi muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan
kepada Allah untuk menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh
keimanan dan mengharapkan pahalaNya yang besar, jika (telah) berbuat
demikian (maka) akan diampuni Allah dosa-dosanya yang telah lalu. (HR
Bukhari 4/217 dan Muslim 759).

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam Shalallahu ‘alaihi wasallam
bersabda (yang artinya), ” Barangsiapa berdiri (shalat) pada malam
Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah,
maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” yang telah lalu. (HR
Bukhari 4/217 dan Muslim 759)

Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam tersebut. Telah
diriwayatkan dari Sayyidah `Aisyah Radiyallahu `anha, (dia)
berkata : “Aku bertanya, Ya Rasulullah (Shalallahu ‘alaihi wassalam),
Apa pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi),
apa yang harus aku ucapkan ?”. Beliau menjawab, “Allahumma
innaka `afuwwun tuhibbul `afwa fa’fu `annii. Ya Allah, Engkau Maha
Pengampun dan mencintai orang yang meminta ampunan, maka ampunilah
aku.”. (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah (3850), dari Aisyah, sanadnya
shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi Wadhaifi Ramadhan, halaman
55-57, karya ibnu Rajab al Hanbali.)

Saudaraku – semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu
untuk mentaatiNya – engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam
Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan
sholat) pada sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan
ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada istrimu dan keluargamu
untuk itu dan perbanyaklah amalan ketaatan.

Dari Aisyah Radiyallahu `anha, “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi
wassalam apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan),
beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu istri-istrinya
karena ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul Qadar),
menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR Bukhari
4/233 dan Muslim 1174).

Juga dari `Aisyah Radiyallahu `anha, (dia berkata) : “Adalah
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersungguh-sungguh (beribadah
apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir), yang tidak pernah
beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR Muslim 1174).

4. Tanda-tandanya

Ketahuilah hamba yang taat – mudah-mudahan Allah menguatkanmu dengan
ruh dariNya dan membantu dengan pertolongaNya – sesungguhnya
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menggambarkan paginya malam
Lailatul Qadar agar seorang muslim mengetahuinya.

Dari Ubay Radiyallahu `anhu, ia berkata : Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : “Pagi hari
malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan,
seperti bejana hingga meninggi.” (HR Muslim 762).

Dari Abu Hurairah, ia berkata : Kami menyebutkan malam Lailatul Qadar
di sisi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam beliau bersabda :
(yang artinya) “Siapa diantara kalian yang ingat ketika terbit bulan,
seperti syiqi jafnah.” (HR Muslim 1170. Perkataannya “Syiqi Jafnah”,
syiq artinya setengah, jafnah artinya bejana. Al Qadli `Iyadh
berkata :”Dalam hadits ini ada isyarata bahwa malam Lailatul Qadar
hanya terjadi di akhir bulan, karena bulan tidak akan seperti
demikian ketika terbit kecuali di akhir-akhir bulan.”)

Dan dari Ibnu Abbas Radiyallahu `anhu, ia berkata : Rasulullah
Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya) : ” (Malam)
Lailatul Qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak
juga dingin, (dan) keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah
kemerah-merahan.” (HR Thyalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar
(1/486), sanadnya hasan).

(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh
terbitan Pustaka Al-Mubarok (PMR), penerjemah Abdurrahman Mubarak
Ata. Cetakan I Jumadal Akhir 1424 H. Judul asli Shifat shaum an Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab “Malam Lailatul
Qadar”. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan
Abdul Hamid. Penerbit Al Maktabah Al islamiyyah cet. Ke 5 th 1416 H.
Edisi Indonesia)

“Haryo” <haryo_wicaksono@sigma.co.id>

 

INFORMASI PENERBANGAN GRATIS

INFORMASI PENERBANGAN GRATIS
AL-JENAZAH AIRLINES

Bila kita akan ‘berangkat” dari alam ini itu ibarat
penerbangan ke sebuah negara.
Dimana informasi tentangnya tidak terdapat dalam
brosur penerbangan, tetapi melalui Al-Qur’an dan
Al-Hadist.
Dimana penerbangan bukannya dengan Garuda Airlines,
Singapore Airlines, atau American Airlines, tetapi
Al-Jenazah Airlines.
Dimana bekal kita bukan lagi tas seberat 23Kg, tetapi
amalan yang tak lebih dan tak kurang.
Dimana bajunya bukan lagi Pierre Cardin, atau setaraf
dengannya, akan tetapi kain kafan putih.
Dimana pewanginya bukan Channel atau Polo, tetapi air
biasa yang suci.
Dimana passport kita bukan Indonesia , British atau
American, tetapi Al-Islam.
Dimana visa kita bukan lagi sekedar 6 bulan, tetapi
‘Laailaahaillallah’
Dimana pelayannya bukan pramugari jelita, tetapi
Izrail dan lain-lain.
Dimana servisnya bukan lagi kelas business atau
ekonomi, tetapi sekedar kain yang diwangikan.
Dimana tujuan mendarat bukannya Bandara Cengkareng,
Heathrow Airport atau
Jeddah International, tetapi tanah pekuburan.
Dimana ruang menunggunya bukan lagi ruangan ber AC
dan permadani, tetapi ruang 2×1 meter, gelap gulita.
Dimana pegawai imigrasi adalah Munkar dan Nakir,
mereka hanya memeriksa
apakah kita layak ke tujuan yang diidamkan.
Dimana tidak perlu satpam dan alat detector.
Dimana lapangan terbang transitnya adalah Al Barzah
Dimana tujuan terakhir apakah Syurga yang mengalir
sungai di bawahnya atau Neraka Jahannam.
Penerbangan ini tidak akan dibajak atau dibom, karena
itu tak perlu bimbang.
Sajian tidak akan disediakan, oleh karena itu tidak
perlu merisaukan masalah alergi atau halal haram
makanan.
Jangan risaukan cancel pembatalan, penerbangan ini
senantiasa tepat waktunya, ia berangkat dan tiba tepat
pada masanya.
Jangan pikirkan tentang hiburan dalam penerbangan,
anda telah hilang selera bersuka ria.
Jangan bimbang tentang pembelian tiket, ianya telah
siap di booking sejak anda ditiupkan ruh di dalam
rahim ibu.
YA!BERITA BAIK!! Jangan bimbangkan siapa yang duduk
di sebelah anda.
Anda adalah satu-satunya penumpang penerbangan ini.
Oleh karena itu bergembiralah selagi bisa! Dan
sekiranya anda bisa!
Hanya ingat! Penerbangan ini datang tanpa
‘Pemberitahuan’.
Cuma perlu ingat!! Nama anda telah tertulis dalam
tiket untuk Penerbangan….
Saat penerbangan anda berangkat…tanpa doa
Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah, atau ungkapan selamat
jalan.
Tetapi Inalillahi Wa Inna ilaihi Rajiuun….
Anda berangkat pulang ke Rahmatullah. Mati.
ADAKAH KITA TELAH SIAP UNTUK BERANGKAT?
‘Orang yang cerdas adalah orang yang mengingat
kematian. Karena dengan kecerdasannya dia akan
mempersiapkan segala perbekalan untuk menghadapinya.’
ASTAGHFIRULLAH 3X, semoga ALLAH SWT mengampuni kita
beserta keluarga… Amiin WALLAHU A’LAM
Catatan:
Penerbangan ini berlaku untuk segala umur…tanpa
kecuali, maka perbekalan lebih baik dipersiapkan sejak
dini…..sangat tidak bijak dan tidak cerdas bagi yang
menunda-nunda mempersiapkan perbekalannya.
SUARA YANG DIDENGAR MAYAT
Yang Akan Ikut Mayat Adalah Tiga hal yaitu:
1. Keluarga
2. Hartanya
3. Amalnya

Ada Dua Yang Kembali Dan Satu akan Tinggal Bersamanya
yaitu;
1. Keluarga dan Hartanya Akan Kembali
2. Sementara Amalnya Akan Tinggal Bersamanya.

Maka ketika Roh Meninggalkan Jasad…Terdengarlah
Suara Dari Langit Memekik, “Wahai hamba-Ku
Apakah Kau Yang Telah Meninggalkan Dunia, Atau Dunia
Yang
Meninggalkanmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Harta Kekayaan, Atau
Kekayaan Yang
Telah Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Menumpuk Dunia, Atau Dunia Yang
Telah
Menumpukmu
Apakah Kau Yang Telah Mengubur Dunia, Atau Dunia Yang
Telah
Menguburmu.”
Ketika Mayat Tergeletak Akan Dimandikan….Terdengar
Dari Langit Suara Memekik, “Wahai hamba-Ku…
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Te
rkulai Lemah
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini
Bungkam Tak Bersuara
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini
Tuli Dari
Seribu Bahasa
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa
Kini Raib Tak
Bersuara”

Ketika Mayat Siap Dikafan…Suara Dari Langit
Terdengar Memekik,”Wahai hamba-Ku
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha
Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai hamba-Ku…
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun
Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali
Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh
Pertanyaan.”

Ketika MayatDiusung…. Terdengar Dari Langit Suara
Memekik, “Wahai hamba-Ku..
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat.”

Ketika Mayat Siap Dishalatkan….Terdengar Dari
Langit Suara Memekik, “Wahai hamba-Ku..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat
Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk.”

Ketika MayatDibaringkan Di Liang Lahat….terdengar
Suara Memekik Dari Langit,”Wahai hamba-Ku…..
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di
Dunia Untuk
Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini Wahai Fulan
Anak Si Fulan…
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira,Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau
Bungkam Seribu
Bahasa.”

Ketika Semua Manusia Meninggalkannya
Sendirian….Allah Berkata Kepadanya, “Wahai
Hamba-Ku…..
Kini Kau Tinggal Seorang Diri
Tiada Teman Dan Tiada Kerabat
Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap..
Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri
Padahal, Karena Mereka Kau Pernah LanggarPerintahku
Hari Ini,….
Akan Kutunjukan Kepadamu
Kasih Sayang-Ku
Yang Akan Takjub Seisi Alam
Aku Akan Menyayangimu
Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya”.

Kepada Jiwa-Jiwa Yang Tenang Allah Berfirman, “Wahai
Jiwa Yang Tenang
Kembalilah Kepada Tuhanmu
Dengan Hati Yang Puas Lagi Diridhai-Nya
Maka Masuklah Ke Dalam Jamaah Hamba-Hamba-Ku
Dan Masuklah Ke Dalam Jannah-Ku”
sampaikan Kepada Rekan-Rekan Muslim Lainnya untuk
saling mengingatkan…!!!”Semoga Kematian akan menjadi
pelajaran yang berharga bagi kita dalam menjalani
hidup ini”.
Rasulullah SAW. menganjurkan kita untuk senantiasa
mengingat mati (maut) dan dalam sebuah hadisthnya yang
lain, beliau bersabda “wakafa bi almauti wa’idha”,
artinya, cukuplah mati itu akan menjadi pelajaran
bagimu!
Bahan Renungan Untuk kita yang mungkin terlalu sibuk
bekerja…
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan
merenungkan tentang kematian…
Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi
kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak
pernah tau kapan kedatangannya. Sesuatu yang bagi
sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan
kematian akan menjemput kita???

Mr Luthfi Sulandjana <ridoluth78@yahoo.com>