KEMULIAAN LANGIT ARAFAH DI SAAT WUKUF

KEMULIAAN LANGIT ARAFAH DI SAAT WUKUF

 Wukuf adalah puncaknya haji. Secara fisik, wukuf Arafah adalah puncak berkumpulnya seluruh jamaah, yang berjumlah jutaan, dari penjuru dunia dalam waktu bersamaan. Secara amaliah, wukuf Arafah mencerminkan puncak penyempurnaan haji kita. Di Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbahnya yang terkenal dengan nama khutbah wada’ atau khutbah perpisahan, karena tak lama setelah menyampaikan khutbah itu beliaupun wafat. Di saat itu, ayat Al-Qur’an, surat al-Maa’idah ayat 3 turun sebagai pernyataan telah sempurna dan lengkapnya ajaran Islam yang disampaikan Allah SWT melalui Muhammad saw. Firman Allah SWT : “..Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu….” (al-Maa’idah:3)

Arafah merupakan gambaran padang Mahsyar, yang nantinya semua makhluk dikumpulkan disana sebelum melangkah ke surga atau neraka. Kehadiran kita di Arafah memberi arti dan nuansa akhirat dengan Mahsyarnya, sekaligus merenunginya untuk bersiap-siap menghadapi hal itu.
Arafah juga merupakan tempat bertemunya Adam dan Hawa setelah beratus tahun saling mencari di muka bumi.
Wukuf artinya hadir dan berada di Arafah pada waktu tertentu antara waktu dzuhur dan ashar.
Disini masing-masing jamaah dipersilahkan untuk mengkondisikan dirinya berkonsentrasi kepada Allah, melakukan perenungan atas dirinya, apa yang telah dilakukan selama hidupnya, merenungi kebesaran Allah melalui Asmaul Husna-Nya, merenungi hari akhirat.
Bentangkan dosa-dosamu di padang Arafah ini, ingatlah satu persatu dosa-dosa yang pernah engkau lakukan, ingatlah betapa waktumu selama ini habis terbuang sia-sia karena lebih banyak digunakan untuk memperindah kehidupan duniamu. Pengakuan yang jujur dan ikhlas, tanpa rasa sombong dan takabur, di hadapan Allah adalah puncak amaliah haji. Itulah Arafah, wukuf kita adalah untuk mendefinisikan hakikat keberadaan kita dihadapan Allah, sekalipun sebenarnya Allah telah mengetahui itu semua.
Pandanglah langit Arafah. Renungilah bahwa pada hari yang mulia itu Allah SWT sedang memanggil para malaikatnya berkumpul di langit Arafah, dan membangga-banggakan umatnya yang sedang wukuf di Arafah di hadapan para malaikatnya di langit.
Disebutkan dalam hadits qudsi bahwa Allah berfirman bahwa :
“ Lihatlah kepada hamba-Ku di Arafah yang lesu dan berdebu. Mereka datang kesini dari penjuru dunia. Mereka datang memohon rahmat-Ku sekalipun mereka tidak melihatku. Mereka minta perlindungan dari azab-Ku, sekalipun mereka tidak melihat Aku”
Allah sangat memuliakan hari wukuf di Arafah. Hari itu, Allah mendekat sedekat-dekatnya kepada orang-orang yang wukuf di Arafah untuk mendengarkan ungkapan dan keluhan hati mereka, menatap dari dekat wajah dan perilaku mereka. Nabi Muhammad saw bersabda :
. . . Ia (Allah) mendekat kepada orang-orang yang di Arafah. Dengan bangga Ia bertanya kepada para malaikat, Apa yang diinginkan oleh orang-orang yang sedang wukuf itu ?
Pada hari itu, Allah senang sekali jika kita berdoa kepada-Nya. Ia mengabulkan semua doa mereka disana, sebagaimana tersebut dalam hadist yang lain :
Sabda Rasullullah saw : “Diantara berbagai jenis dosa, ada dosa yang tidak akan tertebus kecuali dengan melakukan wukuf di Arafah” (disinadkan oleh Ja’far bin Muhammad sampai kepada Rasulullah saw).
Bahkan Allah murka ketika manusia tidak yakin dosanya diampunkan di Arafah, seperti sabda Rasullullah saw : “Yang paling besar dosanya diantara manusia adalah seseorang yang berwukuf di Arafah lalu berprasangka bahwa Allah tidak memberinya ampun” (Al Khatib dalam kitab Al-Muttafaq wal Muftaraq)
Demikian agung dan mulianya hari Arafah ini, meski wukuf hanya beberapa jam saja. Sungguh sangat penting berdoa di Arafah, disaksikan dari dekat oleh Allah SWT dan dibangga-banggakan-Nya kita di depan para malaikatnya.
Hai malaikat-Ku ! Apa balasan (bagi) hamba-Ku ini, ia bertasbih kepada-Ku, ia bertahlil kepada-Ku, ia bertakbir kepada-Ku, ia mengagungkan-Ku, ia mengenali-Ku, ia memuji-Ku, ia bershalawat kepada nabi-Ku. Wahai para malaikat-Ku ! Saksikanlah, bahwasanya Aku telah mengampuninya, Aku memberi syafaat (bantuan) kepadanya. Jika hambaku memintanya tentu akan Kuberikan untuk semua yang wukuf di Arafah ini.”
(Sumber : Rahasia Haji, Imam al-Ghozali, dengan beberapa edit oleh Penjaga Kebun)
dedy agung <dedyagung@yahoo.com>

Jangan salah 1 ons bukan 100 gram !!!

Jangan salah 1 ons bukan 100 gram !!!

Sekedar info buat yang belum tahu, klo yang udah, sekedar mengingatkan
*1 ONS BUKAN 100 GRAM.* PENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG.
Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir
tahun lalu.
Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang
telah berlangsung bertahun-tahun.
Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari
suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang
selama itu
dianggap selalu gagal.
Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku
petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce. Kesalahan fatal muncul
karena yang
bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram,
sesuai pelajaran
yang ia terima dari sekolah.
Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk
membela diri dgn.
cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.
Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce)adalah satuan berat
senilai 1/10
kilogram.
Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah atau dikenal
secara
internasional tidak bisa ditemukan. SALAH KAPRAH YANG TURUN-TEMURUN.
Prihatin dan
penasaran atas kasus diatas, saya mencoba menanyakan hal ini kepada
lembaga yang paling berwenang atas system takar-timbang dan ukur di
Indonesia , yaitu
Direktorat Metrologi .
Ternyata, pihak Dir. Metrologi pun telah lama melarang pemakaian satuan
ons untuk ekivalen 100 gram. Mereka justru mengharuskan pemakaian satuan
yang termasuk
dalam Sistem Internasional (metrik) yang diberlakukan resmi di Indonesia
.Untuk ukuran
berat, satuannya adalah gram dan kelipatannya.
Satuan *Ons bukanlah bagian dari sistem metrik* ini dan untuk menghilangkan
kebiasaan
memakai satuan ons ini, Direktorat Metrologi sejak lama telah memusnahkan
semua anak
timbangan (bandul atau timbal) yang bertulisan “ons” dan “pound”.
Lepas dari adanya kebiasaan kita mengatakan 1 ons = 100 gram dan 1 pound =
500 gram,
ternyata *tidak pernah ada acuan system takar-timbang legal* atau pengakuan
internasional
atas satuan ons yang nilainya setara dengan 100 gram.
Dan dalam sistem timbangan legal yang diakui dunia internasional, *tidak
pernah dikenal
adanya satuan ONS khusus **Indonesia **. Jadi, hal ini adalah suatu
kesalahan yang
diwariskan turun-temurun. Sampai kapan mau dipertahankan ?
BAGAIMANA KESALAHAN DIAJARKAN SECARA RESMI ?
Saya sendiri pernah menerima pengajaran salah ini ketika masih di bangku
sekolah dasar.
Namun, ketika saya memasuki dunia kerja nyata, kebiasaan salah yang
nyata-nyata diajarkan
itu harus dibuang jauh karena akan menyesatkan.
Beberapa sekolah telah saya datangi untuk melihat sejauh mana penyadaran
akan penggunaan
sistem takar-timbang yang benar dan sah dikemas dalam materi pelajaran
secara benar, dan
bagaimana para murid (anak-anak kita) menerapkan dalam hidup sehari-hari.
Sungguh
memprihatinkan. Semua sekolah mengajarkan bahwa 1 ons = 100 gram dan 1 pound
= 500 gram,
dan anak-anak kita pun menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari.
“Racun” ini sudah tertanam didalam otak anak kita sejak usia dini. Dari
para guru, saya mendapatkan penjelasan bahwa semua buku pegangan yang
diwajibkan atau disarankan oleh Departemen Pendidikan Indonesia mengajarkan
seperti itu.
Karena itu, tidaklah mungkin bagi para guru untuk melakukan koreksi selama
Dep. Pendidikan belum merubah atau memberikan petunjuk resmi.
TANGGUNG JAWAB SIAPA ? Maka, bila terjadi kasus-kasus serupa diatas,
Departemen Pendidikan kita jangan lepas tangan.

Tunjukkanlah kepada masyarakat kita terutama kepada para guru yang
mengajarkan kesalahan ini,salah satu alasannya agar tidak menjadi beban
psikologis bagi
mereka; *”acuan sistem timbang legal yang mana yang pernah diakui/
diberlakukan
secara internasional, yang menyatakan bahwa :
**1 ons adalah 100 gram, 1 pound adalah 500 gram.”?
Kalau Dep.Pendidikan tidak bisa menunjukkan acuannya, mengapa hal ini
diajarkan
secara resmi di sekolah sampai sekarang ?

Pernahkan Dep. Pendidikan menelusuri, di negara mana saja selain Indonesia
berlaku
konversi 1 ons = 100 gram dan 1 pound = 500 gram?
Patut dipertanyakan pula, bagaimana tanggung jawab para penerbit buku
pegangan sekolah yang melestarikan kesalahan ini?
Kalau Dep. Pendidikan mau mempertahankan satuan *ons yang keliru* ini,
sementara
pemerintah sendiri melalui Direktorat Metrologi melarang pemakaian satuan
“ons” dalam
transaksi legal, maka konsekwensinya ialah harus dibuat sistem baru
timbangan
Indonesia (versi Depdiknas).
Sistem baru inipun harus diakui lebih dulu oleh dunia internasional sebelum
diajarkan
kepada anak-anak.

Perlukah adanya system timbangan Indonesia yang konversinya adalah 1 ons
*(Depdiknas) * =
100 gram Dan 1 pound *(Depdiknas) * = 500 gram.? Bagaimana “Ons dan Pound
*(Depdiknas) *” ini dimasukkan dalam sistem metric yang sudah baku diseluruh
dunia?

Siapa yang mau pakai?. HENTIKAN SEGERA KESALAHAN INI. Contoh kasus
diatas hanyalah satu diantara sekian banyak problema yang merupakan
akibat atau korban kesalahan pendidikan. Saya yakin masih banyak
kasus-kasus senada yang terjadi, tetapi tidak kita dengar.

Salah satu contoh kecil ialah, banyak sekali ibu-ibu yang mempraktekkan
resep kue dari buku luar negeri tidak berhasil tanpa diketahui dimana
kesalahannya. Karena ini kesalahan pendidikan, masalah ini sebenarnya
merupakan masalah nasional pendidikan kita yang mau tidak mau harus
segera dihentikan. Departemen Pendidikan tidak perlu malu dan basa-basi
diplomatis mengenai hal ini.

Mari kita pikirkan dampaknya bagi masa depan anak-anak Indonesia .

Berikan teladan kepada bangsa ini untuktidak malu memperbaiki
kesalahan. Sekalipun hanya untuk pelajaran di sekolah, dalam hal
Takar-Timbang- Ukur, Dep. Pendidikan tidak memiliki supremasi
sedikitpun terhadap Direktorat Metrologi sebagai lembaga yang paling
berwenang
diIndonesia. Mari kita ikuti satu acuan saja, yaitu Direktorat Metrologi.
Era Globalisasi tidak mungkin kita hindari, dan karena itu anak-anak kita
harus dipersiapkan dengan benar.
Benar dalam arti landasannya, prosesnya, materinya maupun arah
pendidikannya.

Mengejar ketertinggalan dalam hal kualitas SDM negara tetangga saja
sudah merupakan upaya yang sangat berat.Janganlah malah diperberat
dengan *pelajaran sampah* yang justru bakal menyesatkan.

Didiklah anak-anak kita untuk mengenal dan mengikuti aturan dan standar
yang berlaku SAH dan DIAKUI secara internasional, bukan hanya yang rekayasa
lokal saja.
Jangan ada lagi korban akibat pendidikan yang salah.

Kita lihat yang nyata saja, berapa banyak TKI diluar negeri yang
berarti harus mengikuti acuan yang berlaku secara internasional.
Anak-anak kita memiliki HAK untuk mendapatkan pendidikan yang benar
sebagai upaya mempersiapkan diri menyongsong masa depannya yang akan penuh
dengan
tantangan berat. ACUAN MANA YANG BENAR? Banyak sekali literatur, khususnya
yang dipakai
dalam dunia tehnik, dan juga ensiklopedi ternama seperti Britannica, Oxford
,
dll.

*(maaf, ini bukan promosi)* menyajikan tabel-tabel konversi yang tidak
perlu diragukan lagi. Selain pada buku literatur, tabel-tabel konversi
semacam itu dapat dijumpai dengan mudah di-dalam buku harian/diary/
agenda yang biasanya diberikan oleh toko atau produsen suatu produk
sebagai sarana promosi. *Salah satu* konversi untuk satuan berat yang
umum dipakai SAH secara internasional adalah sistem avoirdupois/ avdp.
(baca : averdupoiz).

1 ounce/ons/onza = 28,35 gram *(bukan 100 g.)*
1 pound = 453 gram *(bukan 500 g.)*
1 pound = 16 ounce *(bukan 5 ons)* Bayangkan saja, bagaimana jadinya
kalau seorang apoteker meracik resep obat yang seharusnya hanya diberi
28 gram, namun diberi 100 gram.

Apakah kesalahan semacam ini bisa di kategorikan sebagai malpraktek?
Pelajarannya memang begitu, kalau murid tidak mengerti, dihukum!!!
Jadi, kalau malpraktik, logikanya adalah tanggung jawab yang mengajarkan.

(*ini hanya gambaran/ilustrasi salah satu akibat yang bisa ditimbulkan,
bukan kejadian sebenarnya, tetapi dalam bidang lain banyak sekali
terjadi)* KALAU BUKAN KITA YANG MENYELAMATKAN – LALU SIAPA ?.
Melalui tulisan ini saya ingin mengajak semua kalangan, baik kalangan
pemerintah, akademis, profesi, bisnis/pedagang, sekolah dan orang tua dan
juga yang
lainnya untuk ikut serta mendukung penghapusan satuan “ons dan pound yang
keliru” dari
kegiatan kita sehari-hari.

Pengajaran sistem timbang dgn. satuan Ounce dan Pound seharusnya
diberikan sebagai pengetahuan disertai kejelasan asal-usul serta *rumus
konversi yang
benar*. Hal ini untuk membuang kebiasaan salah yang telah melekat dalam
kebiasaan kita,
yang bisa mencelakakan/ menyesatkan anak-anak kita, generasi penerus bangsa
ini.

LEMBAR PELENGKAP TAKAR – UKUR – TIMBANG MENGIKUTI SISTEM
METRIK YANG BERLAKU SEJAK THN *1799*. *Kuantitas* *Satuan* *Simbol*
*Keterangan* Panjang meter m bukan mtr.Luas meter persegi m2Isi/volume
meter kubik m3Berat gram g bukan gr.Takaran liter 1 l = 1000 cm3
(cc)Suhu/temperatur e derajat Celcius oC BEBERAPA SEBUTAN / AWALAN
UNTUK FAKTOR PENGALI DALAM SISTEM METRIK
AWALAN FAKTOR PENGALI SIMBOL/SINGKATAN CONTOH PEMAKAIAN Giga
1.000.000.000 G GHz. Mega 1.000.000 M MW kilo 1.000 k km hecto 100 h ha
deka 10 da dam deci 0,1 d dm centi 0,01 c cm milli 0,001 m ml micro
0,000.001 *m* mF dan seterusnya.
Dalam sistem metrik memang dikenal *1 are = 100 m2* khusus untuk ukuran
tanah yang diakui
sah secara internasional.
*Untuk satuan ONS yang mengartikan kelipatan 100 g., apalagi POUND yang
mengartikan kelipatan 500 g.,tidak pernah ada didalam system metrik
maupun non-metrik/imperial yang pernah diberlakukan sah secara
internasional.

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

.

Sesama Rabbi Yahudi, Berdebat Seru tentang Nabi

 

Sesama Rabbi Yahudi, Berdebat Seru tentang Nabi

  Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
 
Pemandangan seru di kota Seville, Spanyol. Sesama rabbi Yahudi, mereka berdebat dengan ngotot tentang Nabi kita tercinta Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wa sallam

Kabar Dari New York (KDNY):
oleh M. Syamsi AliBaru kali ini saya menyaksikan, dua orang Rabbi Yahudi, satu dari Israel, satunya lagi dari Denmark, berdebat seru dan ngotot tentang Nabi kita tercinta Shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Rabbi Israel mengerahkan ayat-ayat dalam kitab yang diyakininya sebagai Taurat, dan menyimpulkan bahwa kitab agama Yahudi itu tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, sehingga kebenaran agamanya juga ditolak. Sedangkan yang dari Denmark juga menggunakan kitab yang sama, ngotot habis-habisan menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah seorang nabi utusan Tuhan. Subhanallaah.Pemandangan seru itu saya saksikan di kota Seville, salah satu bagian dari wilayah Islam Andalusia, Spanyol. Di tahun 1492, kaum Muslimin dan Yahudi di negeri ini dipaksa memilih: memeluk agama Katolik, atau dibantai habis tak pandang bulu. Minggu lalu, 514 tahun sesudah pembantaian kejam itu, saya menghadiri Konferensi Internasional Ulama Islam dan Yahudi untuk Perdamaian di Seville (19-23 Maret 2006). Konferensi ini adalah yang kedua kalinya dan dikelola oleh Hommes de Parole, sebuah organisasi NGO yang bergerak di bidang hubungan Muslim-Yahudi. Konferensi I dilangsungkan bulan Januari 2005 lalu di Brussel. Sekitar 200-an ulama Islam dan Yahudi dari berbagai penjuru dunia serta lebih seratus peninjau maupun para ahli dari kalangan agama lain dan akademis hadir serta dalam acara tersebut.

Dibuka oleh raja Spanyol dan dihadiri oleh Pangeran Hassan dari Jordania, selama tiga hari itu, para ulama Islam dan Yahudi duduk bersama membahas kemungkinan-kemungkinan jalan keluar dari berbagai konflik yang ada di antara mereka. Saya bersama empat teman lainnya dari Amerika Serikat, termasuk Imam Muzammil Siddiqui (mantan President ISNA, Islamic Society of North America), diundang dalam kapasitas sebagai peserta utama (main participants) yang diharapkan memberikan masukan-masukan selama konferensi berlangsung. Sedangkan dari Palestina, ada sekitar 7 orang peserta dan Israel mengutus sekitar 9 Rabbi dan pengamat.

Tanpa mengingkari adanya hal-hal positif dari pertemuan itu, saya melihatnya tidak lebih dari sebuah “basa-basi” politik ketimbang murni sebagai upaya untuk mencari solusi dari permasalahan Muslim dan Yahudi. Minimal ada dua alasan saya menyimpulkan seperti itu:

Pertama, dari kalangan Yahudi nampak terwakili secara baik. Hampir semua “Chief Rabbi” dari berbagai negara, termasuk Israel dan negara-negara Eropa, diundang sebagai peserta utama. Tapi dari kalangan Islam, selain tidak mewakili kaum Muslimin secara merata, termasuk tidak mengundang ulama-ulama dari negara-negara Muslim selain Arab, seperti Indonesia, Malaysia, Pakistan, Bangladesh, dan lain-lain, juga yang diundang nampaknya bukan ulama-ulama yang berkaliber internasional.

Kedua, agenda bahasan selama konferensi tidak menyentuh hal-hal yang dianggap sebagai “the heart of all issues” (jantung permasalahan), yaitu issu Al-Quds (Jerussalem) dan Palestina. Padahal semua menyadari bahwa kerenggangan antara kaum Muslim dan Yahudi tidak disebabkan oleh perbedaan agama, melainkan karena Yahudi dipandang sebagai penjajah. Issu inilah yang kemudian menjadikan delegasi Palestina bersikukuh untuk dibahas, walau terkadang nampak keluar dari konteks pertemuan. Pada hari pertama bahkan terjadi “walk out” dari mereka karena masalah Palestina tidak dimasukkan dalam agenda pembahasan selama tiga hari itu.

Namun demikian, pertemuan tersebut memiliki makna positif tersendiri, mengingat

kompleksitas permasalahan yang dihadapi umat manusia. Salah satunya adalah adanya persamaan pendapat tentang bahaya laten “sekularisme-liberalisme” yang mengancam sendi-sendi kehidupan beragama di seluruh penjuru dunia, khususnya di dunia barat. Dalam hal ini, hampir semua ulama, baik Muslim maupun Yahudi sependapat. Chief Rabbi dari Jerman misalnya mengatakan, lebih 65% Yahudi di Jerman tidak mengimani Tuhan. Sebaliknya, agama tidak lebih dari sebuah “cultural affiliation” (ikatan budaya) bagi anak-anak muda.

Pada hari pertama dibahas tentang “Woman, Family Modernity” (peranan wanita, keluarga dalam menjaga integritas agama dalam konteks dunia modern). Walau ada perbedaan-perbedaan dalam melihat teknikalitas pendekatan kepada “gender issue”, kedua pihak sepakat bahwa masing-masing agama telah memberikan hak-hak yang sesuai kepada kaum hawa. Ulama Yahudi dalam sesi ini banyak belajar dari sejarah Rasulullah SAW dalam memberdayakan kaum wanita. Bahkan banyak diantara mereka yang kemudian meminta agar konsepsi pemberdayaan wanita Islam ini diperkuat di kalangan dunia Barat, sehingga mereka sadar dari dua kesalahan:

Pertama, kesalahan tentang konsepsi emansipasi wanita. Di mana wanita, atas nama kebebasan (women emancipation) terjatuh kembali ke dalam perbudakan baru yang tertutupi oleh apa yang disebut sebagai “modernity”. Wanita menjadi budak komsumerisme, dan tanpa disadari kembali menjadi “object” seperti masa-masa lalu.

Kedua, dunia Barat masih menganggap bahwa wanita dalam Islam belum menemukan kebebasan. Dan biasanya “judgment” (penilaian) ini lebih disebabkan oleh kasus-kasus yang terjadi di negara-negara Muslim. Untuk itu, disepakati bahwa dalam melihat ajaran agama, diperlukan kecermatan sehingga tidak mencampurbaurkan antara praktik-praktik budaya dengan ajaran universal agama itu sendiri.

Pada hari kedua dibahas mengenai “Islam-phobia dan anti Semitism” dengan cukup seru. Masing-masing pihak merasa “victims” dari sikap anti pihak lain ini. Namun pada akhirnya, disepakati bahwa tanpa mengingkari adanya perbedaan-perbedaan diantara kedua pihak, ternyata dari sudut pandang teologis, Islam dan Yahudi memiliki kedekatan persepsi. Untuk itu, diperlukan kesadaran untuk memandang semua permasalahan pada tempatnya yang (appropriateness) sehingga tidak mecampuradukkan antara berbagai issu yang ada. Sebab jika ini terjadi, maka tidak akan ditemukan celah untuk melangkah ke arah rekonsiliasi dalam rangka mencari solusi dari issu-issu yang lebih mendasar.

Yang menarik pada hari kedua ini, diskusi dipandu seorang Pendeta Israel dengan bahasa Arabnya yang kental mengutip ayat-ayat Al-Qur’an. Bahkan di saat membuka acara, sang pendeta mengucapkan salam dengan “uhayyikum tahiyyatal ambiya, min Musa wa Isa, wa Muhammad” (saya mengucapkan salam penghormatan kepada kalian dengan salamnya para nabi, dari Musa, ‘Isa, dan Muhammad): “Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh”.

Hari ketiga didesain untuk sebuah acara interaksi diskusi secara berkelompok dengan nama “Open Space”. Dalam acara ini masing-masing kelompok bebas menentukan topik diskusi masing-masing, yang pada akhirnya disampaikan dalam pertemuan paripurna. Salah satu yang menarik dari kelompok-kelompok diskusi itu adalah issu “Pengakuan Agama lain dan Kebenaran Absolut”. Hampir semua sepakat bahwa masing-masing agama mengharuskan pengikutnya meyakini kebenarannya secara absolute, tanpa mengurangi rasa hormat kepada keputusan orang lain untuk mengambil keputusan dalam keyakinannya.

Satu hal yang menarik dari pembahasan ini adalah perbedaan pendapat yang tajam antara seorang profesor dari Israel dan Chief Rabbi dari Denmark. Ketika sampai pada pambahasan tentang Nabi Muhammad SAW, Profesor dari Israel ini bersikukuh bahwa Kitab Taurat tidak mengakui adanya Nabi Muhammad, maka tidak ada alasan untuk menerima kebenaran ajarannya. Sedangkan Chief Rabbi dari Denmark, selain menyampaikan argumentasi-argumentasi logis, juga menyampaikan alasan-alasan teologis dengan mengutip ayat-ayat dalam bahasa Ibrani yang mirip ayat-ayat Al-Qur’an, mendukung kebenaran Rasul Islam.

Kelompok lain yang cukup seru pada acara “Open Space” ini adalah kelompok yang mebahas sebuah topik berjudul “Two States, One Goal”. Tentunya dimaksudkan Palestina dan Israel dengan tujuan sama, hidup damai sebagai tetangga. Hampir semua delegasi Palestina hadir dalam acara ini. Nampak juga beberapa Rabbi dari Israel. Yang menarik, walau di antara mereka terjadi perdebatan sengit dan menceritakan masing-masing penderitaan di masing-masing pihak, mereka saling melempar senyum dan persahabatan. Salah satu kesimpulan sebagai “action plan” dari kelompok ini adalah perlunya kunjungan timbal balik antara ulama Islam Palestina ke Israel dan Ulama Yahudi ke Palestina.

Konferensi II Ulama Islam dan Yahudi ditutup pada hari ketiga sore hari dengan berbagai acara, antara lain, pidato dari Walikota Seville dan atraksi musik Spanyol yang memiliki lirik musik yang persis dengan musik Timur Tengah. Yang menarik pula adalah pernyataan Walikota Seville yang mengatakan, “Tentu kita menyesali pemaksaan pemeluk agama lain (Muslim dan Yahudi) di masa lalu ke dalam agama Katolik. Juga diakui bahwa keindahan dan kemasyhuran Spanyol dan Seville adalah karena kontribusi “musalman” (kaum Muslim) di masa lalu.”

Perjalanan singkat saya ke Spanyol menumbuhkan perasaan konflik dalam dada. Di satu sisi saya sedih melihat pengalaman-pengalaman pahit perjalanan sejarah yang yang suram itu, tapi juga bangga dengan pencapaian-pencapaian yang pernah dihasilkan oleh anak-anak umat ini. Tentunya, kebanggaan ini bukan semata kebanggaan sejarah. Tapi semoga menjadi pemacu dalam melakukan langkah-langkah besar lagi dalam upaya meraih kembali kejayaan di masa silam tersebut. Hanya dengan doa dan kerja keras dalam naungan iman kepada Pencipta, jiwa optimisme itu semakin bersinar. Semoga “the land of Sun Shine” (Spain) ini akan tersinari kembali oleh cahaya kebenaran yang pernah menyinari lorong-lorong Kordoba, Granada, dan Seville di masa lalu.

*) Penulis Imam Masjid Islamic Cultural Center of New York . Tulisan ini dimuat www.hidayatullah.com
haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

Penemu Blue Energy Warga Nganjuk

Penemu Blue Energy Warga Nganjuk

Berbahan Dasar Air, Dipamerkan dalam Konferensi PBB
NGANJUK- Tak banyak yang tahu, penemu bahan bakar blue energy yang sedang
dikampanyekan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ternyata berasal dari
Nganjuk. Dia adalah Joko Suprapto, warga Desa Ngadiboyo, Kecamatan Rejoso.

Kemarin, tim uji coba kendaraan berbahan bakar tersebut mengunjunginya.
Mereka dipimpin staf khusus Presiden SBY, Heru Lelono. Rombongan itu dalam
perjalanan dari Cikeas, Bogor menuju Nusa Dua, Bali, tempat digelarnya
United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) 2007.

“Luar biasa. Ini mobil Mazda Six punya Patwal Mabes (Polri) yang bisa
berkecepatan 240 kilometer per jam ini kami coba lari 180 kilometer per jam
tanpa ada persoalan. Jadi, moga-moga apa yang kita uji coba ini benar-benar
bermanfaat. Insya Allah,” ujar Heru begitu turun dari Ford Ranger B 9648 TJ.

Untuk diketahui, pertemuan kemarin berlangsung di salah satu hotel di
Nganjuk. Rombongan Heru tiba sekitar pukul 09.00. Mereka mengendarai lima
unit kendaraan untuk menguji bahan bakar berbahan dasar air tersebut. Yakni,
dua pikap double cabin Ford Ranger, satu sedan Mazda 6, satu bus, dan satu
truk pengangkut blue energy.

Sebelumnya, rombongan dilepas oleh Presiden SBY, Minggu lalu, dari kediaman
pribadinya di Cikeas, Bogor. Rencananya, blue energy itu juga akan
dipamerkan kepada dunia dalam UNCFCCC atau Konferensi Kerangka Kerja PBB
tentang Perubahan Iklim di Nusa Dua, Bali.

“Kita ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa kita bukan bangsa
kere yang terombang-ambing harga minyak dunia. Bangsa Indonesia bisa
menemukan (bahan bakar, Red) sendiri,” tandas Heru bangga.

Kepada puluhan wartawan yang sejak pagi menunggu kedatangan rombongan, Heru
mengungkapkan bahwa bahan bakar hasil penelitian belasan tahun Joko itu
sangat irit. “Sekitar satu lima belas (1 liter dibanding 15 kilometer, Red).
Tadi kami mencatat, untuk menempuh 374,5 kilometer, hanya butuh 25 liter,”
tutur staf khusus Presiden bidang otonomi daerah itu.

Selain hemat dan mampu meningkatkan performa kendaraan, lanjut Heru,
keunggulan bahan bakar tersebut adalah rendahnya emisi karbon yang
dihasilkan. Ini sesuai dengan pesan UNFCCC yang digelar 3-14 Desember
mendatang.

“Sudah dicoba sendiri oleh Bapak Presiden. Beliau kemarin sempat duduk di
belakang knalpot bus ini sambil menciumi asapnya. Paspampres (pasukan
pengamanan presiden) sempat kerepotan takut Presiden karacunan, tapi tidak.
Coba saja,” tantangnya.

Penasaran, Wakil Bupati Nganjuk Djaelani Ishaq yang kemarin ikut menyambut
kedatangan rombongan langsung mencoba mencium asap dari moncong knalpot bus.
“Sama sekali tidak ada baunya,” kata Djaelani setelah berkali-kali setelah
mengisap asap tersebut.

Ditemani Joko, Heru kemarin juga mengungkapkan bahwa untuk memakai blue
energy, mesin tidak perlu dimodifikasi. “Sama sekali tidak perlu ada
modifikasi apa-apa. Ini kami bawa mobil berlainan tahun, semua bisa pakai,”
tandasnya.

Bahkan, lanjut Heru, ada yang sebelumnya menggunakan solar dan di tengah
jalan langsung diganti 100 persen dengan blue energy. “Mobilnya malah
semakin tidak ada getaran,” lanjutnya bangga.

Sementara itu, Joko Suprapto yang selama ini terkesan misterius soal
kedekatannya dengan SBY, kemarin mulai blak-blakan. Terutama soal
aktivitasnya sebagai peneliti dan penemu blue energy. Dia bahkan sempat
sedikit membeber teknologi yang mulai ditelitinya sejak 2001.

“Intinya adalah pemecahan molekul air menjadi H plus dan O2 min. Ada katalis
dan proses-proses sampai menjadi bahan bakar dengan rangkaian karbon
tertentu,” terang peneliti yang mengaku banyak mengambil ide dari Alquran
itu.

Untuk mesin dengan bahan bakar premium, solar, premix, hingga avtur, Joko
mengaku telah menyiapkan bahan bakar pengganti sesuai dengan mesinnya.
“Tinggal mengatur jumlah rangkaian karbonnya. Mau untuk mesin bensin, solar,
sampai avtur ya sudah ada,” kata ayah enam anak itu.

Yang menarik, bahan dasar air yang digunakan adalah air laut. “Kalau air
tanah bisa menyedot ribuan atau jutaan meter kubik. Kasihan masyarakat,
paling bagus nanti bahannya air laut,” terang pria yang selalu
menyembunyikan identitasnya, termasuk almamater tempatnya meraih gelar
insinyur, itu. (jie)

“H Mirza Amin” <mirza@dayinmitra.co.id>