Istri Shalehah

Istri Shalehah

Oleh : Bahron Anshori

Istri yang shalehah adalah yang mampu menghadirkan
kebahagiaan di depan mata suaminya, walau hanya
sekadar dengan pandangan mata kepadanya. Seorang istri
diharapkan bisa menggali apa saja yang bisa
menyempurnakan penampilannya, memperindah keadaannya
di depan suami tercinta. Dengan demikian, suami akan
merasa tenteram bila ada bersamanya.

Mendapatkan istri shalehah adalah idaman setiap
lelaki. Karena memiliki istri yang shalehah lebih baik
dari dunia beserta isinya. ”Dunia adalah perhiasan,
dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri
shalehah.” (HR Muslim dan Ibnu Majah).

Di antara ciri istri shalehah adalah, pertama,
melegakan hati suami bila dilihat. Rasulullah
bersabda, ”Bagi seorang mukmin laki-laki, sesudah
takwa kepada Allah SWT, maka tidak ada sesuatu yang
paling berguna bagi dirinya, selain istri yang
shalehah. Yaitu, taat bila diperintah, melegakan bila
dilihat, ridha bila diberi yang sedikit, dan menjaga
kehormatan diri dan suaminya, ketika suaminya pergi.”
(HR Ibnu Majah).

Kedua, amanah. Rasulullah bersabda, ”Ada tiga macam
keberuntungan (bagi seorang lelaki), yaitu: pertama,
mempunyai istri yang shalehah, kalau kamu lihat
melegakan dan kalau kamu tinggal pergi ia amanah serta
menjaga kehormatan dirinya dan hartamu …” (HR
Hakim).

Ketiga, istri shalehah mampu memberikan suasana teduh
dan ketenangan berpikir dan berperasaan bagi suaminya.
Allah SWT berfirman, ”Di antara tanda kekuasaan-Nya,
yaitu Dia menciptakan pasangan untuk diri kamu dari
jenis kamu sendiri, agar kamu dapat memperoleh
ketenangan bersamanya. Sungguh di dalam hati yang
demikian itu merupakan tanda-tanda (kekuasaan) Allah
bagi kaum yang berpikir.”( QS Ar Rum [30]: 21).

Beruntunglah bagi setiap lelaki yang memiliki istri
shalehah, sebab ia bisa membantu memelihara akidah dan
ibadah suaminya. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa
diberi istri yang shalehah, sesungguhnya ia telah
diberi pertolongan (untuk) meraih separuh agamanya.
Kemudian hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam
memelihara separuh lainnya.” (HR Thabrani dan Hakim).

Namun, istri shalehah hadir untuk mendampingi suami
yang juga shaleh. Kita, para suami, tidak bisa
menuntut istri menjadi ‘yang terbaik’, sementara kita
sendiri berlaku tidak baik. Mari memperbaiki diri
untuk menjadi imam ideal bagi keluarga kita
masing-masing.

www.republika. co.id

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>