Harga Selimut Ka`bah Rp50 M

Harga Selimut Ka`bah Rp50 M


Mekkah (ANTARA News) – Harga selimut Ka`bah yang dinamakan kiswah mencapai 20 juta real atau sekitar Rp50 miliar dan diganti sekali setahun, kata Duta Besar RI untuk Arab Saudi, Salim Segaf Aljufri.

Seusai masuk ke dalam Ka`bah bersama sejumlah Duta Besar dan diplomat dalam prosesi pencucian Ka`bah, Dubes Salim kepada wartawan Antara, Akhmad Kusaeni, mengatakan selimut Ka`bah terbuat dari sutera asli.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyaksikan prosesi pencucian Ka`bah itu sekaligus melaksanakan ibadah umroh atas undangan Kerajaan Arab Saudi.

Kiswah dihias benang berlapis emas dan perak untuk membuat sulaman kaligrafi berupa ayat-ayat Al Quran dan hiasan-hiasan khusus bernuansa Islam. Tulisan itu membentuk angka V (angka tujuh dalam tulisan Arab). Salah satu kalimat yang ditulis di kiswah Ka`bah adalah, “Allah Jalla Jalalah, La Ilaha Illaallah, Muhammad Rasulullah”.

Kain penutup Ka`bah berukuran panjang 14 meter dan lebar 47 meter, dengan berat sekitar 650 kilogram. Biaya untuk membuat satu buah Kiswah sekitar Rp50 miliar. Sebelum dibuat sendiri di Mekkah, kiswah biasanya dibuat di Mesir dan India dan diberikan kepada pemerintah Saudi sebagai hadiah.

Kiswah terdiri dari lima bagian, empat bagian untuk menutupi empat sisi Ka`bah dan satu bagian lagi untuk menutup bagian pintu Ka`bah.

Di balik kiswah hitam, ada kain berwarna putih yang disebut Bithana Kiswah. Kain itu untuk meresap uap dari dinding Ka`bah dan menghalangi panas yang diserap dari kain kiswah yang hitam. Kain ini mengandung daya serap untuk menghindarkan panas yang berlebihan dan mencegah dinding Ka`bah retak.

Menurut sejarah, semasa Nabi Muhammad SAW, Rasullullah pernah menghadiahkan kiswah Al-washail. Nabi Muhammad SAW yang pertama kali mengiswahi Ka`bah. Cara ini kemudian diteruskan oleh Khulafa Urrasyidin, seperti Umar Bin Al-Khatab dan Utsman Bin Affan serta beberapa khalifah Bani Umayyah. Di masa sekarang, para raja di Kerajaan Arab Saudi dengan menggunakan kiswah dari pabrik khusus pembuat kiswah di Mekah.

Pencucian Ka`bah kali ini disaksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta rombongan. Prosesnya adalah dinding Ka`bah dibersihkan dengan air bercampur minyak wangi. Setelah bersih dan bagian dalam Kabah disapu, tamu-tamu negara memasuki bagian dalam Ka`bah.

“Kami melakukan shalat di dalam Ka`bah,” kata Dubes Salim.

Menurut sejumlah orang yang pernah memasuki ke dalam Ka`bah, jika sudah di dalam Ka`bah, jemaah boleh shalat dengan menghadap ke mana saja. “Ini rasanya, Ka`bah ada di dalam hati kita. Maknanya, sesungguhnya kita sama di depan Allah,” kata seorang diplomat Indonesia di Arab Saudi.

Mantan Menteri Agama Tarmizi Taher yang sudah 13 kali mendapat kesempatan memasuki Ka`bah, pernah mengatakan bahwa dinding dalam Ka`bah, atap, lantai serta dua tiangnya biasa saja seperti dinding batu lainnya.

Setiap kali masuk bangunan berbentuk kubus itu, kata Amirul Haj 2006 itu, ia menunaikan shalat dua rakaat sebanyak empat kali, masing-masing dua rakaat shalat menghadap ke arah dinding yang berbeda.

Tarmizi mengakui bagi umat Islam, memasuki Ka`bah mungkin merupakan impian yang tak akan terwujud, jika bukan tamu negara Kerajaan Arab Saudi, bahkan menyentuh dinding luar Ka`bah ketika melakukan thawaf di tengah ratusan ribu manusia saja sangat sulit.

Mereka yang bisa masuk ke dalam Kabah dinilai sangat beruntung, karena Ka`bah adalah tempat ibadah pertama di bumi dan dibangun sejak Nabi Ibrahim AS. (*)

COPYRIGHT © 2008

haryo wicaksono

<haryo_java@yahoo.com>

Ironi Satu Kota Tiga Tuhan

Yerusalem

,.

Yerusalem (bahasa Ibrani: ירושלים Yerushalayim, bahasa Arab: أورشليم القدس Urshalim-Al-Quds atau hanya القدس Al-Quds saja adalah kota di Timur Tengah yang merupakan kota suci bagi agama Islam, Kristen dan Yahudi. Kota ini diklaim sebagai ibukota Israel, meskipun tidak diakui secara internasional, maupun bagian dari Palestina. Secara de facto kota ini dikuasai oleh Israel. Para elit Israel menganggap kota suci ini adalah bagian dari negaranya dan itu adalah bentuk ideologi “Zionisme”.Dari semua negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, hanya Kosta Rika dan El Salvador saja yang menempatkan kedutaan mereka di Yerusalem. Lainnya di Tel Aviv, karena menurut PBB, Yerusalem akan dijadikan Kota Internasional.Oleh orang-orang Palestina, Yerusalem juga dianggap sebagai ibu kota Palestina. Kota historis Yerusalem adalah sebuah warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1981. Kota ini memiliki penduduk sebesar 724.000 jiwa dan luas 123 km2.

Sejarah

Sejarah Yerusalem dapat dibagi menjadi lima tahap; Zaman Kuno, Zaman Pemerintahan Kekaisaran Romawi, Zaman Islam, Zaman Mandat Britania, dan Zaman Pendudukan Israel.

Zaman Silam

Peta Yerusalem tahun 1883.

Yerusalem mulai menjadi tumpuan setelah Nabi Daud menguasai Yerusalem dari masyarakat yang bernama Yebusit. Nabi Daud kemudian diriwayatkan mulai mengembangkan kota ini dan menjadikannya ibu kota kerajaannya. Yerusalem kemudian diriwayatkan diperintah oleh Nabi Sulaiman. Menurut ahli sejarah Yahudi, Nabi Sulaiman telah membangun sebuah kuil yang diberi nama “Baitallah”.

Tidak lama kemudian, tentara Babilonia mulai merebut Yerusalem dari orang Yahudi. Nebukadnezar, raja Babylon kemudian menguasai Yerusalem dan memusnahkan Baitallah. Dia kemudian menghalangi orang Yahudi masuk ke Yerusalem. Setelah beberapa dasawarsa, tentara Parsi menguasai Babylon. Cyrus II, raja Parsi memperbolehkan orang Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Baitallah mereka. Baitallah Kedua dibangun oleh Herodus Yang Agung namun setelah kematiannya, kota ini jatuh ke tangan Roma.

Pemerintahan Romawi

Semasa pemerintahan Roma, masyarakat Yahudi di Yerusalem memberontak. Akibatnya tentara Roma mematahkan pemberontakan tersebut dan memusnahkan Baitallah Kedua orang Yahudi. Yang tinggal hanyalah sebagian gedung itu yang dikenal sebagai Tembok Barat.

Setelah pemberontakan tersebut, orang Yahudi diperbolehkan tinggal di situ tetapi dalam jumlah yang kecil. Pada kurun kedua, Kaisar Roma memerintahkan supaya Yerusalem dibangun kembali dan membangun sebuah kuil orang Roma di situ sambil menghalang kegiatan keagamaan orang Yahudi. Orang Yahudi kembali memberontak tetapi dapat dipatahkan tentara Roma. Yerusalem dinamakan kembali menjadi Aelia Capitolina.

Orang Yahudi dilarang memasuki Yerusalem. Selama 150 tahun setelahnya, kota ini menjadi tidak penting bagi Kekaisaran Romawi. Namun demikian, Kaisar Bizantium yaitu Constantine menjadikan Yerusalem sebagai pusat keagamaan Kristen dengan membangun Church of the Holy Sepulcher (?) pada tahun 335 M. Orang Yahudi tetap tidak dibenarkan memasuki Yerusalem kecuali semasa pemerintahan singkat Kekaisaran Parsi pada tahun 614M hingga tahun 629M.

Pemerintahan Islam

Walaupun Al Quran tidak menyebut mengenai nama “Yerusalem” atau “Baitulmuqaddis”, tetapi ada hadis yang menyebut mengenainya. Menurut hadis sahih, adalah di Yerusalem Nabi Muhammad s.a.w. naik ke surga semasa peristiwa Isra’ Mi’raj. Kota itu kemudian dikuasai oleh angkatan tentara Islam pada tahun 638M. Umar bin Khattab secara pribadi pergi ke Yerusalem untuk menerima penyerahan Yerusalem kepada kerajaan Islam. Beliau kemudian ditawarkan bersembahyang di dalam Church of the Holy Sepulcher tetapi menolaknya dan sebaliknya meminta supaya dibawa ke Masjidil Aqsa Al Haram Al Sharif. Ia mendapati tempat itu terlalu kotor dan mengarahkan supaya pembersihan dijalankan. Ia kemudian membangun sebuah masjid kayu di tempat yang sekarang merupakan kompleks bangunan Masjid Al Aqsa.

Enam tahun kemudian, Qubbat As-Sakhrah dibangun. Struktur ini terdiri dari sebuah batu yang dikatakan tempat Nabi Muhammad s.a.w. berdiri sebelum naik ke surga semasa peristiwa Isra’ Mi’raj. Perlu diingatkan bahwa kubah yang berlapis emas dan berbentuk oktagon ini tidak sama seperti Masjid Al Aqsa di sebelahnya yang dibangun tidak lama kemudian. Semasa pemerintahan awal Islam, terutama semasa pemerintahan kerajaan Ummaiyyah (650-750) dan kerajaan Abbasiyyah (750-969), kota Yerusalem berkembang. Banyak orang berpendapat bahwa Yerusalem pada ketika itu merupakan tanah yang paling subur di Palestina.

Pemerintahan awal Islam juga mewujudkan sebuah toleransi di antara kaum. Namun semasa pemerintahan Al-Hakim Amr Allah, seorang khalifah kerajaan Fatimiyyah, beliau mengarahkan supaya semua gereja dan rumah ibadah bukan Islam dimusnahkan. Hal ini menyebabkan berlakunya Perang Salib. Pada tahun 1099, tentara Kristen Eropa menguasai Yerusalem. Mereka kemudian membunuh semua penduduk kota yakni Muslim, Yahudi dan bahkan juga Kristen. Hal ini karena ketidaktahuan mereka, orang Kristen yang tinggal di sana wujudnya berbeda dengan orang Kristen Eropa.

Yerusalem kemudian dijadikan ibu kota Kerajaan Kristen Yerusalem (Kingdom of Jerusalem). Kerajaan ini kekal hingga tahun 1291; Yerusalem sendiri dikuasai oleh Salahuddin Al Ayubi pada tahun 1187. Salahuddin juga memperbolehkan semua orang beribadah di Yerusalem tanpa memandang apakah Kristen, Muslim atau Yahudi. Pada tahun 1243, Yerusalem jatuh kembali ke tangan tentara Kristen sebelum jatuh kembali ke tangan orang Islam pada tahun berikutnya.

Pada tahun 1517, Yerusalem dikuasai oleh Kerajaan Turki Utsmaniyyah. Sulaiman Al Qanuni membina kembali tembok Yerusalem yang dapat kita lihat hingga hari ini.

Mandat Britania

Britania berhasil menaklukkan kerajaan Turki Uthmaniyyah saat Perang Dunia I. Dengan kemenangan mereka itu, tentara Britania di Mesir memasuki Yerusalem pada 11 Desember 1917. Pihak Britania kemudian membangun rumah-rumah baru di sini dan menyebabkan Yerusalem berkembang hingga keluar dari temboknya.

Pada 29 November 1947, PBB (UNGA) mengeluarkan suatu petisi untuk memisahkan pemerintahan Mandat Britania di Palestina kepada dua buah wilayah: satu untuk orang Yahudi dan satu untuk orang Arab. Hal ini mengakibatkan terjadinya pemberontakan di Yerusalem yang kemudian menyebabkan Perang Arab-Israel 1948 yang terjadi pemerintahan Mandat Britania berakhir.

Yerusalem dan konflik Arab-Israel

Semasa Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem terbagi menjadi dua wilayah. Bagian barat yang meliputi kota baru menjadi sebagian dari Israel, sedangkan bagian timur termasuk kota lama Yerusalem menjadi milik Yordania.

PBB memutuskan supaya Yerusalem berada di bawah pemerintahan internasional. Walau bagaimanapun, pada 23 Januari 1950, Parlemen Israel mensahkan satu resolusi untuk menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Yerusalem Timur kemudian ditawan oleh tentara Israel dalam Perang Enam Hari pada tahun 1967.

Walaupun Israel membenarkan penganut agama di Yerusalem akses ke tempat suci mereka, terdapat banyak kerisauan mengenai beberapa serangan ke Masjid Al-Aqsa seperti kebakaran pada tahun 1969 yang disebabkan oleh seorang turis Australia. Status Yerusalem Timur tetap menjadi satu isu yang kontroversi.

Status Yerusalem kini

Menurut satu petisi PBB, Baitulmuqaddis sepatutnya menjadi sebuah kota internasional dan bukan sebagian dari negeri orang Arab ataupun negeri orang Yahudi. Setelah Perang Arab-Israel 1948, Yerusalem Barat diduduki oleh Israel sedangkan Yerusalem Timur menjadi milik Yordania.

Pada tahun 1967, semasa Perang Enam Hari, Israel menguasai Yerusalem Timur dan mulai mengambil langkah untuk menyatukan Yerusalem di bawah kekuasaan Israel. Pada tahun 1988 Yordania menarik balik semua tuntutannya atas Tepi Barat (termasuk Yerusalem) guna mendukung Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).

Kedudukan Yerusalem hingga kini masih dipertanyakan.

haryo wicaksono <haryo_java@…>

haryo_java

Secara Logika, Masjid Al-Aqsha Seharusnya Sudah Ambruk

Secara Logika, Masjid Al-Aqsha

Seharusnya Sudah Ambruk


Dari tahun ke tahun, secara diam-diam maupun terbuka, Zionis-Israel terus melakukan penggalian terhadap tanah di bawah pondasi kompleks Masjidil Al-Aqsha, Palestina. Beberapa waktu lalu, kasus ini mencuat lantaran Israel secara atraktif memperlihatkan tindakannya ini dengan menggali salah satu bagian utamanya.

Banyak orang di dunia ini tidak mengetahui seberapa besar dan luas terowongan yang digali oleh Zionis-Yahudi ini, selain tidak semua orang punya kesempatan untuk melihat langsung, Israel juga tidak mengumumnkan secara resmi tentang hal tersebut.

Namun Dr. Ir. Sukamta, Mse, dari Institute of Empowerment for Community, Yogyakarta, punya kesaksian. Pak Sukamta, demikian panggilannya, pernah berkunjung dan melihat dengan mata kepala sendiri tentang terowongan yang digali Israel di bawah kompleks Masjidil Aqsha tersebut.

“Luas dan besarnya terowongan yang digali Zionis-Israel sungguh-sungguh tidak terbayangkan oleh kita semua. Sebelum melihatnya langsung, saya tidak pernah mengira tentang hal ini. Anda tahu sebuah mobil truk yang biasa beroperasi di tambang-tambang seperti Freeport? Yang tinggi rodanya saja lebih dari dua meter? Jika dijejerkan menyamping, maka besarnya pintu terowongan itu muat menampung duabelas truk tambang bersama-sama. Ini memang besar sekali, seperti lapangan bola, ” ujarnya.

“Secara logika Masjid Al-Aqsha seharusnya sudah ambruk, karena pondasinya sudah digali sedemikian rupa oleh Israel. Namun ajaibnya mengapa hal ini tidak terjadi? Bisa jadi ini karena kekuasaan Allah SWT. Tapi bisa juga sengaja ditopang oleh Israel agar umat Islam sedunia tidak marah, dan akan dirubuhkan menunggu saat yang tepat, ” lanjut pengajar di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini.

Menurut Pak Sukamta, Israel memang menginginkan Masjid Al-Aqsha rubuh dan akan diganti dengan Kuil Sulaiman yang akan dibangun di atas reruntuhannya. “Menurut Zionis-Yahudi, di hari akhir akan turun kembali Raja Israel yang salah satunya ditandai dengan kehadiran seekor anak sapi merah dari keturunan sapi merah yang ketujuh. Raja Israel ini sudah ada dan masih disimpan di Eropa. Kaum Yahudi itu kini salah satunya tengah mempersiapkan anak sapi merah tersebut lewat rekayasa genetika yang kita kenal dengan Clonning. Hal inilah asal muasal dari penemuan teknologi Clonning. ” (Rizki)

dari : http://www.eramuslim.com/berita/int/7831061950-secara-logika-masjid-al-aqsha-seharusnya-sudah-ambruk.htm

haryo wicaksono

<haryo_java@yahoo.com>

Mengapa Zionis-Israel Ngotot Hancurkan Masjid Al-Aqsha?

Mengapa Zionis-Israel Ngotot Hancurkan Masjid Al-Aqsha?


Selasa, 6 Februari 2007, Zionis-Israel telah secara terang-terangan memulai proyek penghancuran Masjidil Aqsha yang merupakan masjid tersuci ketiga bagi umat Islam sedunia.

Jika sebelumnya kaum Zionis ini melakukan hal tersebut secara diam-diam, bahkan menyangkalnya dengan berbagai dalih, namun di hari kedua bulan Februari ini mereka telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka memang berniat menghancurkan masjid yang pernah menjadi kiblat pertama bagi kaum Muslimin.

Upaya Zionis-Israel untuk menghancurkan Masjidil Aqsha sudah lama diketahui dunia. Keinginan mereka untuk membangun kembali Haikal Sulaiman (The Solomon Temple), di atas reruntuhan Masjidil Aqsha juga telah menjadi rahasia umum. Hanya saja, apa dasar ideologi dan maksud-maksud tersembunyi di balik penghancuran Masjidil Aqsha dan pendirian Haikal Sulaiman tersebut, hal ini masih menjadi pertanyaan besar.

Klaim Sepihak

Haikal Sulaiman diyakini dibangun tahun 960 SM oleh Nabi Sulaiman a.s, 370 tahun kemudian bangsa Babylonia menginvasi Yerusalem dan menghancurkan kuil tersebut.

Setelah itu, tentara Persia yang dipimpin Cyrus merebut Yerusalem dari tangan Babylonia dan membangun kembali Haikal Sulaiman.

Tahun 70 M, pasukan Romawi menyerang Yerusalem dan menghancurkan kembali Haikal Sulaiman rata dengan tanah.
Abad demi abad terus berjalan, namun cita-cita kaum Zionis-Yahudi untuk membangun kembali Haikal Sulaiman terus terpelihara dengan baik di dalam memori bangsanya.

Ketika gerakan Zionisme Internasional menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Bassel, Swiss, tahun 1897, memori ini menemukan momentumnya dan Theodore Hertzl menyerukan agar semua Yahudi Diaspora berbondong-bondong memenuhi Tanah Palestina yang disebutnya sebagai Tanah Perjanjian.

Atas klaim sepihak, kaum Zionis ini mengatakan bahwa di bawah tanah Masjidil Aqsha inilah Haikal Sulaiman berdiri. Sebab itu, mereka mengatakan tidak ada pilihan lain kecuali menghancurkan Masjidil Aqsha dan kemudian membangun kembali Haikal Sulaiman di atasnya.

Bagi kaum Zionis, Haikal Sulaiman merupakan pusat dari dunia. Bukan Makkah, bukan pula Vatikan. Haikal Sulaiman-lah pusat seluruh kepercayaan dan pemerintahan segala bangsa. Keyakinan ini bukanlah berangkat tanpa landasan.

Dalam keyakinan Yudaisme yang sesungguhnya telah bergeser jauh dari Taurat yang dibawa oleh Musa a. S., bangsa Yahudi meyakini bahwa di suatu hari nanti seorang Messiah (The Christ) akan mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia.

Kehadiran Mesiah inilah yang menjadi inti dari semangat kaum Yahudi untuk memenuhi Tanah Palestina. Namun hal ini menjadi perdebatan utama di kalangan Yahudi yang pro-Zionis dengan yang anti-Zionis.

Bagi yang pro-Zionisme, mereka menganggap Kuil Sulaiman harus sudah berdiri untuk menyambut kedatangan Messiah yang akan bertahta di atas singgasananya. Sedangkan bagi kaum Yahudi yang menolak Zionisme, bagi mereka, Messiah sendirilah yang akan datang dan memimpin pembangunan kembali Haikal Sulaiman yang pada akhirnya diperuntukkan bagi pusat pemerintahan dunia (One World Order).

Mengenai benar tidaknya lokasi bekas reruntuhan Kuil Sulaiman tepat berada di bawah Masjidil Aqsha, para sejarawan masih berbeda pendapat. Beberapa peneliti bahkan meyakini bahwa wilayah bekas berdirinya Kuil Sulaiman tersebut sesungguhnya berasa di luar kompleks Masjidil Aqsha sekarang ini.

Sejak menjajah Yerusalem di tahun 1967, kaum Zionis selalu berupaya merusak Masjidil Aqsha. Tahun 1969 sekelompok Yahudi fanatik berupaya membakar Masjid ini. Mereka juga terus melakukan penggalian di bawah tanah Masjidil Aqsha dengan alasan tengah melakukan riset arkeologis.

Belum cukup dengan itu, di dalam terowongan-terowongan yang digali, mereka juga mengalirkan air dalam jumlah besar dengan tujuan menggoyahkan kekuatan tanah di bawah masjid agar pondasi masjid menjadi rapuh. Akibatnya sekarang ini banyak pondasi masjid yang sudah rapuh dan jika ada gempa bumi sedikit saja maka bukan mustahil Masjidil Aqsha bisa runtuh.

Sekarang, tentara Zionis sudah secara terang-terangan hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Mereka tidak lagi mengeluarkan dalih macam-macam. Apakah ini merupakan tanda bahwa mereka sudah yakin bahwa sebentar lagi Messiah yang dinanti-nantikan akan segera hadir?

Hari Akhir

Menyongsong berdirinya Kuil Sulaiman, ¡Presiden¢ Zionis-Israel Moshe Katsav melayangkan sepucuk surat kepada Perdana Menteri Vatikan yang berisi permintaan agar Tahta Suci Vatikan mengembalikan seluruh harta karun dan benda-benda berharga yang kini memenuhi kompleks Tahta Suci kepada mereka.

Kaum Zionis masih ingat betul, ketika di tahun 70M, pasukan Romawi menyerbu Yerusalem dan memboyong banyak harta karun dari Kuil Sulaiman dan membawanya ke Vatikan.

Jika harta karun sudah dikembalikan, maka ada satu syarat lagi menjelang hadirnya Messiah, yakni mereka harus menemukan dan menyembelih serta membakar seekor sapi betina berbulu merah berusia tiga tahun dan belum pernah melahirkan anak.
Untuk yang satu ini pun kaum Zionis telah mempersiapkannya. Melalui suatu proses rekayasa genetika, di tahun 1997, mereka telah mendapatkan seekor sapi dengan ciri-ciri tersebut.

Hanya saja, mereka terbentur satu persyaratan lagi, yakni penyembelihan dan pembakaran sapi merah ini harus dilakukan di atas kaki Bukit Zaitun.

Masalahnya, daerah ini sekarang belum bisa dijajah Zionis-Israel seperti wilayah Palestina lainnya. Kaki Bukit Zaitun masih berada di tangan yang berhak, yakni di tangan bangsa Palestina. Sebab itu, kaum Zionis selalu berupaya tanpa lelah mengusir orang-orang Palestina dari wilayah ini.

Memperdaya Pemeluk Kristen

Guna mencapai tujuannya, kaum Zionis tidak berusaha sendirian. Mereka juga memperdaya musuh-musuhnya yakni umat Kristen dan kaum Muslimin. Untuk memperdaya umat Kristiani, kaum Zionis menyusupkan nilai-nilai Talmud ke dalam Bibel seperti yang terjadi atas Injil Scofield atau Injil Darby.

Bahkan Injil versi King James sebagai Injil resmi Barat pun demikian. Sebab itu, tidak aneh jika sekarang ini sikap politik umat Kristiani seolah sama sebangun dengan kaum Yahudi. Padahal di dalam banyak ayat-ayat Talmud, kaum Yahudi ini begitu keras permusuhannya terhadap Kristen dan Yesus.

Keyakinan Injil juga menyebutkan tentang hadirnya The Christ kembali ke muka bumi (Maranatha atau The Second Coming) dalam wujud Tuhan seutuhnya. Kaum Yahudi menggiring opininya bahwa Maranatha tidak akan terjadi sebelum Haikal Sulaiman berdiri kembali di Yerusalem.

Kesamaan pandangan inilah yang membuat orang-orang Kristen mendiamkan ulah kaum Zionis yang hendak menghancurkan Masjidil Aqsha. Orang-orang Kristen ini telah terbius dengan retorika dan racun Zionis sehingga tidak bisa bersikap kritis dan mereka lupa bahwa salah satu agenda utama Zionis ini adalah juga meruntuhkan Tahta Suci Vatikan dan memindahkannya ke Yerusalem.

Dari sisi hukum internasional, upaya penghancuran Masjidil Aqsha juga tidak bisa dibenarkan. Berdasarkan Resolusi DK-PBB Nomor 242 dan beberapa resolusi lainnya, rezim Zionis Israel wajib melindungi masjid ini dan menuntut Zionis agar mundur dari seluruh wilayah Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza, dan menyerahkan wilayah itu kepada penduduk aslinya yang tak lain adalah rakyat Palestina. Namun dalam tataran praktek, resolusi ini tidak dijalankan.

Menurut keyakinan Yahudi, jika Messiah sudah bertahta di atas singgasana Haikal Sulaiman, maka Messiah itu akan memimpin kaum Yahudi untuk memerangi siapa pun yang tidak mau tunduk pada The New World Order, yakni si Yahudi itu sendiri. (Rz)

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

MENGELOLA KEGIATAN MENTORING REMAJA MASJID

Institut Manajemen Masjid
Rubrik : Remaja Masjid

MENGELOLA KEGIATAN MENTORING REMAJA MASJID
Sabtu, 08 September 07 – by : immasjid

Salah satu jenis pembinaan anggota Remaja Masjid adalah Program Mentoring. Program ini memadukan antara unsur pengajian, ceramah, diskusi, permaianan (game) dan tafakur alam. Suasana pembinaan dibuat sedemikian rupa, sehingga menyenangkan, edukatif dan mengembangkan nilai-nilai Islam.

Tempatnya sendiri bisa dilakukan di dalam ruangan (indoor) atau di luar ruangan (outdoor). Biasanya diselenggarakan di sekitar Masjid, bisa di ruang shalat, ruang pengajian, teras atau halaman Masjid. Bilamana perlu dapat dilakukan di alam terbuka, misalnya dengan kegiatan lintas alam (hiking) atau perkemahan (camping). Untuk dua kegiatan yang terakhir, perlu dikemas dalam bentuk aktivitas yang rekreatif, menarik dan membawa kesan mendalam bagi peserta.

Kegiatan mentoring mulai dikenal pada tahun 1980-an, saat dimana terjadi tindakan represif dan kurang kondusif bagi pergerakan kaum terpelajar Islam di Indonesia. Sebagian aktivis da’wah kampus kemudian mengantisipasi kondisi ini dengan mengadakan pembinaan intensif dalam halaqah-halaqah kecil (small group discussion). Mereka dipimpin oleh seorang Mentor, atau sering disebut dengan Murabbi, melakukan pembinaan tarbiyatul Islam secara bersama-sama.

Pada perkembangannya, kegiatan ini juga tumbuh di kalangan pelajar sekolah lanjutan. Bahkan di era keterbukaan ini, kegiatan mentoring dapat dielaborasi oleh institusi pendidikan pemerintah dan swasta, seperti misalnya kerja sama selama 2 (dua) tahun yang dilakukan oleh IQRO’ Club dengan MGMP PAI dan DIKMENTI SMK DKI Jakarta. Menurut IQRO’ Club, tercatat sekitar 152 sekolah SMK/SMU yang tersebar di lima wilayah DKI Jakarta tengah menjalankannya. (Rusiyati, SPd., dkk, “Panduan Mentoring”, 2003/2004).

Remaja Masjid dapat mengadopsi mentoring, baik dikelola sendiri maupun bekerja sama dengan suatu lembaga da’wah Islam yang ada di sekitarnya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pengurus Remaja Masjid dalam mengelola kegiatan ini secara mandiri, antara lain:

1. Team Pengelola Mentoring.

Pengurus Remaja Masjid Bidang Pembinaan Anggota membentuk Team Pengelola Mentoring (TPM). Team ini merupakan suatu gugus tugas yang menangani Program Mentoring dengan struktur organisasi sebagai berikut:
a. Project Manager.
b. Sekretaris.
c. Bendahara.
d. Koordinator (putra / putri).
e. Mentor / Tutor / Murabbi.

Masing-masing personil Team Pengelola Mentoring bekerja sesuai dengan jabatannya dengan Job Description sebagai berikut:

a. Project Manager.

Pengemban amanah pengelolaan mentoring yang dipilih oleh Pengurus Remaja Masjid Bidang Pembinaan Anggota dan bertanggung jawab atas terlaksananya program tersebut. Melaksanakan aktivitas antara lain:

- Memimpin kegiatan rutin TPM secara umum.

- Memimpin dan mewakili TPM dalam kegiatan eksternal.

- Mengkoordinir, memotivisir dan membimbing seluruh anggota team dalam melaksanakan program mentoring.

- Menyelengarakan rapat team minimal satu bulan sekali.

- Mengajukan permohonan uang muka pengelolaan kepada Bidang Pembinaan Anggota dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.

- Mempertanggungjawabkan amanah pengelolaan mentoring kepada Bidang Pembinaan Anggota.

- Dan lain-lain sesuai dengan wewenang dan tanggungjawabnya.

b. Sekretaris.

Pembantu Project Manager yang bertanggung jawab dalam pengelolaan administrasi dan kesekretariatan. Melaksanakan aktivitas antara lain:

- Mengatur dan mengelola surat menyurat TPM.

- Membuat draft surat keluar untuk ditandangani Project Manager.

- Mengkoordinasikan seluruh aktivitas surat menyurat, agenda surat dan kesekretariatan.

- Memberikan dukungan administrasi kepada Koordinator.

- Memberikan laporan administrasi dan kesekretariatan kepada Project Manager.

- Menjadi sekretaris/notulis dalam rapat TPM.

- Melakukan inventarisasi, perawatan, pengelolaan dan penambahan perlengkapan dan inventaris TPM.

c. Bendahara.

Pembantu Project Manager yang bertanggung jawab dalam pengelolaan keuangan. Melaksanakan aktivitas antara lain :

- Mengelola keuangan TPM.

- Memberikan dukungan keuangan kepada Koordinator.

- Memberikan laporan keuangan kepada Project Manager.

- Bertindak sebagai kasir.

d. Koordinator Putra / Putri.

Pembantu Project Manager yang bertanggungjawab dalam mengkoordinasikan pelaksanaan program mentoring secara langsung. Melaksanakan aktivitas antara lain :

- Melakukan pendaftaran peserta.

- Menyusun schedule kegiatan mentoring.

- Memantau aktivitas Mentor dalam membina Peserta.

- Mengajukan dan mempertanggungjawabkan uang muka operasional tiap bulan kepada Project Manager.

- Menerima dan mengembalikan dana operasional dari Bendahara / Project Manager untuk aktivitas pengelolaan.

- Membuat laporan kemajuan pembinaan peserta kepada Project Manager.

- Memberi teguran kepada Mentor yang melanggar aturan pengelolaan.

- Memberi masukan kepada Project Manager untuk menindak Mentor yang tidak mengindahkan teguran sampai tiga kali.

- Mengkoordinasikan proses mentoring dengan Mentor dan Project Manager.

e. Mentor / Tutor / Murabbi.

Pembantu Koordinator yang bertanggung jawab dalam menangani pembinaan secara langsung para peserta mentoring. Melaksanakan aktivitas antara lain :

- Mengisi daftar hadir peserta sesuai dengan kelompok halaqah.

- Menghubungi peserta yang tidak hadir melalui telephone atau sarana lainnya.

- Membina peserta untuk memahami Islam secara komprehensif dan terintegrasi.

- Membina peserta untuk mampu dan rajin beribadah, khususnya dalam membaca Al Quraan dan melaksanakan shalat.

- Memberi dorongan kepada peserta untuk berprestasi di bidang akademis dan keagamaan.

- Memberikan laporan pembinaan kepada Koordinator.

- Mengikuti pembinaan Mentor yang diselenggarakan TPM.

- Mengikuti Pelatihan Mentoring yang diselenggarakan oleh Pengurus Remaja Masjid.

- Memberitahukan kepada Koordinator apabila berhalangan untuk mengajar sekurang-kurangnya satu (1) hari sebelum hari mengajar.

- Mengikuti Rapat Pengelolaan Mentoring yang diselenggarakan TPM.

- Menjadi Panitia / Team dalam aktivitas Pengelolaan Mentoring.

- Melaksanakan tugas-tugas tambahan yang lain yang diberikan oleh atasan.

2. ATVMN kegiatan mentoring.

Kegiatan mentoring perlu memiliki asas, tujuan, visi, misi dan nilai-nilai (ATVMN) yang menjadi rujukan dalam pengelolaan. Gunanya adalah untuk memberi kerangka acuan sekaligus arah dalam mengelola program ini. Setiap aktivitas yang dilakukan dalam mentoring dilakukan dalam rangka mengimplementasikan ATVMN.

a. Asas.

Asas pengelolaan mentoring adalah Islam, yang bersumber dari Al Quraan dan Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini sesuai dengan Anggaran Dasar Remaja Masjid, sehingga Islam menjadi dasar rujukan pembinaan peserta mentoring.

Setiap kegiatan dalam rangka pembinaan tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang sudah baku, baik dari segi aqidah, syari’ah, ibadah maupun muamalah. Karena itu, suasana islami harus kental menyelimuti setiap aktivitasnya maupun aktivisnya, baik Pengurus TPM, Mentor maupun peserta.

Kegiatan-kegiatan yang merupakan manifestasi interaksi dengan Al Quraan dan As Sunnah dalam program ini sangatlah menonjol, seperti misalnya: tilawah Al Quraan, kajian terjemah Al Quraan dan tafsirnya, hafalan ayat-ayat Al Quraan dan petikan-petikan As Sunnah, pemahaman hadits-hadits nabawiyyah dan lain sebagainya.

b. Tujuan.

Tujuan pengelolaan mentoring disesuaikan dengan tujuan umum Remaja Masjid sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar, misalnya: “Terbinanya umat yang beriman, berilmu dan beramal shalih dalam rangka mengabdi kepada Allah dan mengharap keridlaan-Nya”.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan oleh Pengurus Remaja Masjid adalah dalam rangka mencapai tujuan umum, termasuk program mentoring yang diselenggarakan ini.

c. Visi.

Visi adalah merupakan gambaran yang ingin dicapai di masa yang akan datang, untuk itu visi pengelolaan mentoring perlu dinyatakan sebagai idealita yang nantinya diwujudkan dalam realita melalui aneka kegiatan. Pernyataan visi pengelolaan mentoring sebaiknya singkat, jelas dan realistis, misalnya:

“Insya Allah, menjadi Team Pengelola Mentoring yang profesional dan mampu mengantarkan peserta memahami Islam, beribadah dan berprestasi akademis dengan baik”.

d. Misi.

Misi yang dijalankan oleh TPM merupakan upaya pencapaian Visi yang telah ditetapkan. Misi terdiri dari rangkaian aktivitas utama yang dihadirkan oleh TPM dalam membina peserta mentoring, misalnya:

- Membina peserta untuk memahami Islam yang komprehensif dan terintegrasi.

- Membina peserta untuk mampu dan rajin beribadah, khususnya dalam membaca Al Quraan dan melaksanakan shalat.

- Memberi dorongan kepada peserta untuk berprestasi di bidang akademis dan keagamaan.

- Berkembangnya suasana pembinaan yang islami dengan melibatkan Pengurus Remaja Masjid, Mentor dan peserta.

e. Nilai-nilai (Values).

Guna menumbuhkan suasana pembinaan yang kondusif dalam melakukan transformasi ilmu dan nilai-nilai Islam, maka perlu dikembangkan budaya pembinaan yang islami. Nilai-nilai Islam yang dikembangkan menjadi parameter dalam mengukur keberhasilan pengelolaan mentoring, antara lain:

- Ibadah.
Segala aktivitas yang diselenggarakan dalam pengelolaan mentoring dijiwai oleh semangat untuk beribadah kepada Allah dan mengharap keridlaan-Nya.

- Profesional.
Aktivitas pengelolaan mentoring dirancang dengan cermat, diselenggarakan secara detail, selesai dilaksanakan dengan tuntas dan berhasil tercapai tujuannya dengan baik.

- Kualitas.
Aktivitas pengelolaan mentoring diselenggarakan untuk mencapai hasil dengan kualitas yang sebaik-baiknya.

- Prestasi.
Seluruh komponen yang terlibat dalam aktivitas pengelolaan mentoring, baik Pengurus TPM, Mentor maupun peserta diharapkan mampu berprestasi setinggi mungkin di bidangya masing-masing.

- Perbaikan.
Seluruh komponen yang terlibat dalam aktivitas pengelolaan mentoring, baik Pengurus TPM, Mentor maupun peserta berusaha untuk melalukan perbaikan secara individual maupun kelompok demi suksesnya program ini.

ATVMN adalah merupakan suatu rangkaian aktivitas yang dilandasi oleh Asas pengelolaan guna mencapai Tujuan yang telah ditetapkan dan diarahkan untuk mewujudkan Visi dengan menyelenggarakan berbagai Misi dan mengimplementasikan Nilai-nilai yang dikembangkan. Pada kenyataannya, yang akan terlihat dalam pelaksanaan program mentoring adalah upaya-upaya untuk mewujudkan Visi, aneka kegiatan sesuai dengan Misi serta pola perilaku para aktivisnya dalam mengimplementasikan Nilai-nilai yang telah dikembangkan.

dodd setyo <doddys_dst@yahoo.co.id>

KISAH GOLONGAN MASUK SYURGA TANPA DIHISAB

KISAH GOLONGAN MASUK SYURGA TANPA DIHISAB

Diriwayatkan bahawa Rasulullah S.A.W. telah bersabda:

“Apabila telah datang hari kiamat, maka didatangkan 4 golongan manusia di sisi pintu syurga tanpa dihisab dan disiksa, mereka ialah ;

1. Orang alim yang mengamalkan ilmunya.
2. Seorang haji yang sewaktu menunaikan haji tidak melakukan sebarang perkara     yang membatalkan hajinya.
3. Orang yang mati syahid di dalam peperangan.
4. Dermawan yang mengusahakan harta yang halal dan membelanjakannya di jalan Allah  tanpa riya.

Keempat-empat golongan ini berebut-rebut untuk mendahului memasuki syurga, kemudian Allah memerintahkan kepada Jibrail A.S. menghakimi mereka.

Berkata Jibrail A.S. kepada orang mati syahid, “Apakah yang telah kamu lakukan sewaktu  di dunia sehingga kamu hendak masuk ke syurga?”

Berkata orang yang mati syahid, “Aku telah terbunuh dalam peperangan kerana mencari keredhaan Allah.”

Berkata Jibrail A.S., “Dari siapa kamu mendapat tahu tentang pahala orang yang mati syahid?”

Orang yang mati syahid menjawab,”Aku mendengar daripada alim ulama.”

Berkata Jibrail A.S. lagi, “Jagalah kesopanan, jangan kamu mendahului guru yang mengajar kamu.”

Kemudian Jibrail A.S. bertanya kepada yang mengerjakan haji, “Apakah yang kamu telah lakukan di dunia dahulu sehingga kamu hendak masuk ke syurga?”

Berkata yang berhaji,”Aku telah menunaikan haji semata-mata kerana Allah.”

Berkata Jibrail A.S., “Siapakah yang memberitahu kamu tentang pahala haji?”

Berkata yang berhaji, “Aku mendengar dari alim ulama.”

Berkata Jibrail A.S. lagi, “Jagalah kesopananmu, jangan kamu mendahului guru yang mengajar kamu.”

Berkata Jibrail A.S. kepada penderma pula, “Apakah yang kamu lakukan sewaktu kamu di dunia dulu?”

Menjawab si penderma, “Aku telah banyak menderma semata-mata untuk mendapatkan keredhaan Allah S.W.T.”

Jibrail A.S. berkata lagi, “Siapakah yang memberitahumu tentang pahala orang yang menderma kerana Allah?”

Berkata si perderma, “Aku mendengarnya dari para alim ulama.”

Maka Jibrail A.S. pun berkata, “Jagalah kesopananmu, jangan kamu mendahului guru yang mengajar kamu.”

Kemudian orang alim berkata, “Ya Tuhanku, tidaklah boleh aku menghasilkan ilmu kecuali dengan sebab sifat kasih dermawan dan kebaikan orang yang dermawan itu.”

Lalu Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud, “Telah benar kata si alim itu, bukakanlah pintu syurga supaya si dermawan masuk dahulu. Kemudian barulah orang-orang lain masuk.”

Nabi Muhammad S.A.W. telah bersabda, “Keutamaan orang alim di atas ahli ibadah itu seperti keutamaan saya di atas orang yang paling rendah di antara kamu.”

Allah S.W.T. berfirman, maksudnya, “Aku Maha Berilmu dan Aku suka kepada orang yang berilmu.”

Al Hassan r.a. berkata, “Tinta para ulama itu ditimbang pada hari kiamat dengan darah orang-orang mati syahid, dan tinta para ulama akan menjadi lebih berat daripada darah para syuhada.”

Rasulullah S.A.W. bersabda, “Jadilah engkau orang alim (yang mengajar) atau orang yang belajar atau orang yang mendengar (pelajaran). Janganlah engkau menjadi orang yang keempat, akan rosaklah engkau.”

Orang bertanya kepada Rasulullah S.A.W., “Amal apakah yang paling utama?”

Rasulullah S.A.W. menjawab, “Berilmu tentang Allah.”

Sabda Rasulullah S.A.W. lagi, “Sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan kepada keturunan anak-anak  Adam lapan perkara, dan dari lapan itu empat perkara bagi penghuni syurga, iaitu:

1. Wajah yang manis dan berseri-seri.
2. Tutur kata yang bersopan.
3. Hati yang bertaqwa kepada Allah.
4. Tangan yang dermawan.

Empat perkara bagi penghuni neraka:

1. Muka yang muram.
2. Tutur kata yang keji.
3. Hati keras yang engkar.
4. Tangan yang kedekut (bakhil).


Sabda Rasulullah S.A.W., “Sendi tegaknya dunia adalah disebabkan empat perkara:

1. Dengan berilmunya para ulama.
2. Dengan keadilan orang yang menjadi pemerintah.
3. Dengan orang kaya yang dermawan.
4. Dengan doanya orang yang fakir.”

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

Busana Muslimah; antara Mode & Etika

Busana Muslimah; antara Mode & Etika

Agama tidak pernah melarang manusia untuk mengikuti mode. Karena mode dan seni adalah salah satu pengejawantaan dari budaya. Sedang budaya adalah bagian primer dari kehidupan manusia, dimana tanpa budaya manusia tidak akan dapat menuju kesempurnaan yang diidamkan oleh hati sanubari setiap manusia berakal sehat. Akan tetapi, Islam adalah agama yang hendak membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan dan keterkekangan dari segala macam belenggu, termasuk diperbudak dan dikekang oleh mode. Mode tidak lebih hanya sekedar sarana untuk mencapai kesempurnaan, bukan tujuan utama.

Prolog

Sejarah busana lahir seiring dengan dengan sejarah peradaban manusia itu sendiri. Oleh karenanya, busana sudah ada sejak manusia diciptakan. Kesimpulan ini dapat diambil dari firman Allah swt yang berbunyi : “Wahai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syetan sebagaimana ia telah mengeluarkan ibu-bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya…”.[3]

Busana memiliki fungsi yang begitu banyak, dari menutup anggota tertentu dari tubuh hingga penghias tubuh. Sebagaimana yang telah diterangkan pula oleh Allah dalam al-Qur’an, yang mengisyaratkan akan fungsi busana; “Wahai anak Adam (manusia), sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi (aurat) tubuhmu dan untuk perhiasan…”.[4]

Dari tata cara, bentuk dan mode berbusana, manusia dapat dinilai kepribadiannya. Dengan kata lain, cara berbusana merupakan cermin kepribadian seseorang.

Konsekwensi sebagai manusia agamis adalah berusaha semaksimal mungkin untuk melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan agamanya. Salah satu bentuk perintah agama Islam adalah perintah untuk mengenakan busana yang menutup seluruh aurat yang tidak layak untuk dinampakkan pada orang lain yang bukan muhrim.[5] Dari situlah akhirnya muncul apa yang disebut dengan istilah “Busana Muslimah”.

Busana muslimah adalah busana yang sesuai dengan ajaran Islam, dan pengguna gaun tersebut mencerminkan seorang muslimah yang taat atas ajaran agamanya dalam tata cara berbusana. Busana muslimah bukan hanya sekedar symbol, melainkan dengan mengenakannya, berarti seorang perempuan telah memproklamirkan kepada makhluk Allah akan keyakinan, pandangannya terhadap dunia, dan jalan hidup yang ia tempuh, dimana semua itu didasarkan pada keyakinan mendalam terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Kuasa.

Budaya dan Esensi Manusia

Berbicara tentang mode, berarti berbicara tentang seni. Berbicara tentang seni berarti berbicara tentang budaya. Sedang pokok bahasan budaya berarti tidak lepas dari pembicaraan tentang manusia, sebagai pelaku sekaligus obyek budaya. Atas dasar itulah, dapat diambil konklusi bahwa, berbicara tentang mode tidak akan lepas dari pembicaraan tentang esensi manusia sebagai pondasi dasarnya, dan kesempurnaan manusia sebagai tujuan akhir segala bentuk ketaatan. Semua ini memiliki hubungan vertikal yang sangat erat kaitannya antara satu dengan lainnya. Melihat dari fenomena keragaman budaya yang ada di dunia ini, yang terkadang antara satu budaya dengan yang lain saling bertentangan, maka perlu ada parameter khusus yang menjadi tolok ukur persesuain budaya-budaya yang ada dengan esensi dasar manusia. Sehingga dari situ akan jelas, manakah budaya yang masih sesuai dengan esensi dasar manusia, dan manakah yang telah menyimpang darinya?

Manusia memiliki dua dimensi; dimensi lahiriah (bersifat materi), dan dimensi batiniah (non-materi) yang biasa disebut dengan jiwa/ruh. Menurut pandangan dunia agamis, kesempurnaan sejati manusia bukan terletak pada kesempurnaan sisi materi, akan tetapi, kesempurnaan sisi non-materilah yang menjadi tolok ukur kesempurnaan manusia. Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa, esensi dasar manusia pun terletak pada sisi non-materi dan jiwanya. Maka, kesempurnaan manusia terletak pada kesempurnaan jiwa dan ruhnya, bukan terletak pada kesempurnaan sisi materinya. Namun, hal ini bukan berarti sisi materi manusia harus diterlantarkan. Karena bagaimanapun juga, sisi materi dan lahiriah manusia pun memiliki peran penting dalam memberikan lahan pada kesempurnaan jiwanya.

Tanpa dimensi materi, kesempurnaan sejati manusia –yang terletak pada sisi non-materi- tidak akan terwujud. Terbukti, semua ajaran agama tidak akan terlaksana tanpa bantuan sisi zahir dan materi manusia. Sisi non-materi yang menjadi esensi terpenting dari manusia adalah; akal dan fitrah. Dengan dua hal itulah akhirnya manusia dinobatkan sebagai makhluk yang paling utama dari sekian banyak makhluk-makhluk Tuhan. Akal yang lebih banyak berfungsi untuk membedakan baik dan buruk, dan fitrah yang selalu menyeru kepada kebenaran, kebaikan, keindahan dan kesempurnaan, adalah modal utama kesempurnaan manusia. Jika dua hal itu diterlantarkan, niscaya manusia tidak layak disebut sebagai manusia seutuhnya.

Agama tidak pernah melarang manusia untuk mengikuti mode. Karena mode dan seni adalah salah satu pengejawantaan dari budaya. Sedang budaya adalah bagian primer dari kehidupan manusia, dimana tanpa budaya manusia tidak akan dapat menuju kesempurnaan yang diidamkan oleh hati sanubari setiap manusia berakal sehat. Akan tetapi, Islam adalah agama yang hendak membebaskan manusia dari berbagai bentuk perbudakan dan keterkekangan dari segala macam belenggu, termasuk diperbudak dan dikekang oleh mode. Mode tidak lebih hanya sekedar sarana untuk mencapai kesempurnaan, bukan tujuan utama. Lantas mode, seni dan budaya yang bagaimanakah yang mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaan manusia? Hanya budaya yang bersumber dari akal sehat dan fitrah suci manusia saja yang mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaan sejatinya, bukan dari nafsu hewani yang hanya menjurus pada bidang material saja. Dari situ, dapat diambil benang merah bahwa, segala jenis mode yang bersumber dari akal dan fitrahlah yang mampu menghantarkan manusia untuk dapat menuju kesempurnaannya sebagai manusia. Dengan kata lain, manusia akan menjadi ‘manusia’ dengan budaya akal dan fitrah. Sebaliknya, manusia akan menjadi ‘hewan’ jika hanya menitikberatkan pada budaya hewani yang lebih menonjolkan keindahan zahir dan sisi glamournya saja.[6] Sebagaimana yang telah diketahui dalam pokok-pokok bahasan teologi bahwa, gabungan antara ajaran akal dan fitrah ini hanya terwujud pada ajaran agama. Dan karena agama di sisi Allah hanyalah Islam,[7] maka mode, seni dan budaya yang islami-lah yang mampu menghantarkan manusia kepada kesempurnaannya.

Dari penjelasan di atas, akhirnya muncul apa yang disebut dengan mode islami, seni islami dan budaya Islam yang “Busana Muslimah” adalah salah satu bagian dari wujud luaran (ekstensi) konsep tersebut. Walaupun dalam perwujudan busana muslimah akan berbeda dan dapat disesuaikan dengan kultur wilayah masing-masing, namun terdapat kriteria universal dan batasan umum sebuah busana masuk kategori busana muslimah, antara lain; bukan busana yang membuat ‘menarik perhatian’ atau ‘aneh’ baik dari sisi warna maupun bentuk (syuhrat), tidak transparan, dan lain sebagainya. Semua ini kembali kepada hikmah yang tersirat dalam hijab islami, bahwa hijab berfungsi sebagai penjagaan, bukan bentuk pemenjaraan dan pengekangan. Dengan hijab islami, wanita dikenal dari sisi insaniahnya, bukan sisi gendernya. Dengan hijab islami, wanita dipandang dengan pandangan Ilahi bukan pandangan syahwani.

Etika dan Agama

Sebagaimana klaim konsep Islam sebagai agama paripurna, maka konsekuensinya adalah agama tersebut harus mencakup segala aspek kehidupan manusia. Oleh karenanya, tiada satu fenomena pun di alam ini kecuali terdapat hukumnya dalam agama tersebut, termasuk masalah etika dan budaya. Di sisi lain, dilihat dari segi istilah, kata etika mencakup tata krama (adab) yang disesuaikan dengan kearifan lokal dan adat istiadat setempat. Etika juga mencakup akhlak yang banyak dipengaruhi oleh norma-norma agamis yang bersifat global. Etika dengan pengertian pertama di atas tadi, selama tidak bertentangan dengan ajaran dan norma agama, maka selayaknya dijunjung tinggi dan dilestarikan. Jadi, sebagai orang agamis, hanya norma dan ajaran agamalah yang menjadi filter atas tata krama dan adat istiadat lokal. Hal itu dikarenakan, keyakinan kita akan kebenaran agama dan konsekwensi kita sebagai pemeluk agama Ilahi. Sedang berkaitan dengan etika yang berarti akhlak, dimana Islam sendiri sangat menjunjung tinggi akhlak ini -sehingga disebut sebagai penyebab diutusnya Rasul Islam sebagai penyempurna akhlak mulia- maka dapat dipastikan ia sangat sesuai dengan ajaran akal dan seruan fitrah.

Etika dalam pengertian ini bersifat universal, global dan tidak dipengaruhi oleh batasan-batasan geografis, budaya lokal dan adat istiadat setempat. Dari sini jelaslah bahwa antara etika –dengan dua pengertian di atas- tidak mungkin terpisah dengan ajaran agama, harus tetap “dalam bingkai ajaran agama” dengan arti yang luas.[8] Usaha apapun untuk memisahkan antara etika dan agama dengan mendahulukan salah satu dari yang lainnya, sama halnya dengan pencampakkan agama itu sendiri. Dari sini akhirnya, antara berbusana muslimah dengan menjaga etika Islam pun harus ada keselarasan.

Penutup

Dari tulisan ringkas ini dapat diambil kesimpulan bahwa, mode, seni, budaya dan etika yang masih masuk dalam bingkai ajaran agamalah yang sanggup menghantarkan manusia pada kesempurnaan hakiki sebagai manusia, termasuk dalam masalah mode busana yang berfungsi menjaga etika kepada Allah dan lingkungan sekitar, terkhusus sesama komunitas manusia. Dari sini pula akhirnya muncul apa yang disebut dengan “Mode Busana Muslimah” yang masih masuk dalam koridor ajaran agama Islam. Dan dikarenakan ajaran agama Islam bersumber dari Dzat Yang Maha Suci dan Sakral,[9] maka mode busana yang bersandar pada ajaran sakral itu pun bersifat sakral pula. Jadi, segala bentuk pelecehan terhadap busana muslimah –dengan berbagai modenya yang masih masuk kategori busana muslimah- sama halnya dengan melecehkan ajaran agama Allah. Selain itu, menyebarkan budaya busana muslimah, sama halnya dengan menyebarkan salah satu ajaran Allah. []

Oleh: Ahmad Ridha
Penulis: Mahasiswa Pasca Sarjana Jurusan Theologi Universitas Mohammed el Khamis Rabat Kerajaan maroko.

Ket:
Makalah ini disampaikan dalam acara diskusi tentang “Busana Muslimah; antara Mode dan Etika” di aula Hotel Shafa – Qom, yang diselenggarakan pada tanggal 27-Juli-2006 oleh Himpunan Pelajar Indonesia Republik Islam Iran.
Pembanding Saudari Ratih Sanggarwati (Model, Perancang Busana Muslimah dan Penyiar TV)
[3] QS al-A’raf: 27
[4] QS al-A’raf: 26
[5] QS an-Nur: 31 dan al-Ahzab: 59
[6] QS Muhammad: 12
[7] QS Aali-Imran: 19 dan 85
[8] Ungkapan “selama dalam bingkai ajaran agama” di atas tadi tidak boleh dipahami secara sempit dan tekstual, sebagaimana yang dilakukan sebagian kelompok muslim. Karena hal itu selain akan menyebabkan keluar dari maksud dan tujuan Penurun syariat, juga terjadinya penyimpangan dari hikmah penurunan syariat. Semua mode, seni dan budaya selama tidak ada pelarangan oleh agama maka dihukumi boleh (mubah), karena hal itu masuk kategori taqrir (persetujuan) .
[9] QS al-Baqarah: 138

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

Suamiku, bacakan Riyadlush Shalihiin untukku….

Suamiku, bacakan Riyadlush Shalihiin untukku….

“Suamiku tercinta …, Sungguh rumah kita sepi dari majelis keimanan. Aku ingin engkau membacakan sebuah hadits setiap hari kepada kami dari kitab Riyaadlush Shaalihiin. Aku ingin kami bisa mendengar suara lantangmu menerangkan sirah Rasul Shallallaahu ‘Alayhi Wasallam dari kitab-kitab sirah. Kapan engkau memulainya, suamiku ? Jangan katakan besok, tapi sekarang. Aku akan akan menyiapkan buku untukmu. Beri kami kesempatan untuk mendengar suaramu, menikmati duduk bersamamu, dan semua anak kita bergembira dengan sifat kebapakanmu (Rasa’il Mutabaadilah baina Zaujain, ‘Abdul Maalik Al-Qaasim)

Ada fenomena yang cukup mengkhawatirkan di kalangan para Ummahat dewasa ini. Setelah menikah dan memiliki anak-anak, para Ummahat seringkali tidak sempat atau tidak diberi kesempatan untuk memperoleh ilmu syar’i yang merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Para ummahat seringkali mengeluh dengan gersangnya rumah dari limpahan cahaya ilmu dan keimanan. Banyak sebab mengapa hal itu terjadi. Padahal dulunya, ketika mereka masih gadis, mereka sangat aktif menghadiri majelis-majelis ‘ilmu. Bahkan merekapun aktif berdakwah menyampaikan ilmu nya di kalangan mereka dan keluarga mereka. Keseharian mereka dulunya dipenuhi oleh lautan ilmu yang bermanfaat. Namun lihatlah, setelah berkeluarga, fenomena futur melanda mereka. Adakah yang salah dari mereka ?

Salah satu penyebab utama futurnya para Ibu / Ummahat dari majelis-majelis ilmu justeru banyak disebabkan oleh sikap dan perilaku sang suami yang tidak peduli dengan ilmu dan agama yang dimiliki isterinya. Dulu ketika akan meminang, para Ikhwan seringkali menginginkan calon isterinya adalah seorang akhwat shalihah yang aktif mengaji, bahkan kalau bisa seorang hafizhoh dan ‘alimah. Setelah menikahi akhwat tersebut, sang Ikhwan yang kini menjadi suami akhwat tersebut seringkali asyik dengan dirinya sendiri, atau terlampau sibuk berdakwah kepada orang lain. Dia lupa atau mungkin enggan dan malas mengajari isterinya sendiri, karena mungkin menyangka bahwa agama isterinya telah cukup dengan ilmu yang dimilikinya. Padahal hal itu bertentangan dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri dan keluargamu dari neraka yang bahan bakarnya menusia-manusia dan batu-batu” (Q.S At-Tahrim : 6).

Ayat ini secara tegas memerintahkan orang-orang yang beriman untuk menjaga diri mereka, kemudian keluarga mereka, sebelum kepada orang lain, dari dosa dan kemaksiatan kepada Allah.

Alangkah banyaknya, isteri yang ketika meninggalkan rumah orang tua menuju rumah suami merupakan wanita yang santun, pemalu, dan tekun beribadah. Namun tidak lama kemudian, ia mencampakkan rasa malu dan kesantunannya itu karena pengaruh, penyimpangan dan kebodohan suaminya (Min Akhtho’il Azwaaj, Syaikh Muhammad Ibrahim Al-Hamd).

Para suami seringkali memanjakan isterinya dengan harta benda dan membiarkan isterinya hidup dalam kemaksiatan dengan menonton TV, radio atau majalah-majalah yang mengandung kerusakan. Maka jadilah para suami mengeluh dengan perilaku isterinya yang buruk, padahal hal itu banyak disebabkan oleh sikap dan tingkah laku suaminya sendiri.

Fenomena ini tidak jarang juga terjadi di kalangan para thulabul ‘ilmi (penuntut ilmu), bahkan di kalangan para da’i sekalipun. Ada seorang isteri ustadz yang mengeluh karena sang suami jarang bertemu dengan dirinya karena sangat sibuk berdakwah dan sering pergi ke luar kota. Hingga jangankan mengajari dirinya dengan ilmu yang banyak manfaatnya seperti bahasa ‘Arab, Ilmu Hadits, Ulumul Qur’an dan sebagainya, bahkan untuk ilmu yang pokok-pun seperti Ilmu Tauhid dan Ibadah tak jarang sang suami melalaikan dirinya. Padahal dulunya dia mengidamkan untuk dapat diajari suaminya yang juga seorang da’i ketika mengerima pinangan dari calon suaminya tersebut. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam kita ketahui waktunya sebagian besar dihabiskan untuk mendakwahi umatnya. Tapi hal itu tidak menjadikan Beliau terhalang dan melupakan untuk mengajari isteri-isterinya. Beliau senantiasa mengajari dan memotivasi ibadah bagi para isteri nya. Banyak tersebar riwayat bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam mengajari isteri-isteri dan anak-anaknya.

Diriwayatkan dari ‘Urwah bi Zubair yang berkata “Aku tidak melihat ada seseorang yang lebih mengerti tentang fiqih, kedokteran dan sya’ir daripada ‘Aisyah Radliyallaahu ‘anha” Saksikanlah wahai para suami, tidak mungkin terlahir seorang isteri yang faqih dan shalihah kecuali dari binaan-binaan yang berkesinambungan di dalam kehidupannya sehari-hari.

Jadi hendaklah para suami jangan asyik dengan dirinya sendiri. Bukankah suatu yang teramat indah manakala suami mengajak isterinya berjalan beriring bersama mendatangi majelis ‘ilmu, menyimaknya bersama, dan mendiskusikan ‘ilmu yang baru diperolehnya bersama setibanya di rumah. Dan bukankah suatu keindahan dan kebahagiaan yang tiada tara manakala sang suami mengajarkan isterinya tentang Ilmu syar’i di waktu-waktu yang senggang, mungkin sambil bersenda gurau diantara mereka. Membantu melepaskan kepenatan sang isteri setelah seharian penuh mengurus rumah dan anak-anaknya, dan saling memotivasi untuk ta’at dan rajin beribadah. Sungguh Allah akan semakin menanamkan rasa kasih sayang diantara keduanya. Belajar dan membaca buku sendiri tentu berbeda nuansanya dengan saling membacakan dan mengajari. Karena dengan adanya interaksi ini, maka akan tumbuh motivasi belajar dan ibadah yang jauh lebih kuat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Sa’id Radliyallaahu ‘anhuma yang berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda: “Jika seorang suami bangun di malam hari, membangunkan isterinya, kemudian keduanya shalat dua raka’at, maka keduanya ditulis dalam golongan laki-laki dan wanita yang banyak berdzikir kepada Allah” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahiihul Jami’)

Dengan demikian, maka dengarkanlah para Suami yang mengharapkan ridla dan karunia Allah berupa isteri-isteri yang shalihah. Jangan pernah biarkan isteri-isterimu terkurung dalam kebodohan dan terkungkung dalam kejumudan di rumah-rumahmu. Ajarkanlah mereka tentang agama ini dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

Berikanlah kesempatan pada isteri-isterimu untuk mereguk ‘Ilmu yang bermanfaat sebanyak-banyaknya, karena Nabi Shallallahu ‘alayhi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dikehendaki suatu kebaikan dari Allah, maka Allah akan memahamkan dirinya tentang Agama (Tafaqquh Fiddiin)” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sisihkan sebagian hartamu untuk membelikan buku, kaset dan video ceramah yang bermanfaat dari para ‘ustadz dan ‘ulama untuk didengar dan ditonton oleh isterimu. Serta jauhkan para isterimu dari hal-hal yang melalaikan dirinya selama di rumah. Semoga Allah memudahkan urusan ini bagi kita semua.

Wallaahul Musta’an. (Disadur dari kutaib “Asykuu ilayka Zauji” karya Syaikh ‘Ishom bin Muhammad Asy-Syarif)

Sumber: zh4firah@yahoo. co.id

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes

Kisah Islamnya Syeikh Yusuf Estes

Sabtu, 22 Maret 2008

Awalnya ia bekerja sebagai musisi di gereja sekaligus penginjil. Namun kini, ia berkeliling dunia dan telah banyak mengislamkan orang

Hidayatullah.com–Dr. Yusuf Estes lahir tahun 1944 di Ohio, AS. Tahun 1962 hingga 1990 ia bekerja sebagai musisi di gereja, penginjil sekaligus mengelola bisnis alat musik piano dan organ. Awal 1991 ia terlibat bisnis dengan seorang pengusaha Muslim asal Mesir bernama Muhammad Abd Rahim. Awalnya ia bermaksud meng-Kristenkan pria Mesir itu. Namun akhirnya ia justru memeluk Islam diikuti oleh istri, anak-anak, ayah serta mertuanya. Ia menguasai bahasa Arab secara aktif, demikian juga ilmu Al-Quran selepas belajar di Mesir, Maroko dan Turki. Sejak 2006, Yusuf Estes secara regular tampil di PeaceTV, Huda TV, demikian pula IslamChannel yang bermarkas di Inggris. Ia juga muncul dalam serial televisi Islam untuk anak-anak bertajuk “Qasas Ul Anbiya” yang bercerita tentang kisah-kisah para Nabi.

Yusuf terlibat aktif di berbagai aktifitas dakwah. Misalnya, ia menjadi imam tetap di markas militer AS di Texas, dai di penjara sejak tahun1994, dan pernah menjadi delegasi PBB untuk perdamaian dunia. Syekh Yusuf telah meng-Islam-kan banyak kalangan, dari birokrat, guru, hingga pelajar. Berikut kisah Syekh Yusuf sebagaimana dituturkannya di situs www.islamtomorrow.com. Di bawah ini adalah penuturannya.

***

Nama saya Yusuf Estes. Saat ini dipercaya memimpin sebuah organisasi bagi Muslim asli Amerika. Kini sepanjang hidup saya berikan untuk Islam. Saya berkeliling dunia untuk memberikan ceramah dan berbagi pengalaman bagaimana Islam hadir dalam diri saya. Organisasi kami terbuka untuk berdialog dengan berbagai kalangan. Misalnya para pemuka agama seperti pendeta, rabi (ulama kaum Yahudi-red) dan lainnya dimanapun mereka berada.

Kebanyakan medan kerja kami adalah kawasan institusional seperti pusat militer, universitas, hingga penjara. Tujuan utama adalah untuk menunjukkan Islam yang sebenarnya dan memperkenalkan bagaimana hidup sebagai seorang Muslim. Meskipun Islam saat ini berkembang sebagai salah satu agama terbesar kedua setelah Kristen, namun masih banyak saja terjadi misinformasi tentang Islam. Misalnya Islam selalu diidentikkan dengan hal berbau Arab.

Banyak orang bertanya pada saya bagaimana mungkin seorang pendeta atau pastur Kristen bisa masuk Islam. Padahal tiap hari kami menyampaikan kebenaran Kristen. Belum lagi dengan berita-berita negatif tentang perilaku buruk Islam di media. Pasti tidak ada orang yang tertarik dengan Islam. Pernah seorang pria Kristen bertanya pada saya melalui e-mail kenapa dan bagaimana saya meninggalkan Kristen dan masuk Islam. Saya berterima kasih pada semua yang bersedia mendengar kisah saya berikut ini. Semoga Allah ridha.

Keluarga Kristen taat

Saya lahir di Ohio, besar dan bersekolah di Texas. Dalam tubuh saya mengalir darah Amerika, Irlandia dan Jerman hingga sering disebut WASP (white anglo saxon protestant). Keluarga kami adalah penganut Kristen yang sangat taat. Tahun 1949, ketika masih di bangku SD kami pindah ke Houston, Texas. Saya dan keluarga sering hadir secara rutin ke gereja. Malah saya dibaptis pada usia 12 tahun di Pasadena, masih Texas.

Sebagai seorang remaja, saya punya keinginan untuk bisa berkunjung ke banyak gereja di berbagai tempat guna menambah pengalaman dan pengetahuan Kristen. Kala itu saya benar-benar haus untuk mempelajari ajaran Kristen. Tidak hanya ajaran Kristen, bahkan ajaran Hindu, Budha, Yahudi,hingga Metafisika juga saya pelajari. Hanya satu ajaran yang saya tidak begitu serius dan bahkan tidak menaruh perhatian sama sekali, yakni Islam.

Saya suka musik terutama klasik. Hingga saya sering dapat undangan menyanyi di berbagai gereja. Di kisaran tahun 1960-an saya mengajar musik dan tahun 1963 punya studio sendiri di Laurel, Maryland yang saya beri nama “Estes Music Studios.” Hingga tahun 1990 atau hampir 30 tahun lamanya saya bersama dengan ayah mengelola bisnis entertainment. Kami juga punya toko alat musik piano dan organ di Texas, Oklahoma hingga Florida.

Ayah dulu pernah aktif dalam aneka kegiatan gereja. Dari sekolah minggu hingga aktifitas penggalangan dana bagi pengembangan sekolah Kristen. Dia sangat menguasai Bibel dan juga terjemahannya. Melalui ayah pula saya belajar Bibel dalam berbagai versi dan terjemahan.

Ayah saya, seperti kebanyakan pendeta lainnya, selalu mendapat pertanyaan:”Apakah Tuhan yang menulis Bibel?” Biasanya jawabannya adalah: “Bibel adalah rangkaian kata inspirasi seorang lelaki yang berasal dari Tuhan.” Itu bermakna, menurut saya, manusialah yang menulis Bibel. Tentu saja, selama bertahun-tahun, jawaban itu menimbulkan banyak tanggapan bahkan penolakan. Namun ayah selalu menambahkan,”Akan tetapi (Bibel) itu tetap kata dari Tuhan yang diilhamkan kepada manusia.” Begitulah.

Mencari Tuhan

Beranjak dewasa dan memiliki usaha sendiri, akhirnya saya “menyerah”. Saya tidak mungkin jadi seorang pendeta. Saya takut bermental hipokrit. Saya belum bisa menerima tentang konsep Tuhan itu satu namun pada saat yang sama Dia menjadi “Tiga” atau Trinitas. Saya selalu bertanya-tanya, jika Dia “Tuhan Bapa” bagaimana mungkin pada saat yang sama juga menjadi “Anak Tuhan?”

Selama bertahun-tahun saya mencoba mencari Tuhan dengan berbagai cara. Saya pelajari dan cek dalam agama Budha, Hindu Metafisika, Taoisme, Yahudi dan banyak lagi. Bertahun-tahun saya pelajari hingga mendekati usia ke-50 saya belum menemukan siapa Tuhan yang sebenarnya. Lalu saya mencoba bergaul dengan banyak kalangan, termasuk dengan para evangelis dan penginjil yang punya pengalaman di berbagai tempat dan negara. Kami sering melakukan perjalanan jauh. Namun tidak ada jawaban yang memuaskan. Tidak ada yang mau menjawab siapa yang menulis Bibel sebenarnya, kenapa Bibel banyak versi padahal bukunya sama, kenapa banyak sekali terdapat kesalahan versi terkini dengan versi terdahulu. Dan, bahkan, dalam berbagai versi Bibel, saya tidak menemukan satupun kata “Trinitas.”

Kolega saya akhirnya tidak mampu meyakinkan saya. Mereka lelah mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan-pertanyaan “nyeleneh” tersebut. Sampai akhirnya datanglah satu kejadian yang merupakan awal perjumpaan saya dengan Islam. Kejadian yang akhirnya meruntuhkan semua konsep-konsep dan keyakinan-keyakinan yang telah membebani saya selama bertahun-tahun. Solusi dan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya datang justru dengan cara, yang menurut saya, aneh dan ganjil.

Jumpa pria Mesir

Ceritanya, awal 1991 ayah mencoba menjalin bisnis dengan seorang pengusaha dari Mesir. Ia meminta saya untuk bertemu dengan pria Mesir itu. Bagi saya inilah kali pertama mengadakan kontak bisnis internasional. Yang saya tahu tentang Mesir adalah piramid, patung Sphinx, dan sungai Nil. Hanya itu. Lalu ayah menyebut bahwa pria itu seorang Muslim.

Apa? Islam? Saya tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Menjalin hubungan dengan orang Islam? Spontan batin saya menolak. Tidak, no way! Saya mengingatkan ayah agar membatalkan kontak dengan pria itu dengan menyebut hal-hal negatif tentang orang Islam. Orang Islam teroris, pembajak, penculik, pengebom, dan entah apa lagi. Saya sebut juga mereka (orang Islam) tidak percaya dengan Tuhan, tiap hari kerjanya mencium tanah lima kali sehari, dan menyembah kotak hitam di tengah padang pasir (maksudnya Ka’bah-red.). Tidak! Saya tidak mau jumpa orang itu.

Ayah tetap mendesak. Ia menyebut orang itu sangat ramah dan baik hati. Akhirnya saya menyerah dan bersedia bertemu dengan pengusaha Islam tersebut. Tapi untuk pertemuan tersebut saya buat semacam “aturan” khusus. Antara lain; saya mau bertemu dengannya pada hari Minggu setelah kegiatan di gereja, sehingga punya “kekuatan” kala bertemu nanti. Saya musti bawa Bibel, pakai baju jubah dan peci ala gereja bertuliskan “Yesus Tuhan Kami.” Istri dan kedua anak perempuan saya juga harus datang di saat pertemuan pertamakali dengan orang Islam itu.

Tibalah hari H. Ketika saya masuk toko, langsung saya tanya pada ayah mana orang Islam itu. Ayah menunjuk seorang laki-laki di dekatnya. Mendadak saya dilanda kebingungan. Ah sepertinya pria itu bukan si Islam yang dimaksud. Hati saya membatin. Penampilannya tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Laki-laki asal Mesir itu tidak berjanggut, bahkan tidak punya rambut sama sekali alias botak. Ia tidak bersorban dan tidak pula berjubah. Malah pakai jas.

Spontan saya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Mengamati orang-orang yang hadir. Saya mencari-cari orang yang pakai jubah dengan surban melilit di kepalanya, berjenggot lebat serta alis mata tebal. Khas orang Arab. Namun tidak ada seorangpun yang memenuhi kriteria saya. Yang lebih mengejutkan, pria itu malah menegur saya dengan sangat ramah. Ia menyambut dan menjabat tangan saya dengan hangat. Namun saya tidak terkesan dengan tingkahnya itu. Hanya ada satu pikiran, yakni bagaimana meng-Kristenkan pria Mesir itu.

Interogasi

Selepas perkenalan singkat, saya pun mulai “menginterogasi” pria Mesir tersebut. Anda percaya dengan Tuhan? tanya saya mengawali. Pria itu menjawab ya. Saya mencocornya lagi dengan rentetan pertanyaan lain seperti keyakinan Islam kepada Nabi Adam, Ibrahim. Musa, Daud, Sulaiman hingga Isa Al-Masih. Saya dibuat terpana kala mendengar jawabannya. Ia menjelaskan Islam percaya dengan Nabi-Nabi yang saya sebut tadi. Bahkan makin ternganga kala diberitahu Islam juga beriman dengan salah satu Kitab Allah yakni Injil dan Nabi Isa adalah salah satu utusan-Nya. Fantastik!

Yang bikin saya syok adalah tatkala mengetahui ternyata Islam juga percaya dengan Almasih (baca: Nabi Isa). Dalam Islam ternyata Isa diimani; sebagai utusan Tuhan dan bukan Tuhan, lahir tanpa seorang ayah, ibunya adalah Maryam. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Ah padahal sebelumnya saya sangat benci dengan Islam. Kini saya harus mempelajarinya? Bagaimana mungkin?

Akhirnya kami jadi sering bertemu dan berdiskusi terutama tentang keimanan. Pria ini sangat lain. Ramah, kalem, dan terkesan pemalu. Ia mendengar dengan serius setiap kata-kata saya dan tidak menyela sedikitpun. Lama kelamaan saya jadi menyukai pria itu. Namun waktu itu yang masih terpikir oleh saya adalah mencari cara untuk mengajaknya masuk Kristen. Orang ini sangat potensial menurut saya.

Menjadi mitra bisnis

Saya akhirnya setuju untuk menjalin bisnis dengan pengusaha Mesir itu. Kami sering mengadakan perjalanan bisnis di sepanjang kawasan Utara Texas. Sepanjang hari kami justru banyak berdiskusi hal keyakinan Islam dan Kristen ketimbang masalah bisnis. Kami bicara tentang konsep Tuhan, arti hidup, maksud penciptaan manusia dan alam serta isinya, tentang Nabi, dan banyak lainnya lagi.

Satu ketika saya dapat kabar Muhammad bermaksud pindah rumah. Selama ini ia tinggal bersama dengan seorang temannya. Ia berencana untuk tinggal di mesjid selama beberapa waktu. Saya dan ayah mengajaknya tinggal di rumah kami saja. Ia pun setuju.

Satu ketika salah seorang teman saya –seorang pendeta- mengalami serangan jantung. Kami membawanya ke rumah sakit terdekat dan tinggal beberapa saat disana. Saya pun musti menjenguknya beberapa kali dalam seminggu. Muhammad sering saya ajak serta. Rupanya teman saya itu tidak begitu suka. Bahkan ia dengan nyata menolak berdiskusi apapun tentang Islam. Hingga satu hari datang pasien baru. Seorang pria yang kemudian tinggal satu kamar di rumah sakit dengan teman saya. Ia menggunakan kursi roda. Saya berkenalan dengan pria itu. Sekilas tampaknya pria itu seperti sedang depresi berat.

Pria di kursi roda mencari Tuhan

Akhirnya saya tahu pria itu kesepian dan depresi berat serta butuh teman dalam hidupnya. Jadilah saya mencoba mengingatkan dia tentang Tuhan. Saya kisahkan tentang Nabi Yunus yang hidup dalam perut ikan. Sendirian dalam gelap namun masih ada Tuhan bersamanya.

Selepas mendengar kisah itu, pria berkursi roda itu mendongakkan kepalanya seraya meminta maaf. Ia menceritakan bahwa ada sedikit masalah yang melandanya. Selanjutnya ia ia ingin mengakuinya kesalahannya itu di hadapan saya. Saya berujar bahwa saya bukan seorang pendeta. Pria itu justru menjawab; “Sebenarnya saya dulu seorang pendeta.”

“Apa? Saya barusan menceramahi seorang pendeta ? Saya benar-benar syok kala itu. Kenapa jadi begini? Apa yang terjadi dengan dunia ini sebenarnya?

Rupanya pendeta itu –namanya Peter Jacobs- adalah mantan misionaris yang telah berkeliling Amerika Latin dan Meksiko selama 12 tahun. Kini ia malah depresi dan butuh istirahat. Saya menawarkannya untuk tinggal di rumah kami. Dalam perjalanan ke rumah, saya berdiskusi dengan Peter tentang Islam. Saya sungguh terkejut kala diberitahu para pendeta Kristen juga belajar tentang Islam dan bahkan sebagiannya ada yang doktor di bidang itu. Ini hal baru bagi saya tentunya.

Sejak itu, Muhammad, Peter dan saya sering terlibat diskusi hingga larut malam. Satu ketika masuk ke masalah kitab-kitab suci. Saya takjub kala Muhammad menceritakan bahwa dari pertama diturunkan hingga saat ini atau selama 1400 tahun Al-Quran hanya ada satu versi. Al-Quran dihafal oleh jutaan Muslim di seluruh dunia dengan satu bahasa yaitu Arab. Sungguh mustahil. Bagaimana mungkin kitab suci kami bisa berubah-ubah dengan berbagai versi sementara Al-Quran tetap terpelihara?

Sang pendeta masuk Islam!

Satu hari pendeta Peter Jacobs ingin melihat apa yang dilakukan orang Islam di Mesjid. Ia pun ikut Muhammad. Sepulang dari sana saya bertanya pada Peter ada kegiatan apa di sana. Peter menyebut tidak ada acara apa-apa di mesjid. Mereka (orang Islam) cuma datang dan shalat saja. Tidak ada acara seremoni apapun. Apa? tidak ada ceramah atau nyanyian apapun?

Beberapa hari kemudian Peter minta ikut lagi ke mesjid. Namun kali ini lain. Mereka tidak pulang-pulang hingga larut malam. Saya khawatir sesuatu terjadi terhadap mereka. Akhirnya Muhammad kembali dengan seorang pria berjubah. Saya sungguh terkejut dengan laki-laki yang datang bersama Muhammad itu. Ia mengenakan jubah dan topi putih. Ah rupanya si Peter. Ada apa dengan kamu tanya saya. Jawaban Peter bak petir di siang bolong. Ia menyebut sudah bersyahadah. Oh Tuhan! Apa yang terjadi? Pendeta masuk Islam?

Saya benar-benar syok dan semalaman tidak bisa tidur memikirkan hal itu. Saya ceritakan kejadian tersebut kepada istri. Istri saya justru menyatakan ia juga ingin masuk Islam, karena itulah yang benar. Oh Tuhan! Saya benar-benar tidak percaya.

Saya turun ke bawah dan membangunkan Muhammad seraya minta waktu diskusi dengannya. Sepanjang malam hingga subuh kami bertukar pendapat. Muhammad minta izin shalat Subuh. Ketika itu saya mendapat firasat, kebenaran telah datang. Saya harus membuat pilihan. Lalu saya keluar rumah. Persis di belakang rumah, saya memungut sepotong papan. Lalu saya letakkan papan itu menghadap ke arah orang Islam shalat. Saya pun bersujud menghadap kiblat dan meminta petunjuk-Nya.

Sekeluarga masuk Islam

Pagi itu, pukul 11, saya bersyahadah di hadapan dua orang saksi, mantan pendeta Peter Jacobs dan Muhammad Abd. Rahman. Alhamdulillah, di usia ke-47 saya jadi seorang Muslim. Beberapa menit kemudian istri saya juga ikut bersyahadah. Ayah baru memeluk Islam beberapa bulan kemudian. Sejak itu saya dan ayah sering ke mesjid terdekat di kota kami. Ayah mertua saya akhirnya juga mengikuti kami. Di usianya yang ke-86 ia memeluk Islam. Mertua saya meninggal persis beberapa bulan selepas bersyahadah. Semoga Allah ampuni dia. Amiin.

Adapun anak-anak saya pindahkan dari sekolah Kristen ke sekolah Islam. Setelah sepuluh tahun bersyahadah, mereka telah mampu menghafal beberapa juz Al-Quran.

Sejak itu saya habiskan waktu hanya untuk Islam. Saya berdakwah ke mana-mana, hingga ke luar Amerika. Banyak sudah yang memeluk Islam. Baik dari kalangan birokrat, guru, dan pelajar dari berbagai agama. Dari Hindu, Katolik, Protestan, Yahudi, Rusia Orthodok, hingga Atheis. Saat ini saya juga mengelola sebuah website yakni Islamalways.com yang punya motto terkenal, ” where we’re always open 24 hours a day and always plenty of free parking.” (kami buka 24 jam sehari dan banyak tempat parkir gratis).

Islam telah mengubah cara saya melihat kehidupan ini dengan lebih bermakna. Semoga Allah pelihara hidayah yang sudah ada pada kita dan sebarkan hidayah itu ke seluruh alam. Amin. [Zulkarnain Jalil, kontributor www.hidayatullah.com di Aceh]

<mirza@dayinmitra.co.id>

Belajar dari Seorang Ibu Tua

Belajar dari Seorang Ibu Tua

Oleh Ineu

Sabtu lalu saya sekeluarga bergegas berangkat ke masjid Al-Falah, sebuah masjid yang didirikan oleh orang-orang Indonesia di Berlin. Khawatir acara pengajian yang biasa diadakan tiap penghujung bulan itu sudah di mulai, kami berlari-lari kecil sambil diiringi tawa riang anak-anak mengejar bis yang hampir saja meninggalkan kami.

Yah apa boleh buat, sekalipun bis bisa terkejar, kami tetap terlambat 10 menit dari acara yang ditetapkan. Eh begitu masuk masjid, ternyata suasana masih lengang, saya hanya melihat beberapa ibu dan panitia yang sedang mengecek sound system, dan lain-lain. Saya segera menyalami beberapa ibu yang sudah hadir tadi kemudian mencari posisi duduk di pojokan dekat heizung.

Tak lama seorang ibu lebih dari separuh baya (mungkin sekitar 70 tahunan) menghampiri saya. Saat melangkah, beliau berjalan tertatih-tatih, raut mukanya sedikit mengernyit, seperti menahan sakit. Saya bantu beliau duduk menyender di heizung, lalu mulailah kami saling menanyakan kabar.

Saya mengenal sosok ibu tersebut belum lama ini. Namun nama beliau sudah lebih duluan akrab di telinga saya karena seorang sahabat menceritakan tentang beliau yang rutin mengaji privat pada sahabat saya itu. Akhir-akhir ini beliau sering saya lihat mendatangi masjid saat ta’lim ibu-ibu tiap hari Selasa. Saya mendengar pula dari sahabat yang lain, beliau juga selalu datang di hari jumat.

Entah mengapa, setiap pandangan kami berpapasan, hati saya berdesir aneh…mungkin saya jadi teringat ibu saya di kampung halaman. Termasuk sore itu, saat beliau duduk begitu dekat dengan saya. Rambutnya sudah hampir semuanya memutih, namun sorot matanya masih memancarkan semangat. Ini dia, hati saya mulai dijalari rasa ingin tahu lebih banyak untuk mengenalnya.

Aha, ternyata tak lama kemudian beliau bertutur, tinggal lumayan jauh di pinggiran Berlin, bersuamikan orang Jerman dan belum dikaruniai cahaya mata. Sejenak beliau terdiam, pandangannya menerawang, lalu tak lama kemudian meraih putri saya, Nazhifa, memeluknya dengan penuh sayang. Saya merasakan ada semacam kerinduan yang sangat akan kehadiran anak dari sikapnya saat itu.

“Tahukah nak, apa yang membuat saya selalu datang kemari?”tanya beliau. Saya tersenyum, namun belum sempat menjawab, beliau segera menjawab sendiri pertanyaan yang dilontarkannya. “Saya ingin Allah meridhai upaya saya saat ini, saya akan terus belajar hingga saya bisa lancar membaca al-qur’an.” “Saya tak memiliki anak yang akan mendoakan saya bila kelak saya meninggal, saya ingin langkah kaki ini yang mesti harus selalu diseret, menjadi peringan siksa di kubur…”

Beliau kemudian menatap saya lama, ada bulir-bulir air mata di sana, saya tertunduk merasa tak kuasa membalas tatapan sedih itu. “Nak, jangan kaya’ ibu ya nak? Baru belajar al-Qur’an di usia senja gini. Bener-bener ibu menyesal, jangankan untuk menghapal surat, menghapal huruf-huruf saja, ibu sudah kepayahan…” lanjut beliau. Oya, baik-baik juga mendidik anak-anakmu ya nak, biar doa mereka menjadi cahayamu di alam kubur nanti…”

“Insya Allah ibu…terimakasih nasehatnya.” jawabku. Alhamdulillah ya Allah, Engkau mengingatkanku lewat ibu itu. Kini saya tahu, kenapa hati saya selalu berdesir tiap kali menatap beliau. Usia dan kelemahan fisiknya, tak menghalangi beliau untuk berangkat mengaji. Yah, saya merasa semangatnya yang menyala-nyala itulah yang menghentak hati saya untuk bisa sesemangat beliau (bahkan harus lebih!) dalam mempersiapkan bekal kepulangan saya dan juga keluarga ke negeri abadi.

********************

* heizung = pemanas ruangan

dari : http://www.eramuslim.com/atk/oim/8401222203-belajar-seorang-ibu-tua.htm

haryo wicaksono <haryo_java@yahoo.com>

« Older entries Newer entries »